Di balik cerita horor yang ditawarkan, ‘Songko’ justru membuka sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan manusia sendiri: rasa takut kehilangan, keinginan untuk tetap hidup, dan cinta yang bisa mendorong seseorang melampaui batas. Teror dalam film ini bukan hanya soal hantu, tetapi tentang bagaimana manusia menghadapi stigma, keyakinan, dan pilihan-pilihan gelap yang lahir dari kasih sayang.
Film ‘Songko’ dibuka dengan sebuah prolog yang menempatkan Songko sebagai teror laten, bayang-bayang gelap yang menghantui tubuh perempuan, khususnya perempuan perawan di Minahasa. Dalam konstruksi film ini, praktik Songko tidak sekadar tindakan supranatural, melainkan simbol dari hasrat manusia untuk menunda kefanaan, mencapai kebahagiaan batiniah, mempertahankan awet muda, dan menjaga kebugaran tubuh dengan cara menghisap darah perawan. Sejak awal, film ini sudah menggeser horor dari sekadar rasa takut menjadi refleksi tentang tubuh, usia, dan obsesi manusia terhadap kehidupan.
Berlatar tahun 1980-an di Tomohon, narasi berpusat pada Helsye (Imelda Therinne), seorang perempuan yang dituduh oleh sekelompok masyarakat melakukan ritual Songko setelah ditemukannya kematian perempuan-perempuan perawan. Tuduhan ini tidak berdiri sendiri, melainkan diperkuat oleh relasi domestik yang kompleks bersama Lina, anak perempuannya, yang memilih bersekutu dengan kegelapan demi menjaga ibunya tetap hidup dan sehat. Di sini, film mulai mengungkap paradoks mendasar bahwa kejahatan tidak selalu lahir dari kebencian, melainkan bisa tumbuh dari cinta yang berlebihan, cinta yang kehilangan batas moral.
Konflik mencapai titik penting ketika Helsye mengakui perbuatannya di gereja. Pengakuan ini bukan sekadar elemen dramatik, melainkan simbol relasi kuasa antara individu dan institusi moral. Dalam perspektif sosiologi sastra, momen ini mencerminkan bagaimana masyarakat membentuk stigma melalui mekanisme kolektif. Helsye menjadi representasi dari “yang lain”, individu yang dikucilkan karena ketakutan sosial, sekaligus dijadikan objek penghakiman.
Menariknya, film ini mengangkat Songko dari akar mitologisnya dalam kebudayaan Sangihe namun dengan sejumlah perbedaan signifikan. Dalam tradisi lisan Sangihe, Songko digambarkan sebagai sosok perempuan utuh yang terbang di malam hari untuk mencari mangsa tanpa dikhususkan pada perempuan perawan seperti dalam film.
Ada pula versi cerita yang menyebut bahwa selain mencabut lidah manusia untuk dimakan, praktik Songko merupakan ritual untuk menjaga kebugaran fisik, sebuah titik temu dengan interpretasi film. Songko dijalankan oleh perempuan dan diyakini sebagai praktik turun-temurun dari leluhur kepada generasi berikutnya. Banyak kesaksian lisan menyebut seseorang dapat tiba-tiba terbang dalam ketidaksadaran pada malam hari sebelum akhirnya menyadari bahwa dirinya adalah penerus dari konsekuensi turunan tersebut.
Kunci ritual ini, berdasarkan sumber lisan, terletak pada sebuah belanga yang berisi ramuan tertentu. Belanga ini dipercaya menjadi medium kekuatan yang memungkinkan pelaku terbang dan menjalankan aksinya. Dalam konteks sejarah Nusa Utara, praktik kesaktian seperti Songko untuk perempuan dan Bawale untuk laki-laki bahkan disebut pernah digunakan untuk mempermudah pelaksanaan misi pada masa raja-raja. Dengan demikian, film ini tidak hanya menghadirkan horor, tetapi juga menyentuh lapisan historis dan antropologis yang kaya, meski mengalami penyederhanaan dalam proses adaptasinya.
