Dampelos dan Lagu-Lagu Sangihe yang Tak Lekang Zaman

Redaksi
Kliping koran perjalanan musik Dampelos. (Dok. Johny Damar)
Kliping koran perjalanan musik Dampelos. (Dok. Johny Damar)
A-AA+A++

Barangkali tak banyak lagi generasi hari ini, terutama yang bergelut di bidang musik, mengetahui bahwa pada era 1970-an Sangihe pernah memiliki grup musik yang mewarnai panggung musik Indonesia. Grup itu mengusung lokalitas dan hingga kini masih lekat dalam ingatan masyarakat Sangihe. Namanya Dampelos Grup.

Kesempatan mengangkat kembali kiprah mereka datang dari Johny Damar (76), gitaris yang hingga kini masih aktif bermusik. Ia menjadi salah satu saksi hidup perjalanan grup tersebut dan membagikan sejumlah catatan tentang eksistensi Dampelos pada masanya.

Dampelos lahir dari gagasan Wellem Aer, yang akrab disapa Bung Gerce. Cikal bakalnya bermula dari perkumpulan pemuda berdarah Sangihe-Talaud di Jakarta pada 1968. Komunitas yang dipimpin Bung Gerce itu awalnya bergerak di bidang olahraga—karate, voli, dan lainnya. Dari sana, pada Januari 1975, terbentuklah grup musik yang kemudian diberi nama Dampelos.

Penampilan perdana sejatinya direncanakan pada perayaan ritual adat Tulude yang digelar Ikatan Kekeluargaan Indonesia Sangihe Talaud (IKIST) di Jakarta pada 1975. Namun, menurut Johny Damar, kesempatan itu batal karena kendala teknis.

“Terkendala dengan masalah teknis kami belum mendapat kesempatan untuk tampil pada waktu itu. Namun demikian, IKIST berniat untuk mengadakan festival Vocal Group (VG) dengan diikuti oleh kurang lebih tiga puluhan peserta,” ujar Johny Damar.

Festival itu terlaksana pada April 1975. Setiap peserta wajib membawakan lagu “Oh Karimako” dan satu lagu pilihan. Diikuti sekitar 30 peserta dari berbagai suku—Jawa, Ambon, Timor, dan lainnya—Dampelos Grup tampil mewakili etnis Sangihe di Jakarta. Mereka meraih juara pertama lewat lagu pilihan “Batu Timbule”, yang kemudian dikenal luas hingga kini.

Berikut susunan personel Dampelos Grup:

  1. Benny Dandel (penyanyi)
  2. Johny Damar (gitaris, bass, music arranger)
  3. Alfred Lumeno (penyanyi, pengatur dan koordinator vokal)
  4. Dantje Abast (penyanyi)
  5. Robby Frans (penyanyi)
  6. Wempy Rumende (penyanyi)
  7. Reinhard Dandel (rhythm gitaris)
  8. Berty Janis (awak kapal, hanya ikut saat festival lalu kembali bertugas)
  9. Eddy Tulis (top drummer, additional saat rekaman)
  10. Papo Parera (keyboard, additional saat rekaman)

Sebagian besar personel telah berpulang: Eddy Tulis, Papo Parera, Wempy Rumende, Benny Dandel, Berty Yanis, serta Dantje Abast yang meninggal pada 2011.

Kenangan itu masih kuat dalam ingatan Johny. “Kalau sudah bercerita tentang Dampelos, jaga malele air mata. Begitu banyak kenangan di sini,” katanya.

Sepanjang kiprahnya, Dampelos Grup merilis sejumlah album dan tampil di berbagai panggung besar di Tanah Air.

Album rekaman:

  1. Volume 1 (1975): Mawu Malondo, Gadis Tahuna, Live Show
  2. Volume 2 (1976): Bongkong Awu, Anak Kasisi
  3. Volume 3 (1977): Tahanusang Kara, Makikodake
  4. Volume 4 (1979): Sumake Pato, Porodisa
  5. Volume 5 (1980): Pedine, Suhiwang Gaghurang (feat. Hengky Merontoneng/Black Brothers)
  6. Volume 6 (1982): Dekat Kaki Yesus, Bunga Bakung; drummer diisi Tato Timur dan bass oleh Joseph

Pada periode 1975–1978, Dampelos tampil di TVRI, radio swasta, hotel-hotel berbintang di Jakarta dan Jawa Barat, acara-acara di Sulawesi Utara, gereja, serta berbagai kegiatan masyarakat Sangihe.

Agustus 1977, mereka tur ke Sulawesi Utara—Manado, Bitung, Siau, dan Tahuna. Salah satu momen paling membanggakan adalah ketika mereka dipilih panitia untuk mewakili Suluteng pada Pembukaan Taman Mini Indonesia Indah, 22 April 1975.

Memasuki 1979, Dampelos tak lagi tampil di depan publik karena kesibukan masing-masing personel. Namun, menurut Johny, pada tahun itu mereka masih sempat merekam Volume 4, 5, dan 6—yang ia sebut sebagai album perpisahan dari panggung publik.

“Pada waktu itu sempat rekaman Vol 4, Vol 5 dan Vol 6 (lagu Rohani), yang merupakan album terakhir perpisahan,” ujarnya.

Beberapa personel yang masih ada antara lain Alfred Lumeno (wiraswasta, memimpin Musik Bambu Satal di Jakarta dan aktif di kegiatan kerohanian/gereja), Reinhard Dandel (wiraswasta), dan Robby Frans (wiraswasta).

Menurut Johny, sejumlah pihak berjasa dalam perjalanan Dampelos Grup, di antaranya Gerce Aer, IKIST Jakarta, Jemmy Tiwa, Abraham Makiwawu, Alfred Baramuli, Temmy Taidi, Sukarno Salawati (wartawan Harian Sinar Harapan), Jenderal Polisi H. Medelu (Oom Sinu), GMIST Jakarta, serta Tommy Mohede (sponsor tur Sulut).

Johny berharap kisah Dampelos dapat memotivasi generasi sekarang untuk berkarya di bidang musik sekaligus mengenang kiprah mereka dalam mengangkat nama Sangihe di tingkat nasional.

“Mereka musti wajib tahu bahwa pernah ada Dampelos Group yang selalu mengangkat lagu-lagu daerah Sangihe, sebab meskipun jauh di rantau Sangihe mang su naung. Bahkan yang saya dengar sampai sekarang pun dalam rekaman yang dilakukan oleh anak-anak muda Sangihe, hampir semua lagu daerah yang mereka bawakan atau rekam adalah lagu-lagu Sangihe yang pernah kami rekam di era 70-an,” katanya.

Kini, seiring perkembangan zaman, rekaman Dampelos Grup dapat ditemukan di internet. Hampir seluruh lagu mereka telah diunggah ke YouTube.

“Beruntunglah dengan adanya media internet (seperti YouTube), maka hampir semua rekaman dari Dampelos, sudah saya upload ke YouTube,” ujar Johny Damar, yang hingga kini masih aktif bermusik, merekam lagu-lagu Sangihe, dan menjabat sebagai komite audit.

Peliput: Rendy Saselah

(Tulisan ini pernah dimuat di media barta1.com dengan judul: https://barta1.com/2018/09/15/mengenang-dampelos-grup-vokal-tenar-di-era-70-an/