Jems Meyer Edam, Kepala Sekolah di Miangas yang Menyambut Presiden di Ujung Negeri

Redaksi
Jems Meyer Edam Kepala sekolah Miangas bangga sambut Presiden di beranda utara negeri. (Foto: Ist)
Jems Meyer Edam Kepala sekolah Miangas bangga sambut Presiden di beranda utara negeri. (Foto: Ist)
A-AA+A++

Talaud—Kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Pulau Miangas, Sabtu, (9/5/2026), menjadi momen bersejarah bagi masyarakat di pulau terluar Indonesia itu. Setelah menghadiri KTT ASEAN ke-48 di Filipina, Presiden memilih datang ke Miangas sebagai simbol kehadiran negara di beranda utara Nusantara.

Di tengah euforia warga, ada sosok yang menyimpan cerita tersendiri: Jems Meyer Edam, Kepala SMK Negeri 2 Talaud. Sekolah yang ia pimpin menjadi salah satu lokasi kunjungan Presiden. Di sana, Presiden menyapa warga, bernyanyi bersama lagu Maju Tak Gentar dan Di Sini Senang Di Sana Senang, hingga berjoget bersama warga diiringi lagu daerah Tabola Bale.

Bagi Jems, bertugas di Miangas bukan sekadar penempatan kerja. Ia menyebut pengabdian di wilayah perbatasan sebagai panggilan. Sejak diangkat pada April 2023, ia sudah hampir tiga tahun memimpin sekolah di pulau yang berbatasan langsung dengan Filipina itu.

“Ditempatkan di sini bukan sekadar pilihan, tetapi amanat yang harus dilaksanakan. Sejak dulu saya memang berkerinduan mengajar di daerah terpencil atau perbatasan,” ujarnya.

Sebagai kepala sekolah, tantangan terbesar yang ia rasakan adalah tanggung jawab dalam mengambil keputusan yang berdampak besar bagi sekolah. Menurut dia, tugas tersebut menuntut kematangan mental dan sikap.

Di bawah kepemimpinannya, kondisi sekolah perlahan berubah. Tahun lalu, sekolah berhasil merehabilitasi ruang kelas, toilet, serta membangun ruang pendukung lainnya. Bantuan digitalisasi pendidikan yang diterima beberapa tahun terakhir juga mulai dirasakan manfaatnya.

“Sekarang fasilitas belajar sudah cukup baik. Itu memberi dampak pada peningkatan hasil belajar dan kenyamanan siswa,” kata Jems.

Namun, yang paling membekas baginya bukan soal bangunan baru, melainkan karakter para siswa Miangas. Ia menilai anak-anak di perbatasan memiliki bakat yang tak kalah dibanding pelajar di kota-kota besar. Semangat itu juga ditopang tenaga pengajar muda, yang menurutnya mencapai 90 persen dari total guru di sekolah tersebut.

Saat mendengar Presiden akan datang, Jems mengaku sempat diliputi rasa cemas. Ia khawatir masih banyak kekurangan yang akan terlihat. Tetapi menjelang hari kunjungan, rasa takut itu berubah menjadi semangat.

“Kami diberi motivasi untuk berkolaborasi dan menyiapkan yang terbaik. Ini kesempatan emas, langka, dan tidak semua orang bisa mengalaminya. Saya sangat bersyukur dan bangga bisa menyambut Presiden secara langsung,” ujarnya.

Jems memilih tetap bertahan di Miangas karena merasa kehadirannya membawa perubahan positif. Ia teringat ucapan murid-muridnya yang sederhana, tetapi menyentuh.

“Bapak jangan pindah. Kalau bapak pindah, kami juga mau pindah.”

Kalimat itu menjadi alasan kuat baginya untuk terus mengabdi di ujung negeri.

Ke depan, ia berharap pendidikan di daerah perbatasan mendapat perhatian lebih serius. Menurut dia, peningkatan kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung harus menjadi prioritas, disertai kehadiran guru profesional yang memadai.

“Kami masih kekurangan guru. Kalau itu terpenuhi, saya yakin anak-anak perbatasan bisa bersaing dengan siapa pun,” kata Jems. (*)