Ferdy Sondakh bisa dibaca sebagai titik uji apakah ia menjadi korban dari kerapuhan, atau justru bagian dari proses kebangkitan PDIP di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Namun satu hal sulit dibantah ia adalah banteng tangguh, kader yang ditempa bukan oleh karpet merah, melainkan oleh jalan panjang dalam tubuh partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri.
Ia tidak lahir sebagai figur instan. Ferdy tumbuh dari bawah, mengunyah proses, memanggul ideologi, dan menapaki tangga politik penuh komitmen. Dalam tubuh PDIP, ia adalah tentang bagaimana kesetiaan dibangun dari kesadaran, bukan sekadar posisi.
Keputusan menggantinya dari kursi Ketua DPRD Sangihe melalui SK DPP PDIP yang disalurkan lewat Ketua DPD Sulawesi Utara, Olly Dondokambey, sesungguhnya bukan cerita yang datang tiba-tiba. Riaknya telah terasa sejak tahun lalu. Dalam berbagai percakapan, ia tahu arah angin itu. Namun sikapnya tak bergeser: “Apa pun yang terjadi, saya tidak akan meninggalkan partai yang membesarkan saya.” kata dia dalam beberapa diskusi.
Di situ, Ferdy seperti ingin menegaskan dirinya bukan hanya kader, tetapi petugas partai yang bekerja dalam diam, bertahan dalam tekanan, dan tetap setia dalam ketidakpastian. Komitmennya bukan retorika. Pada masanya, bersama H.R. Makagansa, ia ikut mendorong terbangunnya sekretariat PDIP berlantai dua sebuah simbol bahwa kerja politik tak selalu tampak di permukaan, tetapi meninggalkan fondasi.
Di bawah kepemimpinannya, komposisi enam kursi PDIP di DPRD Sangihe juga terjaga. Meski demikian, kegagalan mengantarkan pasangan Rinny Tamuntuan dan Mario Seliang pada Pilkada 2024 menjadi catatan yang sulit dihindari. Dalam politik, satu kegagalan kerap lebih nyaring daripada serangkaian kerja panjang yang sunyi.
Kini, seolah ada harga yang harus dibayar. Bukan hanya soal jabatan yang berpindah, tetapi tentang bagaimana sejarah kerja dinilai ulang dalam satu momentum. Ia mungkin kecewa, tetapi publik tahu siapa sosok yang akrab disapa Ko Didi ini. Seorang kader yang memilih bertahan, ketika banyak yang mungkin memilih pergi.
Di sisi lain, tongkat estafet kini berada di tangan Denny Roy Tampi atau populer dipanggil DRT. Ia memikul beban yang tidak ringan, merajut kembali simpul-simpul yang mungkin merenggang, sekaligus menjawab kepercayaan pusat yang diberikan kepadanya, meski ia terbilang baru di tubuh PDIP.
Pertanyaannya kini terbuka, apakah ini momentum bagi DRT untuk melampaui kerja-kerja sebelumnya dan membangun kembali kekuatan partai atau terjungkal? Ataukah ini justru babak baru ujian kesabaran bagi Ferdy Sondakh untuk menegaskan dirinya sebagai kader yang semakin utuh, semakin paripurna, di garis perbatasan Indonesia dan Filipina?
Di antara pergantian dan keteguhan, politik selalu menyisakan satu hal yang tak mudah diukur loyalitas. Dan dalam hal itu, nama Ferdy Sondakh tampaknya masih berdiri tegak. (*)





Tidak ada Respon