Awan Sengketa Senja (Bagian 1)

Redaksi
Ilustrasi (Foto: Ist)
Ilustrasi (Foto: Ist)
A-AA+A++

Purnama malam menyerahkan cahayanya pada pagi. Ketika fajar perlahan menyelimuti langit dengan semburat warna emas dan jingga, aku terbangun ditengah desiran angin laut yang menyusup lembut di sela-sela dedaunan. Usia 20 tahun telah memberiku banyak pengalaman tentang pahit manisnya kehidupan di desa nelayan kecil di pesisir pulau Apapuhang. Di tempat ini kehidupan bagai untaian misteri yang terus mengalir tanpa henti, membawa kisah-kisah yang tak terucapkan, yang hanya bisa dirasakan dalam keheningan pagi.

Aku lahir dari rahim bumi yang sederhana, di mana ombak berbicara dalam bahasa rahasia dan angin menyampaikan bisikan takdir. Dalam keterbatasan yang menghiasi hidupku, aku menemukan keindahan tersembunyi yang tak terucap oleh kata-kata. Seperti bayangan di atas air, aku tak pernah tau pasti kemana hidup akan membawaku.

Ibuku, Ngiang, adalah seorang wanita yang luar biasa. Setiap hari, dia bangun lebih awal dari kami, mempersiapkan segala sesuatu dengan cekatan. Rambutnya yang mulai memutih tetap rapi diikat, dan senyum lembutnya selalu hadir meskipun kelelahan terlihat jelas di wajahnya.

Kehidupan ibuku seperti naskah tua yang ditulis oleh tangan waktu, penuh dengan pengorbanan dan cerita yang hanya bisa dipahami oleh hati yang tulus. Meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan formal dan tidak bisa membaca, ibu memiliki kebijaksanaan tak ternilai, diwarisi dari generasi ke generasi melalui seni pijat yang ia pelajari dari nenekku.

Ayahku, Sumanto, atau yang kerab dipanggil Pak Manto dulunya adalah seorang nelayan yang gigih. Setiap pagi sebelum matahari terbit, dia akan berangkat melaut, menantang ombak demi mencari nafkah untuk kami. Namun, tahun-tahun yang panjang dan keras telah mengambil banyak dari dirinya. Tubuhnya mulai renta dan sering kali sakit-sakitan. Laut yang dulu menjadi medan pertempurannya kini seolah mengingatkannya pada masa-masa penuh perjuangan yang ia jalani.

Penyakit paru-paru yang diderita membuatnya sering terbaring lemah di rumah. Tidak jarang aku melihatnya terbatuk-batuk dan sulit bernapas. Setiap kali dia mencoba untuk kembali melaut, tubuhnya yang semakin lemah mengkhianati keinginannya. Sebab akibatnya, ibuku harus menjadi tulang punggung keluarga.

Ibuku bekerja sebagai tukang pijat, sebuah pekerjaan yang sering kali dianggap rendah oleh masyarakat. Namun, ibu tidak pernah merasa malu atau rendah diri. Dia memijat satu keluarga hanya dengan bayaran sebesar lima belas ribu rupiah.

Tidak jarang, ibu hanya dibayar dengan satu bungkus teh dan kopi, sekilo gula, makanan sisa kemarin yang tidak habis dimakan, kue-kue yang tidak pernah disentuh oleh mereka yang diberkahi hidup berkecukupan, bahkan terkadang, ibu hanya menerima ucapan terima kasih sebagai upah dari setiap keringat lelah yang dikeluarkannya.

Apapun upah yang diberikan, ibu tetap melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati. Baginya, membantu orang lain adalah sebuah berkah. Ibu tidak pernah mengeluhkan keadaan. Meskipun hidup dalam keterbatasan, dia selalu menemukan cara untuk membuat kami merasa cukup.

Desa ini adalah tempat yang indah, namun kehidupan di sini tidaklah mudah. Jalanan yang berbatu dan berlumpur saat hujan, rumah-rumah yang berdiri seadanya dengan atap yang sering bocor, dan fasilitas yang terbatas.

Sekolahku dulu hanyalah sebuah bangunan sederhana dengan papan tulis yang sudah mulai kusam dan meja-meja kayu yang usang. Namun, di sanalah aku belajar banyak hal, bukan hanya dari buku tetapi juga dari kehidupan di sekitar. Aku dan kakakku, Mala, bersekolah di hari yang berbeda.

Miskinnya kehidupan membuat kami hanya memiliki satu pasang sepatu usang yang harus dipakai secara bergantian olehku dan Mala. Jika sepatu yang akan aku gunakan terasa longgar, Mala dengan cermat memasukkan ganjalan berupa serabut kelapa ke dalamnya agar sepatu itu tidak lepas dari kaki kecilku.

