Jan Engelbert Tatengkeng: Penyair Laut dari Sangihe

Redaksi
Sketsa Penyair Angkatan Pujangga Baru, J. E. Tatengkeng. (Foto. SNews)
Sketsa Penyair Angkatan Pujangga Baru, J. E. Tatengkeng. (Foto. SNews)
A-AA+A++

Di Kepulauan Sangihe, laut bukan sekadar bentang alam. Ia adalah ruang hidup, tempat manusia belajar tentang keberanian, kesabaran, dan kerinduan untuk pulang. Dari dunia bahari itulah lahir seorang penyair yang kelak meninggalkan jejak penting dalam sejarah sastra Indonesia: Jan Engelbert Tatengkeng. Melalui puisi-puisinya, ia menuliskan pergulatan batin manusia—antara iman, rindu, dan kehidupan yang selalu bergerak seperti ombak.

Tatengkeng lahir di Kolongan, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada 19 Oktober 1907. Ia merupakan anak dari pasangan Hambali Tatengkeng, seorang guru Injil, dan Lijdia Bangonan. Lingkungan keluarga yang religius serta kehidupan masyarakat kepulauan yang dekat dengan laut kelak membentuk warna khas dalam puisi-puisinya.

Pendidikan awal Tatengkeng dimulai pada 1915 di Zendingsvolkschool di Kolongan Mitung, sekolah rakyat yang dikelola oleh gereja Kristen. Tiga tahun kemudian, ayahnya mendorongnya melanjutkan pendidikan di Hollands Inlandsche School (HIS) di Manganitu.

Sekolah tersebut pada masa itu dikenal sebagai lembaga pendidikan elite bagi pribumi. Di sana, pelajaran pidato dan menulis diberikan secara sistematis. Bakat Tatengkeng dalam mengarang mulai terasah.

Perjalanannya berlanjut pada 1925 ketika ia berangkat ke Bandung untuk belajar di Christelijke Middagkweekschool, sekolah pendidikan guru Kristen. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan di Christelijk Hogere Kweekschool di Solo.

Bekal pendidikan itulah yang mengantarnya menjadi guru bahasa Melayu di Tahuna pada 1932. Tahun itu pula menandai perubahan penting dalam hidupnya: Tatengkeng menikah dan mengakhiri masa lajangnya.

Namun dunia pendidikan bukan satu-satunya ruang yang ia tekuni. Ia juga aktif menulis dan terlibat dalam dunia pers. Tatengkeng pernah memimpin beberapa surat kabar, di antaranya Tuwo Kona di Tahuna, Soeara Oemoem di Surabaya, serta Pemimpin Zaman di Tomohon.

Pada awal 1930-an Tatengkeng pindah ke Waingapu, Sumba. Ia bekerja untuk Gereformeerde Zending sebagai kepala sekolah dan guru bahasa Melayu di Zendingstandaardschool di Payeti.

Di tempat yang jauh dari pusat sastra Hindia Belanda itu, justru karier kesusastraannya berkembang. Ia menjalin korespondensi dengan sastrawan besar Sutan Takdir Alisjahbana. Melalui jaringan tersebut, puisi-puisinya mulai dimuat di majalah Poedjangga Baroe, majalah sastra paling berpengaruh pada masa itu.

Dari sana lahir kumpulan sajaknya yang terkenal, Rindu Dendam, yang diterbitkan oleh percetakan Christelijke Drukkerij “Djawi” di Surakarta.

Pada 1940 Tatengkeng kembali ke Kepulauan Sangihe dan diangkat menjadi kepala sekolah di Schakelschool Ulu Siau. Setahun kemudian ia kembali ke Sangihe untuk memimpin HIS.

Situasi berubah drastis ketika Jepang mengambil alih kekuasaan kolonial pada 1943. Tatengkeng dipanggil ke Siau untuk mengajar bahasa Jepang karena kemampuannya berbahasa tersebut.

Namun masa itu juga membawa ujian berat. Pada 30 Maret 1944 ia bersama sejumlah rekannya ditangkap oleh tentara Jepang. Mereka ditahan lebih dari setahun hingga akhirnya dibebaskan setelah kabar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 menyebar ke seluruh penjuru nusantara.

Selepas kemerdekaan, Tatengkeng tidak hanya kembali ke dunia pendidikan. Ia juga terlibat dalam perjuangan politik. Ia ikut mendirikan organisasi Barisan Nasional Indonesia di wilayah Sangihe-Talaud.

Sebagai tokoh yang memiliki pengaruh sosial, ia dipilih mewakili Partai Rakyat Sangihe-Talaud dalam Konferensi Denpasar 1946, forum yang melahirkan negara federal Negara Indonesia Timur (NIT).

