Selusurnews.com — Kepanikan kembali menyelimuti warga Pulau Kawio, Kabupaten Kepulauan Sangihe, setelah gempa bumi berkekuatan Magnitudo 5,4 mengguncang wilayah tersebut pada Kamis (11/6/2026).
Guncangan yang terjadi di tengah aktivitas masyarakat membuat banyak warga spontan berlarian keluar rumah untuk mencari tempat yang lebih aman. Trauma akibat rentetan gempa yang terus terjadi dalam beberapa hari terakhir membuat warga bereaksi cepat setiap kali merasakan getaran.
Jurnalis yang sedang melakukan peliputan di Pulau Kawio, Ricko Takaonselang, mengaku merasakan langsung gempa tersebut saat berada di dalam sebuah rumah bersama sejumlah warga.
“Baru saja terjadi. Dalam beberapa menit terakhir memang sering terasa guncangan gempa ringan. Saat itu saya sedang berada di dalam rumah bersama beberapa warga. Tiba-tiba terasa getaran yang membuat rumah bergoyang dan kami langsung berlari keluar,” ujar Ricko.
Menurutnya, masyarakat Pulau Kawio hingga kini masih diliputi rasa cemas akibat aktivitas gempa yang belum sepenuhnya mereda. Sebagian besar warga masih memilih bertahan di tenda-tenda darurat yang didirikan sebagai tempat evakuasi sementara.
“Saya melihat trauma warga masih sangat tinggi. Begitu merasakan getaran, mereka langsung keluar rumah. Banyak yang memilih berkumpul di area terbuka sambil menunggu informasi lebih lanjut,” katanya.
Meski guncangan tidak berlangsung lama, gempa tersebut cukup membuat warga kembali waspada. Sebagian warga memilih tetap berada di luar rumah karena khawatir terjadi gempa susulan.
Hingga beberapa saat setelah gempa terjadi, banyak warga masih enggan kembali ke dalam rumah dan terus memantau perkembangan situasi di sekitar mereka. Gempa ini juga dirasakan hingga ke daratan Pulau Sangihe besar.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa bumi Magnitudo 5,4 tersebut terjadi pada kedalaman 10 kilometer. Pusat gempa berada sekitar 142 kilometer timur laut Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Trauma warga tidak terlepas dari gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah perbatasan Indonesia-Filipina pada Senin (8/6/2026). Gempa kuat yang berpusat di wilayah Mindanao, Filipina, itu menyebabkan kerusakan pada ratusan bangunan dan fasilitas umum di sejumlah pulau terluar Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Kepulauan Marore termasuk Kawio menjadi dua wilayah yang terdampak paling parah. Hingga kini, sebagian warga masih bertahan di tenda-tenda darurat karena khawatir terjadi gempa susulan.
Sebagai bentuk respons cepat pemerintah daerah, Bupati Kepulauan Sangihe bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) saat ini berada di wilayah kepulauan terluar untuk meninjau langsung kondisi masyarakat sekaligus menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga terdampak. (*)
(Editor: Lekra)







Tidak ada Respon