Mengenal Militia Christyrosa Pontoh, Anak Muda Tangguh Di balik Meja Front Desk RS Sawang

Ryan Sengala
“Senang sekali lihat pasien singgah sebentar, cuma mau bilang ‘terima kasih, suster’ sambil senyum. Rasanya seperti sudah melakukan yang terbaik,”
“Senang sekali lihat pasien singgah sebentar, cuma mau bilang ‘terima kasih, suster’ sambil senyum. Rasanya seperti sudah melakukan yang terbaik,”
A-AA+A++

Di balik meja front desk RS Sawang, ada sosok muda yang menjadi pintu pertama pelayanan pasien. Dialah Militia Christyrosa Pontoh, atau akrab disapa Christy, tenaga rekam medik berusia 25 tahun yang setiap hari memastikan alur pelayanan rumah sakit berjalan rapi sejak dari pendaftaran.

Lahir di Ulu Siau, 27 Agustus 2000, Christy merupakan lulusan Universitas Negeri Manado (Unima) tahun 2023. Sejak duduk di bangku kuliah pada 2018, ia sudah membayangkan dirinya bekerja di bidang kesehatan—bukan sebagai dokter atau perawat, melainkan di balik layar sistem administrasi medis yang tak kalah krusial.

“Semua alur kerja di rumah sakit dimulai dari rekam medik. Pendaftaran, status pasien, sampai pengurusan BPJS, semuanya lewat kami,” ujarnya.

Garda Depan yang Kerap Disalahpahami

Sebagai petugas front desk, Christy tak hanya berhadapan dengan data dan berkas. Ia juga menjadi orang pertama yang menerima keluhan, emosi, bahkan kemarahan pasien.

Menurutnya, bekerja di bagian rekam medik tidak semudah yang terlihat. Dalam situasi rumah sakit yang sibuk, apalagi ketika kondisi pasien atau keluarga sedang tidak baik-baik saja, ia tetap dituntut tersenyum, sopan, dan ramah.

“Kadang mental bisa down, stres juga ada. Banyak karakter pasien yang ditemui. Tapi kita harus tetap profesional,” katanya lugas.

Tak jarang, sebagai petugas paling depan, ia menjadi pihak pertama yang disalahkan ketika terjadi kendala layanan. Baik oleh pasien maupun rekan kerja. Namun Christy memilih melihat itu sebagai bagian dari proses pendewasaan.

“Karena kita manusia, pasti tidak sempurna. Tapi saya selalu bilang ke diri sendiri, selalu ada hal baik di setiap hari, meskipun hari itu terasa tidak baik,” ujarnya sambil tersenyum.

Belajar Bersyukur dari Setiap Kejadian

Di tengah tekanan pekerjaan, Christy menemukan banyak pelajaran. Ia belajar mengontrol emosi, memperluas pengetahuan medis, serta membangun kerja sama tim yang solid.

Baginya, momen paling membahagiakan adalah ketika pasien—terutama lansia yang datang tanpa pendamping—kembali sebelum pulang hanya untuk mengucapkan terima kasih.

“Senang sekali lihat pasien singgah sebentar, cuma mau bilang ‘terima kasih, suster’ sambil senyum. Rasanya seperti sudah melakukan yang terbaik,” tuturnya.

Meski ia merasa masih banyak orang di luar sana yang bekerja lebih hebat, Christy percaya setiap peran punya nilai. Sekecil apa pun kontribusi itu, jika dilakukan dengan tulus, akan berarti besar bagi orang lain.

Pegang Teguh Prinsip ‘Now or Never’

Putri dari Rony Pontoh dan Grace Saria ini memegang teguh satu ayat Alkitab yang menjadi motivasi hidupnya, 1 Korintus 15:58. Ia merangkum semangat itu dalam kalimat sederhana: Take the risk or lose the chance — now or never.

Bagi Christy, hidup adalah tentang berani mengambil kesempatan dan tetap teguh dalam tanggung jawab. Termasuk ketika harus berdiri di garis depan pelayanan kesehatan, dengan segala risiko dan tantangannya.

Di usia yang masih muda, Christy membuktikan bahwa menjadi tenaga rekam medik bukan sekadar pekerjaan administrasi. Ia adalah simpul awal pelayanan, wajah pertama rumah sakit, sekaligus pengingat bahwa profesionalisme dan empati bisa berjalan beriringan.

Dan di balik meja front desk itu, selalu ada senyum yang tak pernah absen—meski hari sedang tidak baik baik saja. 

(Ryansengala)