Kisah Keluarga dr. Cseszko Menyelamatkan Rakyat Sangihe, Berakhir Tragis di Tangan Jepang

Redaksi
Dokter dan Nyonya Cseszko beserta putra kecil mereka bersama dengan staf perawat dari Rumah Sakit Misi di Tahuna. (Foto: Onze zendingvelden: De zending op de Sangi- en Talaud-eilanden karya Danie Brilman 1938)
Dokter dan Nyonya Cseszko beserta putra kecil mereka bersama dengan staf perawat dari Rumah Sakit Misi di Tahuna. (Foto: Onze zendingvelden: De zending op de Sangi- en Talaud-eilanden karya Danie Brilman 1938)
A-AA+A++

Di wilayah kepulauan Sangihe dan Talaud, pelayanan kesehatan pada awal abad ke-20 tidak pernah benar-benar hadir sebagai sebuah sistem yang utuh. Yang ada hanyalah upaya-upaya kecil, tersebar, dan kerap berlangsung dalam keterbatasan. Para zendeling telah lebih dulu berada di sana, mencoba menolong orang sakit tanpa bekal pendidikan medis yang memadai. Mereka bekerja dengan kemampuan seadanya, di tengah kekurangan obat-obatan dan fasilitas.

Gambaran itu terekam dalam Onze zendingvelden: De zending op de Sangi- en Talaud-eilanden karya Daniel Brilman (1938), yang menunjukkan bagaimana pelayanan kesehatan pada masa itu lebih digerakkan oleh panggilan iman daripada keahlian medis.

Ketika Komite kemudian mengambil alih pekerjaan zending, arah pelayanan mulai berubah. Kesehatan tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan bagian penting dari misi. Menolong orang sakit menjadi wujud kasih sekaligus kesaksian iman. Namun di lapangan, masyarakat masih memaknai penyakit melalui kepercayaan terhadap dunia sihir. Pengobatan modern belum sepenuhnya dipercaya, sementara praktik tradisional tetap menjadi rujukan utama.

Situasi kesehatan masyarakat saat itu tergolong berat. Wabah malaria, kolera, dan cacar datang silih berganti. Banyak penyakit berkembang tanpa penanganan yang memadai. Lingkungan tempat tinggal yang tidak sehat, rumah yang lapuk, serta minimnya pengetahuan tentang kebersihan membuat angka kematian tinggi. Bayi menjadi kelompok paling rentan—lebih dari 40 persen meninggal sebelum melewati masa menyusu. Angka ini jauh di atas kondisi di Belanda pada tahun 1933 yang hanya sekitar 4 persen.

Dalam keadaan seperti itu, banyak penderita tidak memperoleh pertolongan yang layak. Mereka justru terjerumus dalam praktik pengobatan yang bercampur dengan kepercayaan mistis, yang pada akhirnya memperburuk keadaan. Melihat situasi tersebut, Komite mulai mengambil langkah perbaikan. Para pekerja zending diberi pelatihan kesehatan, meskipun terbatas. Pertolongan pertama mulai tersedia di berbagai wilayah. Dari situ, muncul poliklinik sederhana yang perlahan berkembang menjadi rumah sakit pembantu dengan fasilitas seadanya.

Pemerintah turut memberikan dukungan—obat-obatan disediakan, sebagian diberikan secara cuma-cuma kepada masyarakat miskin, serta subsidi bagi tenaga kesehatan. Namun semua itu belum cukup. Kebutuhan akan seorang dokter tetap menjadi persoalan mendesak.

Wilayah pelayanan yang luas sekitar 150.000 jiwa yang tersebar di pulau-pulau dengan akses sulit, tidak sebanding dengan jumlah tenaga yang tersedia. Upaya mendatangkan dokter dari Belanda dan negara-negara Eropa lainnya belum membuahkan hasil. Bahkan seorang dokter dari Jerman yang sempat direncanakan datang, tidak dapat diterima karena alasan kesehatan. Pemerintah kolonial kemudian mencoba mengisi kekosongan itu dengan menempatkan dokter pribumi di Tahuna, meskipun jangkauan pelayanannya tetap terbatas.

Dalam situasi serba terbatas itu, kehadiran dr. G. Cseszko pada tahun 1931 menjadi titik balik. Ia adalah dokter muda asal Hongaria yang bersedia melayani di wilayah zending. Proses penerimaannya tidak sepenuhnya mulus. Ada persoalan administratif terkait pengakuan ijazah. Namun pada akhirnya pemerintah memberikan kelonggaran. Rumah sakit di Tahuna diserahkan kepada zending untuk dikelola, lengkap dengan subsidi yang sebelumnya dialokasikan untuk dokter pemerintah.

Kedatangannya disambut antusias oleh masyarakat. Sebuah pasar amal digelar untuk mendukung pengembangan rumah sakit. Dalam praktiknya, dr. Cseszko menghadapi berbagai penyakit yang umum diderita masyarakat: malaria, frambusia, penyakit cacing, hingga tuberkulosis. Tidak jarang ia harus melakukan tindakan bedah dengan fasilitas terbatas. Ia bekerja bersama tenaga perawat zending, termasuk H.J. Huvers, menjangkau pasien di wilayah yang tersebar.

