Awal dekade 1960-an menjadi salah satu periode penting dalam perkembangan kesenian di Kepulauan Sangihe. Pada masa itu, kepemimpinan daerah Sangihe – Talaud beralih dari Bupati Boas Dauhan kepada Bupati Harry Soetoyo. Pergantian kepemimpinan tersebut tidak hanya menandai perubahan dalam pemerintahan, tetapi juga menjadi titik awal tumbuhnya aktivitas kesenian yang semakin hidup di daerah itu.
Pada masa kepemimpinan Harry Soetoyo, perhatian terhadap pengembangan bakat seni anak-anak muda mulai terlihat nyata. Berbagai kegiatan kesenian, khususnya musik band, mulai berkembang dan melibatkan generasi muda dari berbagai wilayah di Kepulauan Sangihe.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menghimpun anak-anak muda yang memiliki potensi di bidang musik. Dari proses ini kemudian terbentuk kelompok band bocah Taruna Ria, yang beranggotakan sejumlah anak muda Tahuna seperti Exel Mandik, Victor Manangsang, Wellem Koroma, Fendi Taidi, Fiktor Royot, serta vokalis Ansye Porry Makahanap.
Dukungan pemerintah daerah terhadap kegiatan kesenian saat itu tidak hanya sebatas pembinaan. Harry Soetoyo bahkan menyediakan perangkat musik lengkap bagi para pemain muda tersebut. Fasilitas itu memberi kesempatan bagi mereka untuk berlatih secara serius dan tampil dalam berbagai kegiatan masyarakat.
Untuk memperkuat kemampuan bermusik para pemain, didatangkan pula David Kulas, seorang pemusik dari Jakarta, yang membantu melatih kelompok-kelompok band di Tahuna. Selain kelompok band bocah, pemerintah daerah juga menghimpun kelompok band senior yang beranggotakan Harry Mamudi, Teddy Mamudi, Max Pelopori, Ek Ulaen, dan sejumlah musisi lainnya.
Koordinasi kegiatan kesenian pada masa itu dilakukan oleh Zus Gemma Pontoh Kansil—ibunda Purnawirawan Jenderal AL Sulaeman Pontoh—yang mengatur berbagai aktivitas kesenian, baik band maupun pertunjukan tarian.
Dalam suasana itulah kegiatan bermusik berkembang pesat di Kepulauan Sangihe. Anak-anak muda mulai aktif berlatih dan tampil dalam berbagai acara, baik di Tahuna maupun di wilayah lain seperti Siau.
Musisi Johny Damar, yang turut menjadi bagian dari generasi tersebut, mengenang bagaimana proses latihan dan pertunjukan kesenian berlangsung pada masa itu.
“Kami selalu tekun berlatih, dan pertunjukan awal adalah di Tahuna dilanjutkan ke Ulu Siau tahun 1961, bersama dengan rombongan kesenian yang terkenal dari Jakarta yaitu Said Effendi Group dengan bintangnya Nurnaningsih dan Lies Saodah,” kenang Johny Damar.
Perkembangan musik di Sangihe pada masa itu juga ditandai dengan berbagai festival band. Pada tahun 1961, misalnya, digelar festival band se-Sangir di Tahuna yang diikuti oleh sejumlah kelompok musik dari berbagai daerah.
Selain Taruna Ria Senior, festival tersebut diikuti Mentelagheng Band dari Tamako, Peldast Band dari perusahaan pelayaran Nusa Utara, serta Karangetang Band dari Siau. Kegiatan ini menjadi ajang pertemuan sekaligus unjuk kemampuan para musisi muda dari berbagai wilayah.
Johny mengingat festival tersebut sebagai momen yang membanggakan bagi para musisi Sangir.
“Masih banyak lagi band yang ikut waktu itu saya sudah lupa namanya. Namun begitu juaranya pada saat itu kalau tidak salah adalah Suluta Ria. Kemudian kedua adalah Karangetang Band dan ketiga adalah Taruna Ria. Hampir semua anak-anak Sangir. Bangga dong,” ungkapnya.
Kegiatan kesenian yang berkembang pada masa itu bahkan sempat dibawa keluar daerah. Pada tahun 1962, misi kesenian Sangir berangkat ke Manado untuk menggelar pertunjukan yang dianggap spektakuler. Penampilan tersebut semakin memperkenalkan nama Sangir—atau Sangihe—di wilayah Sulawesi Utara dan Tengah.
Dalam perjalanan perkembangan musik itu pula, sejumlah musisi yang pernah terlibat dalam band-band di Tahuna kemudian dikenal luas di dunia musik nasional.
“Lihat saja rekaman yang diiringi Band Lolypop keyboardnya pasti Hendrik Mangeronkonda,” kata Johny.
Bagi para musisi yang tumbuh pada masa tersebut, kepemimpinan Harry Soetoyo menjadi salah satu periode penting dalam sejarah kesenian Sangihe. Dukungan berupa fasilitas, pembinaan, serta ruang tampil bagi anak-anak muda memberi kesempatan bagi generasi muda untuk mengembangkan bakat mereka.
Dari masa inilah lahir berbagai kelompok musik dan generasi musisi yang kemudian memberi warna bagi perjalanan kesenian di Kepulauan Sangihe pada tahun-tahun berikutnya.
Baca juga: Lebih dari Setengah Abad Bermusik, Johny Damar Tetap Setia pada Lagu Sangihe
Penulis: Rendy Saselah
(Tulisan ini diramu dari sumber utama musisi Johny Damar kepada penulis)







Tidak ada Respon