Setelah itu, kami harus berjalan kaki sejauh beberapa kilometer untuk sampai ke sekolah. Meskipun lelah, kami selalu bersemangat untuk menimba ilmu karena kami tahu pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan yang mencekik kami.

Bagiku, membaca adalah jendela dunia. Meskipun hidup dalam kemiskinan, aku menemukan cara untuk mengembangkan diriku melalui buku-buku yang dipinjam dari balai desa. Balai desa kami memiliki koleksi buku yang sangat terbatas dan beberapa di antaranya sudah dimakan rayap.

Namun, di balik halaman-halaman yang lusuh dan kata-kata yang terkadang terhapus oleh waktu, aku menemukan dunia baru yang penuh dengan pengetahuan dan petualangan. Berbagai buku karya penulis terkenal seperti Djoko Lelono, Andrea Hirata, Enyd Blyton bahkan Pramoedya Ananta Toer menjadi bacaan rutinku. Setiap kali aku membalik halaman, aku seolah terbang ke berbagai tempat yang belum pernah kulihat dan bertemu dengan tokoh-tokoh yang memberiku inspirasi. Buku-buku usang itu, meski tak sempurna, menjadi harta karunku..

Mala, kakakku, adalah anak yang cerdas dan rajin. Dia selalu bermimpi untuk melanjutkan pendidikan dan menjadi seorang dokter, berharap suatu hari bisa menyembuhkan ayah dari penyakitnya. Namun, ketika orang tua kami memutuskan bahwa dia harus berhenti sekolah, Mala, merasa sangat kecewa. Dia terpaksa mengubur impiannya dan berhenti di bangku sekolah menengah pertama.

“Sungguh, Bu, Mala nda bisa terima ini,” katanya suatu malam dengan mata yang berkaca-kaca. “Kenapa harus Mala yang berhenti sekolah? Mala mau belajar bu, ibu lupa kalau Mala mau jadi dokter? Atau Mala tidak penting buat ibu?” Kalimat itu menusuk jantung ibu.

Tentu saja dia penting. Setiap anak penting. Namun, ibu dan ayah tidak punya cukup dana untuk membiayai kami berdua untuk bersekolah. Harus ada salah satu yang terpaksa mengalah, dan itu Mala. Mala terpaksa mengorbankan mimpinya demi keluarga kami. Suatu hari ibu terpaksa menikahkan Mala dengan seorang pemilik kebun kelapa di desa kami. Ternyata, ibu berhutang cukup banyak padanya dan ini adalah satu-satunya cara untuk melunasi hutang tersebut.

Malang bagi Mala, karena suaminya adalah seorang pemabuk dan penjudi yang selalu berlaku kasar terhadapnya. Setiap kali aku mengunjunginya, sering kali aku menemukan bekas-bekas kekerasan di tubuhnya. Namun, di balik segala penderitaannya, Mala mulai bekerja di sebuah rumah makan karena ia tidak mau bergantung pada uang hasil suaminya berjudi.

Hidup kami yang sudah penuh dengan kesulitan mendadak berubah menjadi mimpi buruk ketika salah satu pasien pijit ibu tiba-tiba meninggal keesokan harinya. Keluarganya marah besar dan menuduh ibu sebagai pembunuh. “Pijatannya itu yang membuat anak kami meninggal!” teriak mereka di depan rumah kami, menarik perhatian seluruh desa.

Kabar itu menyebar dengan cepat, dan segera ibu dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi. Aku tidak pernah bisa melupakan hari itu. Ibu diborgol dan dibawa pergi di depan mata kami. Aku menangis histeris, sementara Mala hanya bisa berdiri kaku, terpaku dalam ketidakpercayaan. Hukum yang ada seolah-olah tidak berpihak pada orang-orang seperti kami. Tanpa ada bukti yang jelas, ibu dijadikan kambing hitam.

Dalam sistem yang sering kali tidak adil, orang miskin seperti kami tidak memiliki banyak pilihan atau perlindungan. Proses hukum berjalan lambat dan penuh dengan ketidakadilan. Ibu, yang seharusnya mendapatkan pembelaan, justru diperlakukan seperti penjahat. Tidak ada pengacara yang membelanya dengan sungguh-sungguh, dan setiap kali kami mencoba untuk membuktikan ketidakbersalahannya, kami hanya diabaikan. Pada akhirnya, ibu dijatuhi hukuman penjara.

Aku tidak bisa menerima kenyataan itu. Orang yang paling tulus dan baik hati dalam hidupku, yang selalu membantu orang lain tanpa pamrih, kini harus menderita di balik jeruji besi……….   (Bersambung!)

Baca juga bagian 2: Awan Sengketa Senja (Bagian 2)

Penulis: Gladys Tamalawe

Artikel Terkait

Awan Sengketa Senja (Bagian 2)

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *