Selusurnews.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe mencatat sedikitnya 35 warga menjalani penanganan medis pascagempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Kepulauan Sangihe pada Senin, 8 Juni 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe, dr. Handry Pasandaran, mengatakan hingga Selasa (9/6/2026), tidak ditemukan korban dengan cedera berat akibat tertimpa bangunan maupun pohon saat gempa terjadi.
“Berdasarkan laporan dari 17 puskesmas dan dua rumah sakit, kami menangani 35 pasien dari berbagai wilayah di 15 kecamatan yang mengalami gangguan kesehatan saat bencana. Namun sebagian besar merupakan kasus ringan dan penyakit kronis, terutama hipertensi,” kata Handry.
Menurut dia, lonjakan kasus hipertensi diduga dipicu oleh kepanikan, rasa takut, dan kecemasan warga saat gempa mengguncang wilayah tersebut. Meski demikian, seluruh pasien yang ditangani berada dalam kondisi terkendali dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.
Selain berdampak pada kesehatan masyarakat, gempa juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas kesehatan. Kerusakan ringan hingga sedang dilaporkan terjadi di beberapa puskesmas, puskesmas pembantu, dan ruang rawat inap rumah sakit.
Handry mengungkapkan salah satu fasilitas yang terdampak adalah ruang rawat inap Rumah Sakit Liun Kendage Tahuna yang memerlukan penanganan lebih lanjut akibat kerusakan bangunan.
Sejak hari pertama pascabencana, Dinas Kesehatan Sangihe telah menginstruksikan seluruh kepala puskesmas untuk melakukan inventarisasi kasus penyakit yang muncul di wilayah kerja masing-masing serta mendata kerusakan fasilitas kesehatan.
Ia memastikan seluruh kasus kesehatan yang muncul pascagempa telah ditangani oleh fasilitas kesehatan setempat, termasuk di wilayah Kecamatan Kepulauan Marore yang menjadi salah satu kawasan terdampak paling parah.
Sebagai bagian dari upaya tanggap darurat, Dinas Kesehatan juga menyiapkan tim gabungan yang melibatkan tenaga kesehatan dari dua rumah sakit dan 17 puskesmas untuk memberikan pelayanan kesehatan di wilayah terluar Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Tim tersebut akan diterjunkan ke Pulau Kawio, Pulau Matutuang, dan Kepulauan Marore guna melaksanakan pelayanan promotif, preventif, kuratif, serta rehabilitatif bagi masyarakat terdampak gempa.
“Kami berencana bergabung dengan rombongan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe untuk melakukan kunjungan langsung ke wilayah terdampak sebagai bagian dari respons tanggap darurat bencana,” ujar Handry.
Di sisi lain, Dinas Kesehatan Sangihe telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara terkait perkembangan situasi pascagempa. Data jumlah pasien dan kondisi fasilitas kesehatan terdampak telah dilaporkan kepada pemerintah provinsi untuk menjadi dasar penanganan lanjutan.
Saat ini, Dinas Kesehatan masih melakukan asesmen cepat guna memastikan kebutuhan pelayanan kesehatan, ketersediaan tenaga medis, serta perbaikan fasilitas kesehatan yang mengalami kerusakan akibat gempa.
“Setelah seluruh data valid dan hasil asesmen selesai, kami akan menyampaikan permohonan bantuan kepada pihak terkait, termasuk melalui Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara,” kata Handry.
(Editor: Rensa)







Tidak ada Respon