Baca juga: Operasi Rahasia Penyelamatan Anak-anak dr. Cseszko dari Penyiksaan Jepang di Sangihe

Pelayanan yang mulai bertumbuh itu kemudian terguncang ketika Perang Dunia II pecah. Situasi berubah drastis. Kehadiran Jepang membawa dampak langsung, tidak hanya bagi pelayanan kesehatan, tetapi juga kehidupan pribadi para pelayan zending.

Berdasarkan laporan Richard Knox Hardwick, tentara  intelijen yang juga bagian dari Z Special Unit dari pangkalan Morotai yang dimuat dalam The Straits Times edisi 21 Agustus 1947, keluarga Cseszko menjadi korban dari situasi perang tersebut.

dr. Cseszko ditangkap tentara Jepang dan dibawa ke Manado. Ia meninggalkan istrinya dan keempat anak mereka di Tahuna. Tidak lama kemudian, istrinya juga ditangkap oleh Kempetai dengan tuduhan memiliki alat pemancar radio. Tuduhan yang tidak pernah terbukti. Penahanan itu berubah menjadi penyiksaan selama berbulan-bulan. Ia dipukuli, tidak diberi air, dan disiksa secara kejam, termasuk dibakar dengan perban yang direndam bensin. Dalam satu peristiwa, anaknya, Emma, dipaksa menyaksikan langsung penderitaan itu.

Pada awal November 1944, Ny. Cseszko dieksekusi dengan cara dipenggal.

Penderitaan keluarga ini belum berakhir. Anak-anak mereka—Emma, Eva, Djoela, dan Joseph—ikut mengalami tekanan dan kekerasan. Emma sempat ditangkap dan disiksa. Mereka kemudian dirawat oleh seorang perawat bernama Elizabeth. Namun keadaan kembali berubah ketika mereka dipindahkan ke Tahulandang. Di sana, mereka hidup dalam kekurangan makanan, terserang penyakit tropis, dan menanggung trauma yang mendalam.

Keberadaan mereka baru diketahui setelah lima bulan pencarian. Pada 18 Maret 1946, operasi pengintaian dilakukan oleh Z Special Unit dari pangkalan di Morotai. Anak-anak itu ditemukan dalam kondisi lemah, penuh luka, dan ketakutan.

Evakuasi dilakukan dalam situasi yang belum sepenuhnya aman. Ancaman serangan Jepang masih ada. Dengan pesawat Catalina, mereka bersama sejumlah warga yang membantu Sekutu berhasil dibawa keluar. Operasi ini kemudian dinilai sebagai misi penyelamatan yang berhasil.

Namun, keluarga itu tidak pernah kembali utuh. dr. Cseszko, yang sempat dikabarkan masih hidup, ternyata telah meninggal akibat serangan bom Sekutu menjelang Jepang menyerah. Kabar itu diterima di Morotai, menutup harapan pertemuan kembali keluarga ini (Hardwick, 1947).

Jejak pengabdian itu kini masih tersisa. Rumah sakit yang dahulu dikembangkan oleh dr. Gyula Cseszko dan istrinya, Emma Rosza Hadady von Eörhalma, kini dikenal sebagai Rumah Sakit Daerah Liun Kendage Tahuna.

Puluhan tahun setelah tragedi itu—sekitar delapan dekade kemudian—pada Selasa, 10 Mei 2022, pemerintah daerah meresmikan monumen untuk mengenang dr. Cseszko. Bupati Kepulauan Sangihe saat itu, Jabes Ezar Gaghana, menyebut monumen itu bukan sekadar patung.

“Ini sebuah motivasi mengenang orang-orang yang pernah membaktikan diri. Ini bukan hanya patung, tetapi proses memahami arti perjuangan,” ujarnya.

Ia menegaskan, para pelayan kesehatan pada masa itu telah mencurahkan perhatian bahkan nyawa mereka bagi daerah ini.

“Betapa para pejuang di bidang kesehatan benar-benar memberikan segalanya, bahkan harus meninggalkan nyawa mereka di Sangihe,” kata Gaghana.

Hal serupa disampaikan Direktur RSD Liun Kendage Tahuna, dr. Aprikonus Loris. Ia menjelaskan bahwa pembangunan monumen itu berawal dari usulan yang berkembang dalam berbagai diskusi, lalu mendapat dukungan penuh pemerintah daerah.

Ia kemudian menghubungi perupa Alffian Walukow untuk merealisasikan monumen tersebut.

Bagi Loris, ada nilai penting yang bisa dipetik dari sosok dr. Cseszko dan para pendahulu di bidang kesehatan: kerendahan hati dalam melayani.

“Mereka meninggalkan kenyamanan di negaranya untuk melayani di kepulauan ini,” ujarnya.

Penulis: Rendy Saselah