Karier politiknya berkembang pesat. Pada 1947 ia menjadi Direktur Normaalschool di Tahuna. Pada tahun yang sama ia diangkat sebagai Menteri Muda Pengajaran NIT, lalu menjadi Menteri Pengajaran pada 1949. Di tahun yang sama ia bahkan dipercaya menjabat Perdana Menteri NIT sekaligus Menteri Pengajaran.

Ketika sistem Republik Indonesia Serikat dibubarkan dan Indonesia kembali menjadi negara kesatuan, Tatengkeng tetap berperan di bidang pendidikan dan kebudayaan. Ia menjadi Kepala Perwakilan Jawatan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Ujung Pandang.

Selain itu, ia juga aktif sebagai Ketua Komisariat Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Sosialis Indonesia.

Tatengkeng juga tercatat sebagai salah satu tokoh yang ikut merintis berdirinya Universitas Hasanuddin di Makassar. Bersama sejumlah tokoh seperti Nurudin dan Mr. Tjia Kok Tjiang, ia mendirikan Balai Perguruan Tinggi Sawerigading.

Lembaga ini kemudian menjadi bagian dari proses lahirnya Universitas Hasanuddin yang diresmikan pada 10 November 1956. Setelah memperoleh gelar sarjana sastra, Tatengkeng diangkat menjadi dosen kesusastraan Indonesia di Fakultas Sastra universitas tersebut.

Memasuki dekade 1960-an, kesehatan Tatengkeng mulai menurun. Ia menderita tekanan darah tinggi yang kerap mengganggu aktivitasnya.

Pada 6 Maret 1968, penyair yang juga guru dan pejuang itu mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Angkatan Darat Pelamonia, Ujung Pandang.

Namun namanya tetap hidup dalam sejarah sastra Indonesia—terutama lewat puisi-puisi yang sarat nuansa laut dan religiusitas.

Laut, Kerinduan, dan Iman dalam Puisi Tatengkeng

Puisi bagi Tatengkeng bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah cara memahami kehidupan. Kumpulan sajak Rindu Dendam memperlihatkan bagaimana pengalaman hidup, latar budaya kepulauan, dan keyakinan religius menyatu dalam bahasa puitik.

Sepantun Laut

Dalam puisi “Sepantun Laut”, Tatengkeng menulis:

Duduk di pantai waktu senja,
Naik di rakit buaian ombak,
Sambil bercermin di air kaca,
Lagi diayunkan lagu ombak.

Puisi ini memperlihatkan kedekatan penyair dengan dunia bahari. Laut bukan sekadar latar, melainkan ruang kontemplasi. Dalam laut yang tenang maupun bergelora, ia melihat gambaran kehidupan manusia.

Bait lain puisinya menggambarkan dualitas kehidupan:

Gerak dalam diam,
Diam dalam gerak,
Menangis dalam gelak,
Gelak dalam bermuram.

Di sana Tatengkeng seolah mengingatkan bahwa kehidupan selalu bergerak antara dua kutub: tawa dan tangis, harapan dan kesedihan.

Nelayan Sangihe

Kehidupan masyarakat kepulauan Sangihe—yang sebagian besar wilayahnya adalah laut—juga tercermin dalam puisi “Nelayan Sangihe”.

Puisi itu menggambarkan seorang nelayan yang menunggu hasil tangkapan di tengah malam. Di kejauhan tampak setitik api dari pantai—tradisi yang digunakan nelayan sebagai penanda arah pulang.

Simbol kecil itu menyimpan makna besar: kerinduan untuk kembali.

Seperti banyak perantau dari Sangihe, nelayan dalam puisi tersebut seolah mewakili manusia yang pergi jauh mencari penghidupan namun selalu merindukan kampung halaman.

Panggilan Pagi Minggu

Sisi religius Tatengkeng terlihat jelas dalam puisi “Panggilan Pagi Minggu.” Lonceng gereja menjadi simbol panggilan spiritual bagi manusia.

Bagi penyair yang tumbuh dalam keluarga Kristen taat, bunyi lonceng bukan sekadar penanda waktu ibadah. Ia adalah pengingat bahwa hidup memiliki batas yang ditentukan Tuhan.

Dalam bahasa daerah Sangir, ia menulis:

Kukui apang biahe
Lulungkang u apang nate

Yang berarti: memanggil yang hidup dan menangisi yang mati.

Di sana, puisi menjadi ruang pertemuan antara iman, budaya lokal, dan pengalaman hidup.

Penulis: Rendy Saselah