Regina Toasyana Sinedu, atau yang akrab disapa Gina, adalah satu dari sedikit perempuan muda di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, yang menapaki jalan industri kreatif dengan pijakan budaya lokal. Lulusan Hubungan Internasional Universitas Kristen Satya Wacana ini tak hanya dikenal sebagai pengusaha, tetapi juga penyiar radio, pembawa acara, dan moderator berbagai forum publik.
Perjalanan Regina di dunia kreatif dimulai pada 2020. Saat itu, ia mendirikan usaha clothing dan percetakan bernama KASIKA, akronim dari Kaos Asli Sangihe I Kekendage. Melalui usaha ini, Regina menghadirkan produk kaos bertema budaya Sangihe, sekaligus membuka layanan cetak desain kustom. Dalam perjalanannya, usaha tersebut mampu mencatat penjualan rata-rata 1.500 kaos setiap tahun.
“Awalnya saya hanya ingin membuat sesuatu yang khas Sangihe, tapi kemudian berkembang menjadi bisnis yang punya nilai budaya,” kata Regina, belum lama ini.
Tak berhenti sebagai pelaku usaha, Regina memperluas kiprahnya pada 2021 dengan aktif menjadi pembawa acara dan moderator dalam berbagai kegiatan seni, budaya, hingga diskusi publik. Kemampuan berbicara di depan umum yang ia asah sejak sekolah membuatnya kerap dipercaya memandu agenda komunitas hingga pemerintahan.
Di tahun yang sama, ia juga mulai terlibat sebagai penyiar di aLFA FM, radio swasta milik keluarganya. Lewat siaran radio, Regina menghadirkan beragam konten informatif, edukatif, dan hiburan bagi masyarakat Nusa Utara.
Peran itu berkembang lebih jauh pada 2023, ketika ia menciptakan program talkshow bertajuk “Mangarene”. Program ini menghadirkan anak-anak muda inspiratif dari Sangihe, sekaligus menjadi ruang dialog untuk membangun jejaring dan semangat kolaborasi.
“Mangarene adalah salah satu bentuk pengabdian saya. Lewat dialog, kita bisa saling belajar dan menginspirasi,” ujarnya.
Dalam berbagai kesempatan, Regina juga tampil sebagai moderator sejumlah kegiatan penting, seperti talkshow peluncuran tahapan Pilkada Kabupaten Kepulauan Sangihe, diskusi Hari Buruh, hingga pelatihan kepemudaan.
Di balik kesibukannya, Regina memegang teguh nilai-nilai lokal sebagai fondasi hidup. Ia menjadikan filosofi tenun tradisional Sohi sebagai pedoman. Dalam tradisi itu, Sohi merepresentasikan keadaban manusia dalam empat tingkatan: matilang, matelang, mateleng, dan mateling.
“Saya ingin hidup yang saya jalani bisa mencerminkan nilai-nilai itu. Memberi manfaat bagi sesama, dan tidak melupakan akar budaya,” kata dia.
Bagi Regina, keberanian adalah kunci dalam meraih tujuan. Ia percaya, setiap langkah besar selalu dimulai dari keberanian mengambil risiko.
“Jangan mudah menyerah. Beranilah mengambil risiko. Sukses datang kepada mereka yang berani dan bijak dalam melangkah,” tuturnya.
Kini, Regina terus mengembangkan kiprahnya di industri kreatif sembari merancang rencana melanjutkan studi di bidang International Affairs and Public Policy. Baginya, berkarya bukan sekadar soal produktivitas, tetapi juga tentang menjaga identitas dan memberi dampak bagi lingkungan sekitar. (*)







Tidak ada Respon