1000215516

Ancaman Kemarau Hantam Wilayah Kepulauan, Pemkab Sitaro Siaga Penuh Hadapi Krisis Air dan Karhutla

Redaksi
Plt Bupati Sitaro Heronimus Makainas saat diwawancarai wartawan. (Foto: Ist)
Plt Bupati Sitaro Heronimus Makainas saat diwawancarai wartawan. (Foto: Ist)

Selusurnews.com — Memasuki pertengahan tahun, ancaman ekologis berupa musim kemarau mulai membayangi wilayah Provinsi Sulawesi Utara. Kondisi cuaca ekstrem yang ditandai dengan penurunan drastis intensitas curah hujan ini memicu peringatan serius di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), memunculkan ancaman ganda berupa krisis air bersih dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Dari sisi geografis dan hidrologis, wilayah kepulauan vulkanik seperti Sitaro memiliki kerentanan yang jauh lebih tinggi dibandingkan daratan besar ketika kemarau melanda. Minimnya daerah tangkapan air alami dalam skala masif di pulau-pulau kecil membuat cadangan air tanah lebih cepat menyusut, sehingga potensi krisis air bersih bagi kebutuhan domestik warga bisa terjadi dalam waktu singkat.

Menyikapi eskalasi ancaman tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kepulauan Sitaro, Heronimus Makainas, SE, MM, langsung mengambil langkah mitigasi cepat. Ia mengeluarkan imbauan resmi yang meminta seluruh elemen masyarakat Sitaro untuk segera meningkatkan kewaspadaan dan mengubah pola konsumsi air sehari-hari.

“Kami mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Sitaro untuk bersama-sama mengantisipasi dampak musim kemarau dengan melakukan penghematan penggunaan air bersih dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” ujar Heronimus Makainas menegaskan arahannya kepada publik, belum lama.

Ancaman kedua yang tak kalah mematikan di wilayah kepulauan saat kemarau adalah Karhutla. Hembusan angin laut yang kuat berpadu dengan vegetasi lereng bukit yang mengering dapat membuat titik api kecil merambat menjadi bencana ekologis berskala besar yang mengancam pemukiman dan lahan pertanian warga.

Oleh karena itu, Plt Bupati secara tegas melarang praktik-praktik tradisional yang berisiko memicu bencana. Masyarakat diimbau keras untuk tidak membuka lahan pertanian atau perkebunan dengan metode tebas-bakar (slash and burn), tidak meninggalkan sisa perapian di kawasan hutan atau kebun, serta menghentikan kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan di area ilalang kering.

Selain ancaman dari luar ruang, Heronimus juga menyoroti kerawanan api dari dalam lingkungan rumah tangga (domestik). Di tengah suhu udara yang panas dan material bangunan yang lebih kering, masyarakat diminta ekstra waspada dalam menggunakan peralatan yang memicu percikan api, seperti instalasi listrik yang rentan korsleting, kompor gas, hingga penggunaan lilin saat terjadi pemadaman listrik.

Meski alarm kewaspadaan dinaikkan, Pemerintah Kabupaten Sitaro memastikan bahwa negara hadir untuk menjamin kebutuhan dasar warganya. Bagi wilayah-wilayah desa atau kelurahan yang mulai mengalami kesulitan akses air bersih, pemerintah daerah telah menyiagakan armada bantuan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk melakukan distribusi air sesuai standar operasional yang berlaku.

Guna memastikan seluruh instruksi mitigasi ini tidak hanya berhenti di tataran atas, kendali birokrasi di tingkat akar rumput pun digerakkan.

“Saya juga menginstruksikan kepada seluruh camat, lurah, dan kapitalau agar terus menyosialisasikan imbauan ini kepada masyarakat sebagai langkah bersama dalam mencegah terjadinya bencana kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Sitaro,” tambah Heronimus.

Langkah mitigasi yang terstruktur ini merupakan cerminan kesiapsiagaan Pemkab Sitaro dalam menghadapi siklus iklim tahunan. Pemerintah berharap, dengan terbangunnya kesadaran kolektif dan sinergi antara aparat dan masyarakat, dampak destruktif musim kemarau dapat ditekan seminimal mungkin sehingga keselamatan jiwa, harta benda, dan lingkungan alam Sitaro tetap terjaga utuh. (**)

Editor: Ady Putong