Pulau-Pulau Terluar Sangihe Jadi Wilayah Paling Terdampak Gempa M 7,7

Redaksi
Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari saat diwawancarai, Senin (8/6/2026). (Foto: SNews)
Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari saat diwawancarai, Senin (8/6/2026). (Foto: SNews)
A-AA+A++

Selusurnews.com – Pulau-pulau terluar di Kabupaten Kepulauan Sangihe menjadi wilayah yang paling terdampak gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Sulawesi Utara pada Senin, (8/6/2026).

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe hingga Senin siang masih melakukan pendataan terhadap kerusakan rumah warga yang tersebar di sejumlah kampung, terutama di Kecamatan Kepulauan Marore yang berada dekat dengan pusat gempa.

Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari mengatakan pemerintah daerah telah menginstruksikan para kepala kampung, lurah, dan aparat terkait untuk melakukan inventarisasi kerusakan bangunan akibat gempa.

“Baik kepala kampung maupun lurah sementara menginventarisir dan mendata jumlah rumah yang rusak akibat gempa,” kata Thungari, Senin.

Berdasarkan laporan sementara yang diterima pemerintah daerah, kerusakan paling signifikan terjadi di Kampung Kawio dan Kampung Matutuang, Kecamatan Kepulauan Marore. Kedua kampung tersebut merupakan wilayah terluar Indonesia yang berada di perbatasan dengan Filipina dan relatif dekat dengan lokasi gempa.

“Kampung Kawio dan Kampung Matutuang berada lebih dekat dengan titik gempa, sehingga dampaknya lebih besar. Sejumlah rumah, terutama yang semi permanen, mengalami kerusakan berat dan saat ini masih dalam proses identifikasi,” ujarnya.

Selain rumah warga, sejumlah fasilitas umum dan rumah ibadah dilaporkan mengalami keretakan akibat kuatnya guncangan yang dirasakan masyarakat sejak pagi hari.

Meski demikian, hingga saat ini pemerintah daerah belum menerima laporan adanya korban jiwa akibat bencana tersebut.

Thungari menjelaskan, proses penanganan dampak gempa menghadapi tantangan geografis karena lokasi terdampak berada jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan Sangihe di Tahuna. Jarak menuju Kecamatan Kepulauan Marore diperkirakan mencapai 60 hingga 80 mil laut.

Kondisi itu membuat distribusi bantuan harus mengandalkan transportasi laut serta koordinasi dengan berbagai instansi terkait.

“Kami sedang berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk kapal yang dapat digunakan untuk mengangkut bantuan. Semua kemampuan yang kami miliki, baik personel maupun material bantuan, sementara disiapkan untuk segera dikirim kepada masyarakat di Kecamatan Kepulauan Marore,” kata Thungari.

Di tengah proses pendataan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara juga menyatakan kesiapan membantu penanganan dampak gempa di Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Menurut Thungari, Gubernur Sulawesi Utara telah menghubunginya pada Senin pagi untuk memperoleh laporan perkembangan situasi pascagempa.

“Tadi pagi Pak Gubernur sudah menghubungi saya dan saya telah melaporkan kondisi terkini, termasuk jumlah rumah yang rusak. Puji Tuhan sampai saat ini tidak ada laporan korban jiwa,” ujarnya.

Ia menambahkan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara saat ini menunggu laporan resmi dari Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe sebagai dasar penyaluran bantuan dan langkah penanganan selanjutnya.

Hingga Senin siang, proses pendataan kerusakan masih berlangsung di sejumlah pulau terluar yang terdampak gempa. Pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan instansi terkait guna memastikan kebutuhan warga dapat segera terpenuhi.

(Rensa)