Dalam 24 Jam, BMKG Rekam 130 Gempa Susulan Pascagempa M 7,7 yang Guncang Sangihe

Redaksi
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 130 gempa susulan. (Foto: BMKG)
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 130 gempa susulan. (Foto: BMKG)
A-AA+A++

Selusurnews.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 130 gempa susulan (aftershock) terjadi pascagempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang berpusat di wilayah Mindanao, Filipina, Senin, (8/6/2026).

Berdasarkan pembaruan data BMKG hingga Selasa, 9 Juni 2026 pukul 08.00 WIB, aktivitas gempa susulan masih berlangsung meskipun frekuensinya menunjukkan tren penurunan dibandingkan beberapa jam pertama setelah gempa utama terjadi.

Data BMKG memperlihatkan periode paling aktif terjadi dalam enam jam pertama setelah gempa utama. Pada rentang pukul 08.48–11.48 WIB tercatat 24 kali gempa susulan, menjadi jumlah tertinggi dalam satu periode pemantauan. Tiga jam berikutnya, yakni pukul 11.48–14.48 WIB, masih terjadi 22 gempa susulan.

Namun memasuki malam hingga pagi hari, jumlah kejadian berangsur menurun. Pada periode 23.48–02.48 WIB hanya tercatat lima gempa susulan, sementara pada periode 05.48–08.48 WIB Selasa pagi tercatat tujuh kejadian.

Secara keseluruhan, BMKG mencatat 130 gempa susulan dalam kurun waktu kurang dari 24 jam setelah gempa utama Magnitudo 7,7 mengguncang kawasan perairan Mindanao yang dampaknya turut dirasakan masyarakat di wilayah Sulawesi Utara, khususnya Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud.

Dari total 130 gempa susulan tersebut, hanya satu kejadian yang dilaporkan dirasakan masyarakat.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Naha, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Astrid Lasut, mengatakan seluruh gempa susulan yang tercatat berasal dari hasil perekaman jaringan alat pemantau kegempaan BMKG, baik yang dirasakan masyarakat maupun yang tidak dirasakan.

“Iya betul, itu jumlah gempa susulan yang terekam dalam alat kegempaan kami, termasuk gempa yang dirasakan maupun tidak dirasakan masyarakat,” kata Astrid Lasut kepada wartawan, Selasa, (9/6/2026).

Menurut Astrid, kekuatan gempa susulan saat ini cenderung lebih kecil dibandingkan gempa utama. Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, magnitudo gempa susulan berada pada rentang M3,7 hingga M6,7.

Ia mengimbau masyarakat tidak perlu panik apabila kembali merasakan gempa susulan.

“Himbauan dari BMKG, masyarakat tetap tenang dan jangan panik. Gempa susulan yang terjadi kekuatannya semakin menurun pada rentang M3,7 sampai M6,7 setelah gempa pertama M7,7,” ujarnya.

Astrid menjelaskan langkah yang perlu dilakukan masyarakat apabila merasakan gempa susulan adalah segera keluar rumah menuju tempat terbuka untuk menghindari risiko tertimpa bangunan atau material yang berpotensi roboh.

“Apabila terjadi gempa susulan yang dirasakan, bisa segera keluar rumah. Setelah gempa sudah tidak dirasakan, masyarakat dapat kembali ke rumah masing-masing dan tidak perlu melakukan evakuasi,” katanya.

Sebelumnya, gempa bumi Magnitudo 7,7 yang berpusat di wilayah Mindanao, Filipina, memicu peringatan tsunami di sejumlah wilayah pesisir Indonesia bagian utara. Di Kabupaten Kepulauan Sangihe, gempa tersebut mengakibatkan ratusan bangunan mengalami kerusakan dan memaksa sebagian warga mengungsi.

BMKG memastikan aktivitas gempa susulan masih terus dipantau secara intensif. Meski tren jumlah kejadian mulai menurun, potensi gempa susulan tetap ada sehingga masyarakat diminta terus mengikuti informasi resmi yang dikeluarkan BMKG dan pemerintah daerah.

Data BMKG per 9 Juni 2026 pukul 08.00 WIB

  • Gempa utama: Magnitudo 7,7
  • Total gempa susulan: 130 kejadian
  • Gempa susulan dirasakan: 1 kejadian
  • Magnitudo gempa susulan: M3,7–M6,7

Status pemantauan: Masih berlangsung dan dimonitor BMKG.

(Rensa)