Di Tengah Amukan Gunung Ruang: Doa, Tsunami, dan Kesaksian Pendeta Kelling

Redaksi
amukan gunung ruang
Masyarakat kembali mengambil barang-barangnya pasca erupsi gunung ruang tahun 2024. (Foto: Rendy)
A-AA+A++

Di suatu siang yang tampak biasa di pesisir Pulau Tagulandang, ketenangan mendadak pecah. Dari arah Gunung Ruang terdengar gemuruh panjang yang tak lazim—seolah bumi sedang menghela napas berat sebelum sesuatu yang lebih besar terjadi.

Pendeta Friedrich Kelling berdiri di serambi rumahnya, hanya sekitar empat puluh meter dari pantai. Dari sana, ia menyaksikan sesuatu yang sulit dijelaskan: air laut terangkat tinggi, bergolak seperti mendidih, lalu menjelma dinding putih raksasa yang melaju cepat ke daratan.

Orang-orang di rumah mulai panik. Sebagian berteriak, sebagian terdiam dalam ketakutan. Namun Kelling tidak memberi perintah untuk lari. Ia hanya berkata singkat, hampir seperti bisikan, “Mari kita berdoa.”

Mereka pun berlutut.

Kisah dramatis itu tercatat dalam buku Onze zendingvelden: De zending op de Sangi- en Talaud-eilanden karya Daniel Brilman, yang menghimpun catatan pelayanan di kepulauan Sangihe dan Talaud. Dalam catatan tersebut, peristiwa yang dialami Kelling tidak hanya dilihat sebagai bencana alam, tetapi juga sebagai kesaksian iman di tengah situasi yang nyaris tanpa harapan.

Sejarah pelayanan di wilayah ini sendiri tidak berjalan mulus. Setelah runtuhnya VOC pada 1799, aktivitas gereja mengalami kemunduran. Namun Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG), yang berdiri pada 1797, berupaya menghidupkan kembali pelayanan dengan pendekatan baru: mengutus zendeling tukang—orang-orang sederhana dengan keterampilan praktis, tetapi memiliki keteguhan iman.

Kelling adalah bagian dari gelombang itu. Ia ditahbiskan di Jerman pada 1854, lalu menempuh perjalanan panjang melalui Belanda dan Batavia sebelum tiba di Tagulandang pada 1858. Ia menghadapi jemaat yang rapuh dan kondisi sosial yang tidak mudah. Namun perlahan, melalui kesabaran, ia mulai melihat perubahan. Pada 1862, ia merayakan perjamuan kudus bersama dua puluh jemaat—angka kecil yang menjadi penanda awal kebangkitan.

Tahun 1870, letusan Gunung Ruang memicu tsunami dahsyat di Tagulandang. Dalam kesaksian keluarga, termasuk putranya Paul Kelling, disebutkan bahwa ombak datang bahkan sebelum doa selesai. Dalam hitungan detik, air menerjang dari segala arah, melampaui rumah dan menyapu apa saja di sekitarnya.

Namun sesuatu yang tak biasa terjadi. Rumah Kelling tetap berdiri. Orang-orang di dalamnya selamat tanpa luka. Dalam narasi yang dituliskan, ombak seolah terbelah di depan rumah itu.

Di luar, kehancuran tak terelakkan. Perkampungan rata dengan tanah. Pantai hancur. Sekitar 450 orang meninggal dunia. Negeri itu berubah menjadi lautan duka—orang-orang kehilangan keluarga, rumah, dan harapan dalam waktu singkat.

Rumah Kelling kemudian berubah fungsi. Dari tempat tinggal sederhana menjadi ruang perawatan darurat. Mereka yang terluka dibawa ke sana. Orang-orang yang sebelumnya menolak bahkan menghujat, kini datang mencari pertolongan.

Sesudah tragedi itu, pelayanan Kelling justru menemukan momentumnya. Ia melanjutkan pekerjaannya, termasuk merawat kehidupan rohani di Pulau Siau selama bertahun-tahun. Namun hidupnya tidak pernah lepas dari ujian. Setahun setelah selamat dari tsunami, ia kehilangan istrinya dalam perjalanan ke Belanda. Di usia tua, penyakit radang mata perlahan merenggut penglihatannya hingga ia buta total.

Dalam kondisi itu, ia tetap bertahan dalam iman. Hingga pada 13 Agustus 1900, di usia 71 tahun, Friedrich Kelling tutup usia. Epitafnya sederhana: seorang berdosa yang berharap pada anugerah.

Lebih dari satu setengah abad kemudian, sejarah seolah berulang.

Pada April 2024, Gunung Ruang kembali mengalami erupsi besar. Letusan ini disertai lontaran abu vulkanik tinggi, awan panas, serta potensi tsunami akibat material vulkanik yang jatuh ke laut. Ribuan warga di sekitar kawasan terdampak terpaksa mengungsi demi keselamatan.

Dua kampung di kaki gunung—Pumpente dan Laingpatehi—mengalami kerusakan parah hingga tidak lagi layak dihuni. Aktivitas vulkanik yang tinggi membuat pemerintah mengambil langkah relokasi permanen. Sebagian besar warga kemudian dipindahkan ke wilayah Modisi di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.

Data penanganan bencana mencatat ribuan warga terdampak harus meninggalkan rumah mereka. Selain permukiman, fasilitas umum dan lahan pertanian ikut rusak, memukul aktivitas ekonomi masyarakat. Pemerintah pusat dan daerah bergerak dengan menyiapkan hunian sementara, bantuan logistik, serta rencana pembangunan permukiman baru.

Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa wilayah Sulawesi Utara berada di kawasan Cincin Api Pasifik yang aktif. Gunung Ruang bukan hanya bagian dari lanskap alam, tetapi juga menyimpan potensi bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

Dari tsunami 1870 hingga erupsi 2024, satu hal tetap sama: manusia dihadapkan pada kekuatan alam yang tak terduga. Namun di tengah semua itu, selalu ada cerita tentang keteguhan—tentang mereka yang bertahan, saling menolong, dan tetap berharap.

Seperti di suatu siang di Tagulandang, ketika gelombang maut datang, dan sekelompok orang memilih berlutut.

Penulis: Rendy Saselah