Sejak tayang perdana pada 23 April 2026, ‘Songko’ menunjukkan daya tarik yang kuat di tengah masyarakat. Antusiasme penonton tidak dapat dilepaskan dari familiaritas kata “Songko” sebagai sosok horor dalam imajinasi kolektif Sulawesi Utara. Pengalaman menonton di bioskop yang penuh menjadi bukti bahwa film ini bekerja bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai pemantik memori budaya.
Dari sisi artistik, penggunaan dialek Manado memberi warna lokal yang khas, meskipun tidak seluruh aktor mampu mengartikulasikannya secara utuh. Kehadiran aktor senior Eric Dajoh menjadi penegas autentisitas melalui ekspresi bahasa yang lebih natural, termasuk umpatan khas seperti “Pemar” dan “Pemai”. Namun demikian, pengelolaan konflik dalam film ini terasa terlalu sederhana. Tokoh Mikha (Annette Edoarda) ditempatkan dalam posisi yang nyaris sendirian dalam menghadapi ibu tirinya Helsye sebagai sosok Songko, serta kakak tirinya Lina (Fergie Giovanna Brittany). Kompleksitas konflik keluarga yang sebenarnya potensial justru tidak sepenuhnya dieksplorasi.
Meski demikian, kekuatan utama film ini terletak pada lapisan makna yang dihadirkannya. Lagu “O Ina Ni Keke”, sebuah lagu tradisional Minahasa, mengalir sebagai elemen emosional yang mengikat penonton dengan memori kultural, bahkan bagi mereka yang tidak memahami maknanya secara literal. Selain itu, film ini juga memuat kritik sosial terhadap institusi keagamaan. Gereja digambarkan sebagai entitas yang pasif, tidak mampu bertindak lebih jauh terhadap individu yang distigmatisasi, namun tetap menjadi ruang yang diharapkan memberikan pertolongan. Di sini terlihat adanya ketegangan antara peran moral ideal dan praktik sosial yang terjadi.
Pada akhirnya, ‘Songko’ mengarah pada refleksi filosofis yang lebih luas melalui semboyan Sam Ratulangi, Sitou Timou Tumou Tou, manusia hidup untuk menghidupkan manusia lain. Film ini menginterpretasikan semboyan tersebut secara paradoksal. Dalam praktik Songko, memperpanjang hidup justru dilakukan dengan menghisap darah orang lain. Namun di sisi lain, relasi antara Helsye, Lina, dan Mikha menunjukkan bahwa manusia bisa melakukan apa saja atas nama cinta dan kasih sayang.
Lina mencintai ibunya sedemikian rupa hingga memilih jalan gelap demi mempertahankan hidup sang ibu. Mikha, yang semula menolak kenyataan, pada akhirnya digiring pada dilema eksistensial, sebuah kesan bahwa ia bersedia memberikan darahnya demi mempertahankan kehidupan ibu yang mereka cintai. Di titik ini, makna menghisap darah tidak lagi dibaca secara literal, melainkan sebagai metafora tentang pengorbanan dan upaya memanusiakan orang lain.
Dengan demikian, ‘Songko’ bukan sekadar film horor. Ia adalah teks sosial yang memuat ketakutan kolektif, transformasi mitos, kritik institusional, serta refleksi mendalam tentang cinta, stigma, dan kemanusiaan. Horor dalam film ini tidak hanya hadir dalam wujud makhluk gaib, tetapi juga dalam kenyataan bahwa manusia, atas nama cinta, dapat melampaui batas-batas moral yang selama ini diyakini.
Bagi saya, ‘Songko’ adalah film yang sangat layak untuk ditonton. Ia tidak hanya menawarkan teror, tetapi juga menghadirkan kedalaman makna yang jarang disentuh film horor pada umumnya. Dengan segala kekuatan dan kekurangannya, film ini mampu berdiri sejajar dengan karya-karya horor layar lebar lain, tanpa kehilangan identitas lokal yang justru menjadi daya tarik utamanya.
Penulis: Rendy Saselah







Tidak ada Respon