Riwayat Tahuna, Laut yang Dikeringkan Ansaawuwo

Redaksi
Lokasi bandar tua Tahuna, icon kota Tahuna yaitu Tugu Malahasa. (Foto: SNews)
Lokasi bandar tua Tahuna, icon kota Tahuna yaitu Tugu Malahasa. (Foto: SNews)
A-AA+A++

Begitulah syair tua yang membuka puisi berjudulTatehe Woba” dalam buku Aku Laut Aku Ombak (2006) karya penyair Iverdixon Tinungki.

Penggalan syair tua itu sesungguhnya memuat kisah tentang bagaimana sebuah kota dibangun. Sebuah pusat pemerintahan baru didirikan—sebuah kerajaan yang kelahirannya dipercaya ditandai oleh peristiwa magis. Kerajaan itu adalah Malahasa, atau Tahuna kini, yang didirikan oleh Ansaawuwo, yang juga dikenal sebagai Tatehe Woba, raja Kerajaan Tahuna yang memerintah pada 1580–1625.

Nama Tatehe Woba melekat padanya ketika ia memindahkan pusat kerajaan dari Kolongan ke sebelah timur, yakni wilayah yang kini dikenal sebagai Tahuna. Pada masa itu, bagian timur Tahuna masih berupa genangan air yang sangat panjang.

Cerita masyarakat menuturkan bahwa Raja Ansaawuwo mengeringkan genangan air tersebut untuk mendirikan pusat pemerintahan Malahasa atau Tahuna.

Ketika mengunjungi wilayah itu, ia bersabda bahwa jika benar dirinya adalah putra raja, maka ia memohon kepada Tuhan agar tempat tersebut menjadi kering, sehingga dapat dijadikan lokasi pembangunan kota kerajaannya kelak. Konon, tidak lama setelah sabda itu diucapkan, genangan air tersebut seketika mengering dan berubah menjadi daratan.

Berikut kisah Tahuna yang digambarkan dalam puisi berlatar sejarah bahari Nusa Utara oleh penyair Indonesia Iverdixon Tinungki dalam buku kumpulan puisi Aku Laut, Aku Ombak (2006).

TATEHE WOBA

Mawu i Tatehe
tau nakatehe woba
nakamara taghaloang

terbanglah bangau putih di langit tahuna
perkawinan purba pontoralage dolongsego
melahirkan pangeran utusan musim tujuh

Tatehe Woba istana teluk benteng cahaya
air payaow ladang bakau
ganggang rawa teluk lumpur
buaya intan menyair raja
mantra pasir mengeringkan benua

hitunglah hari seperti datuk tua
tujuh saghe berkahi perkasa
tujuh huabe mengajar bijaksana

apa artinya harta istana
bila rakyat tak bersua air murah

bulan penuh menggantung di puncak tanjung
kebesaran daulat kerajaan Tahuna ditahbis waktu
menghalau letih zaman menggantang sunyi
yang dulu ditanam penjajah memagari mimpi

sinar tahuna pun memancar ke lautan
mengisi angkasa sejarah kerajaan lautan

paduka menghadang kapal belanda
karam dan tenggelam di pantai kolongan

ini sejarah ksatria dalam kitab laut kita
yang dulu diarak dengan bendera kemenangan
di sepanjang pantai yang bersimbah darah peperangan
yang kini kita ancung di kepal bangga

tujuh saghe, tujuh huabe
menitik darah datuk tua
dalam pasir dilepas benua
berkilau tujuh kerajaan samudera

2006


*) Tatehe Woba adalah raja pertama Kerajaan Tahuna yang memerintah pada 1580–1625. Ia merupakan cucu Raja Kerajaan Siau, Lokonbanua II, dari putrinya Dolongsego. Ayahnya, Potoralage, adalah seorang kulano di Pulau Sangihe.

Raja Tatehe dikenang sebagai raja yang sakti, yang menurut cerita mampu mengeringkan rawa teluk Tahuna hanya dengan segenggam pasir hingga menjadi daratan yang kini menjadi Kota Tahuna. Ia juga dikenal sebagai pemimpin perang laut yang tangguh ketika menghadapi kapal perang VOC di pantai Kolongan. Armada laut VOC pun dikisahkan tenggelam di sana.*

Penulis: Rendy Saselah