Selusurnews.com – Dampak musim kering yang diperparah fenomena El Niño mulai dirasakan warga Pulau Kawaluso, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.
Debit sumur warga menyusut drastis. Demi mendapatkan air, sebagian warga bahkan membuat daseng atau rumah sementara di dekat sumber air di tepi pantai.
Kondisi itu menjadi salah satu persoalan yang ditemukan Anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Sangihe, Tonny Mandak, saat melaksanakan Reses Masa Sidang III di Kampung Kawaluso.
Tonny tidak hanya berdialog dengan warga. Ia juga turun melihat langsung permukiman, kawasan pantai, Puskesmas Pembantu (Pustu), dan sejumlah titik sumur yang menjadi sumber air masyarakat.
Di tengah kemarau, air sumur yang biasanya menjadi andalan warga kini tidak lagi mencukupi kebutuhan. Warga pun berharap pemerintah turun tangan menyediakan sarana untuk mengambil dan menyalurkan air.
“Yang paling mendesak adalah persoalan air bersih. Kondisi sumur warga sangat memprihatinkan karena debit air menyusut akibat kemarau,” kata Tonny.
Warga mengusulkan bantuan mesin penyedot air atau “dap” serta generator set sebagai sumber daya untuk mengoperasikannya. Mereka juga meminta fasilitas toilet dan sanitasi dibangun di sekitar lokasi sumber air.
Bagi Tonny, persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan hanya dengan menyediakan mesin pompa.
“Jangan hanya mesin air yang disiapkan. Sanitasi juga harus diperhatikan agar sumber air yang digunakan masyarakat tetap layak dan sehat,” ujarnya.
Kawaluso merupakan wilayah kepulauan yang membuat akses masyarakat terhadap sejumlah pelayanan dasar tidak semudah wilayah daratan. Karena itu, menurut Tonny, kebutuhan air bersih harus ditempatkan sebagai persoalan mendesak.
Selain air bersih, warga menyampaikan persoalan pelayanan kesehatan. Distribusi obat menuju Pustu Kawaluso dinilai terlalu panjang karena harus melalui Puskesmas Kendahe.
Warga berharap obat dapat dikirim langsung ke Pustu. Fasilitas kesehatan itu juga belum memiliki tabung oksigen medis dan regulator untuk menghadapi keadaan darurat.
“Karena Kawaluso berada di wilayah kepulauan, distribusi obat perlu dibuat lebih efektif. Oksigen medis juga penting untuk menghadapi kondisi kegawatdaruratan,” kata Tonny.
Dalam pertemuan tersebut, Tonny berdialog dengan warga, Pj Kapitalaung, perangkat kampung, Danpos Satgas Kodam XIII/Merdeka beserta anggota, Babinsa, Majelis Tua-Tua Kampung, LPM, serta tokoh masyarakat dan agama.
Ia mengatakan seluruh persoalan yang ditemukan akan dimasukkan dalam laporan resmi hasil reses DPRD. Laporan tersebut akan dibawa ke Rapat Paripurna dan disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Tonny juga meminta Pemerintah Kampung Kawaluso segera mengirimkan surat usulan resmi kepada Bupati Kepulauan Sangihe dengan tembusan kepada dinas terkait dan DPRD.
“Surat resmi itu penting sebagai dasar administrasi. Dengan begitu, aspirasi masyarakat memiliki pijakan yang kuat untuk kami kawal dan desakkan di DPRD,” ujarnya.
Bagi warga Kawaluso, persoalan air bukan sekadar urusan pembangunan. Di tengah kemarau, air menentukan bagaimana mereka menjalani hari.
Tonny mengatakan kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa warga di pulau-pulau terluar tetap memiliki hak yang sama atas pelayanan dasar.
“Masyarakat di pulau-pulau terluar memiliki hak yang sama atas pelayanan dasar dan pembangunan,” katanya.
(Editor: Lekra’s)








Tidak ada Respon