Aktivitas Gunung Api di Perbatasan Indonesia-Filipina Siaga, Radius Bahaya Diperluas 

Redaksi
Gunung Awu Kepulauan Sangihe. (Foto: SNews)
Gunung Awu Kepulauan Sangihe. (Foto: SNews)
A-AA+A++

Sangihe – Lonjakan aktivitas gempa di perut Gunung Awu Kepulauan Sangihe perbatasan Indonesia dan Filipina memicu kewaspadaan baru. Dalam hitungan hari, ratusan getaran terekam, menandai tekanan magma yang kian meningkat dan berpotensi berujung erupsi.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) resmi menaikkan status Gunung Awu di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga), Selasa, 19 Mei 2026, pukul 13.00 WITA.

Keputusan itu diambil setelah terjadi lonjakan signifikan kegempaan vulkanik dangkal dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan laporan khusus PVMBG Nomor 912.Lap/GL.03/BGL/2026, sejak 1 hingga 18 Mei 2026 tercatat 519 kali gempa vulkanik dangkal, 24 gempa vulkanik dalam, 4 gempa tektonik lokal, serta 454 gempa tektonik jauh.

Aktivitas itu belum mereda. Dalam rentang 12 jam pada hari yang sama, Selasa, pukul 00.00 hingga 12.00 WITA, tercatat tambahan 74 gempa vulkanik dangkal dan 3 gempa vulkanik dalam.

PVMBG menilai peningkatan tersebut sebagai indikasi tekanan magma yang terus bertambah di dalam tubuh gunung api. Kondisi ini membuka potensi terjadinya erupsi, baik bersifat magmatik maupun freatik. Selain itu, terdapat kemungkinan pembongkaran kubah lava jika tekanan dalam sistem magmatik meningkat signifikan.

Seiring kenaikan status, PVMBG juga memperluas radius kawasan rawan bencana dari tiga kilometer menjadi empat kilometer dari kawah.

Kepala BPBD Kabupaten Kepulauan Sangihe, Wandu Labesi, meminta masyarakat tetap tenang namun waspada. Ia menegaskan warga tidak melakukan aktivitas dalam radius empat kilometer dari kawah.

“Dengan adanya kenaikan status menjadi Siaga, masyarakat diharapkan tetap tenang dan tidak melakukan aktivitas dalam radius empat kilometer dari kawah,” kata Labesi.

Ia juga meminta para camat memperkuat sosialisasi kepada warga, terutama di empat kecamatan sekitar Gunung Awu.

Pemerintah daerah, kata dia, terus berkoordinasi hingga tingkat kampung dan kelurahan guna memastikan kesiapsiagaan.

“Masyarakat jangan cepat panik dan tetap menunggu arahan resmi dari pemerintah yang terkoordinasi,” ujarnya.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait masih memantau perkembangan aktivitas Gunung Awu secara intensif. Warga diimbau mematuhi seluruh rekomendasi PVMBG untuk meminimalkan risiko jika aktivitas vulkanik meningkat sewaktu-waktu.

(Rensa)