Di balik deru mesin dan riak gelombang laut, ada kisah tentang ketekunan seorang putra Nusa Utara yang jarang terdengar publik.
Selain almarhum Alexander Pasikuali (Pena Ale), generasi berikutnya ada Simon Kumbe (Base Simon), perancang kapal asal Kampung Tawoali, Kecamatan Manganitu, Sangihe. Meski pendidikan formalnya hanya bertahan sampai kelas 2 SD—itu pun hanya dua bulan—Simon berhasil menorehkan jejak panjang dalam dunia perkapalan.
“Semua ini karena talenta dari Tuhan,” ujarnya dengan rendah hati.
Karya Simon tak sedikit. Sejumlah kapal kayu yang pernah lahir dari tangannya masih melekat di ingatan banyak orang. Sebut saja Kapal Motor (KM) Putra Tahuna, Indah Pertama, Pulau Siau, Ingat Siau, Pelita Harapan, hingga Theodora kayu.
Dari laut biru Nusa Utara, karya-karya itu menjadi saksi bisu keterampilan seorang anak kampung yang tak pernah menyerah pada keterbatasan.
Tak berhenti di situ, Simon juga merancang kapal besi dengan nama-nama yang kini akrab di telinga para pelaut: Elisabeth 2, Elisabeth 3, Elisabeth Mulia, Karya Indah, Gloria 288, Penampung Agra 1, Aksa Saputra 23, Holly Merry, dan banyak lagi. Bahkan, salah satu karyanya saat ini masih berdiri megah di galangan kapal Wori dengan panjang 105 meter dan lebar 16,5 meter.
Dalam perjalanan kariernya, Simon juga menorehkan prestasi lewat ratusan kapal kecil jenis “pajeko besi”. Meski tak lagi mengingat satu per satu namanya, ia menyebut jumlahnya mencapai ratusan unit.
Keahlian merancang dan mengerjakan kapal, hingga tahap pemasangan mesin, ia sebut bukan sekadar keterampilan teknis. Baginya, semua adalah karunia Tuhan yang wajib dipelihara dan dipersembahkan kembali melalui karya nyata.
“Ini sekadar pengingat, bahwa anak-anak Nusa Utara pernah dan bisa berkarya di bidang perkapalan,” katanya.
Simon juga menitipkan pesan kepada generasi muda yang kini mulai menekuni dunia perkapalan—baik kapal kayu, besi, maupun fiber—agar tak berhenti berkarya.
“Teruslah gunakan talenta yang ada, harumkan nama Nusa Utara,” ujarnya.
Mungkin tidak semua orang mengenal Simon Kumbe. Namun, bagi laut dan kapal-kapal yang pernah mengarungi ombak dengan desain tangannya, jejak itu abadi.
Dari keterbatasan pendidikan, ia membuktikan bahwa kerja keras, bakat, dan iman bisa melahirkan sesuatu yang melampaui batas.
Simon bukan hanya merancang kapal. Ia sedang membangun jembatan inspirasi: bahwa anak-anak Nusa Utara bisa berdiri sejajar di tengah samudra luas, membawa nama daerahnya hingga jauh ke perairan lain.*







Tidak ada Respon