SELUSURNEWS — Dunia sastra kembali kedatangan karya yang berani menabrak batas-batas konvensional. Penulis muda asal Kepulauan Sangihe, Ardiansyah menghadirkan buku kumpulan puisi berjudul “Ayat Bangsat Firman Bajingan”, sebuah karya yang tidak menawarkan kenyamanan, melainkan rentetan pertanyaan yang mengguncang keyakinan dan kesadaran pembacanya.
Diterbitkan oleh Harasi Publisher, buku yang memuat 38 puisi ini lahir dari pergulatan batin antara iman yang diajarkan dengan kekecewaan terhadap berbagai bentuk otoritas dan praktik moral yang dianggap menyimpang dalam institusi keagamaan. Melalui bahasa yang lugas, kasar, bahkan cenderung vulgar, Ardiansyah mencoba membuka ruang dialog yang selama ini dianggap tabu.
Alih-alih menyajikan jawaban, setiap puisi dalam buku ini justru mengajak pembaca untuk merenung. Kata-kata yang digunakan terasa dekat dengan bahasa sehari-hari, penuh umpatan, sindiran, serta metafora yang sengaja dibuat tidak nyaman. Namun di balik itu, tersimpan kegelisahan mendalam tentang hubungan manusia dengan Tuhan.
Kekuatan utama buku ini terletak pada kejujurannya yang ekstrem. Ardiansyah menuliskan hal-hal yang mungkin pernah dipikirkan banyak orang, tetapi jarang diungkapkan secara terbuka. Di beberapa bagian, pembaca akan menemukan kemarahan, kekecewaan, dan pemberontakan. Namun perlahan, emosi tersebut bertransformasi menjadi refleksi, penyesalan, hingga kepasrahan spiritual.
Meski demikian, buku ini bukan tanpa kontroversi. Bagi sebagian pembaca, judul maupun isi puisinya mungkin dianggap berlebihan atau bahkan menyinggung. Akan tetapi, karya ini memang tampaknya tidak ditujukan untuk menyenangkan semua orang. Ardiansyah menulis untuk mengkritik kemunafikan, penyalahgunaan otoritas, dan praktik-praktik moral yang menurutnya menjauhkan manusia dari esensi keimanan.
Sebagai karya sastra, “Ayat Bangsat Firman Bajingan” hadir sebagai ruang perlawanan sekaligus perenungan. Buku ini menantang pembaca untuk bertanya kembali tentang relasi mereka dengan Tuhan, keyakinan yang dianut, serta nilai-nilai yang selama ini dianggap benar tanpa pernah diuji secara kritis.

Ardiansyah sendiri merupakan penulis kelahiran 15 Oktober 2006. Perjalanannya di dunia literasi dimulai sejak kelas 3 sekolah dasar ketika ia menulis puisi dan mengikuti lomba baca puisi menggunakan karyanya sendiri. Sebelumnya, ia juga menerbitkan buku anak dwibahasa berjudul “Salai Manu Seriwang” melalui Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara.
Selain aktif menulis Puisi, Ardiansyah juga dikenal mengembangkan berbagai proyek literasi pribadi, termasuk novelet “Dengan Alumni, Sehari”. Karakter kritis, produktif, dan konsistensinya dalam berkarya menjadikan namanya mulai diperhitungkan di kalangan penulis muda.
Pada akhirnya, “Ayat Bangsat Firman Bajingan” bukan sekadar kumpulan puisi. Buku ini adalah gugatan, refleksi, dan percakapan panjang tentang iman, luka, serta pencarian makna yang mungkin tidak akan pernah benar-benar selesai.
Pemesanan
Bagi pembaca yang tertarik memiliki buku Ayat Bangsat Firman Bajingan, pemesanan akan mulai dibuka pada 18 Juni 2026 melalui skema pre-order di nomor WhatsApp +62 823-4524-8284. Pada gelombang pertama, pembeli akan memperoleh harga yang lebih terjangkau dibandingkan periode berikutnya, sekaligus berkesempatan mendapatkan berbagai bonus yang disiapkan oleh penulis dan penerbit. (*)
(Editor: Lekra’s)



Tidak ada Respon