Pada September 1615, Gubernur Jenderal Maluku, Laurens Reael, merancang sebuah operasi rahasia. Targetnya: menculik penduduk dari kawasan utara Sulawesi untuk dipindahkan ke Pulau Ai, Kepulauan Banda, sebagai tenaga kerja paksa di perkebunan pala. Keterbatasan populasi di Banda mendorong VOC mengambil langkah ekstrem, menguji kemungkinan memindahkan komunitas dari pulau lain.
Ekspedisi itu berangkat pada 23 September 1615 dengan dua kapal: Oud-Zealand yang dikomandoi Adriaan van der Dussen dan jacht De Arent di bawah Frederick Hamel. Sasaran mereka adalah Manganitu, wilayah di Kepulauan Sangihe yang dianggap memiliki populasi cukup untuk “dipindahkan”. Namun, pelayaran itu berujung kegagalan yang tak biasa.
Dalam tradisi lokal, kegagalan ini dikaitkan dengan sosok Lumanu, panglima laskar Manganitu. Ia dipercaya memiliki kemampuan gaib untuk melindungi wilayahnya. Dengan menghisap binebareng, rokok tradisional dari tembakau yang dililit daun pisang dan meniupkan asapnya ke arah teluk, Lumanu diyakini mampu “menutup” Manganitu dari pandangan luar.
Ketika dua kapal VOC melintasi perairan itu, teluk yang menjadi tujuan justru tak terlihat. Armada yang dilengkapi navigasi terbaik pada masanya gagal menemukan lokasi yang menurut peta seharusnya ada. Mereka pun berbelok arah ke laut lepas.
Kegagalan tersebut tercatat dalam laporan resmi Adriaan van der Dussen kepada para direktur VOC (Bewindhebbers) tertanggal 25 Juli 1616. Ia menulis bahwa Manganitu yang menurut catatan terletak di Pulau Sangir Besar tidak dapat ditemukan. Dalam laporannya, ia menyebut adanya sesuatu yang “janggal dan sangat aneh” selama pelayaran itu.
Rencana pun berubah. Armada VOC mengalihkan target ke Siau. Mereka tiba pada 12 Oktober 1615 dan menggunakan pendekatan persuasif untuk mengundang para elite local raja, jugugu, kapitan laut, serta kepala suku naik ke kapal dengan janji perlindungan di pulau baru.
Namun, janji itu berubah menjadi tragedi. Dalam laporan yang sama, Van der Dussen menggambarkan kepanikan yang tak terlukiskan ketika penduduk menyadari mereka dijadikan “mangsa uji coba”. Ketakutan dan kekacauan menyebar, menandai salah satu episode kelam dalam praktik kolonial VOC di kawasan timur Nusantara.
Catatan-catatan kolonial seperti De Europeers in den Maleischen archipel 1509–1629, karya N. Mac Leod, serta tulisan P. A. Tiele tentang bangkitnya kekuasaan Belanda di Hindia Timur, merekam praktik-praktik serupa dalam ekspansi VOC. Namun, arsip-arsip itu tak sepenuhnya menjelaskan kegagalan menemukan Manganitu.
Di situlah kisah lokal mengambil tempat. Bagi masyarakat setempat, cerita tentang Lumanu bukan sekadar legenda, melainkan penjelas atas peristiwa yang tak tercatat lengkap dalam arsip kolonial. Dari sana pula muncul sebutan Maobungang bagi Manganitu wilayah yang tersembunyi, yang tak mudah dijangkau, bahkan oleh armada besar sekalipun.
Antara laporan VOC dan ingatan kolektif, Manganitu tetap berdiri sebagai ruang yang setengah historis, setengah mitologis tempat di mana kekuasaan kolonial pernah berhadapan dengan sesuatu yang tak mampu mereka pahami sepenuhnya.
Penulis: Ferdinan Kirimang
Editor: Rendy Saselah







Tidak ada Respon