1000215516

Skrining Aktif Ungkap Lonjakan HIV/AIDS Sangihe, Kasus Bertambah Sembilan Orang Baru

Redaksi
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe, dr. Handry Pasandaran. (Foto: Ist)
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe, dr. Handry Pasandaran. (Foto: Ist)

Selusurnews.com — Jumlah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang menjalani pengobatan di Kabupaten Kepulauan Sangihe mengalami peningkatan pada awal tahun 2026. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe mencatat, hingga Maret 2026 terdapat 86 ODHA yang menjalani terapi, bertambah sembilan kasus dibandingkan tahun 2025 yang berjumlah 77 kasus.

Peningkatan tersebut tidak semata-mata menunjukkan bertambahnya penularan baru, tetapi juga menjadi indikator bahwa upaya penemuan kasus melalui skrining aktif semakin efektif menjangkau masyarakat yang sebelumnya belum mengetahui status kesehatannya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe, dr. Handry Pasandaran, menjelaskan bahwa perubahan strategi penanganan HIV menjadi salah satu faktor meningkatnya jumlah kasus yang terdata.

Menurutnya, jika sebelumnya penemuan kasus lebih banyak dilakukan secara pasif dengan menunggu pasien datang saat kondisi kesehatan sudah memburuk, kini pemerintah aktif melakukan pemeriksaan kepada kelompok sasaran, termasuk ibu hamil, pekerja, serta masyarakat yang masuk kategori berisiko tinggi.

“Sekarang kami melakukan skrining secara aktif. Karena itu jumlah kasus yang ditemukan menjadi lebih banyak dibandingkan periode sebelumnya,” ujar Handry, Selasa (23/6/2026).

Data Dinas Kesehatan menunjukkan beberapa wilayah mengalami kenaikan jumlah ODHA yang menjalani pengobatan. Di Kelurahan Manente, Kecamatan Tahuna, jumlah kasus meningkat dari delapan menjadi 10 orang. Kecamatan Manganitu naik dari sembilan menjadi 11 kasus, sementara Kecamatan Tabukan Tengah bertambah dari dua menjadi empat kasus. Kenaikan juga tercatat di Tahuna Barat, Enemawira, dan Manalu.

Sementara itu, Kecamatan Tamako masih menjadi wilayah dengan jumlah ODHA terbanyak yang menjalani pengobatan, yakni 14 orang. Disusul Lapango di Kecamatan Manganitu Selatan sebanyak 12 kasus dan Tahuna Timur sebanyak 12 kasus.

Handry mengatakan HIV merupakan penyakit infeksi dengan masa inkubasi yang panjang. Seseorang dapat terinfeksi selama bertahun-tahun tanpa menunjukkan gejala yang jelas sehingga banyak kasus baru diketahui ketika kondisi kesehatan penderita sudah menurun.

Karena itu, ia menilai peningkatan jumlah kasus yang ditemukan melalui skrining justru menjadi langkah penting dalam memutus rantai penularan dan mencegah penyakit berkembang menjadi AIDS.

“Kalau diketahui lebih awal dan pasien rutin mengonsumsi obat, peluang untuk hidup sehat dan produktif tetap sangat besar,” katanya.

Dinas Kesehatan juga mengidentifikasi sejumlah faktor yang masih memicu peningkatan kasus HIV di daerah tersebut. Di antaranya perilaku seksual berisiko, berganti-ganti pasangan, praktik hubungan seksual tidak aman pada populasi kunci, serta masih banyaknya orang yang belum mengetahui status HIV sehingga berpotensi menularkan kepada pasangan.

Risiko penularan juga dapat terjadi dari ibu hamil yang terinfeksi kepada bayi yang dikandung apabila tidak dilakukan deteksi dan pengobatan sejak dini.

Untuk menekan laju penularan, Dinas Kesehatan Sangihe terus memperluas edukasi kepada masyarakat. Sepanjang tahun 2026, tim kesehatan telah beberapa kali turun ke sekolah-sekolah menengah atas untuk memberikan penyuluhan mengenai kesehatan reproduksi, bahaya HIV/AIDS, serta penyalahgunaan narkoba.

Selain menyasar pelajar, edukasi juga dilakukan kepada ibu hamil dan keluarga, serta melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam kampanye pencegahan HIV/AIDS.

Dinas Kesehatan berharap masyarakat tidak takut melakukan pemeriksaan HIV, terutama bagi mereka yang merasa memiliki faktor risiko. Semakin cepat infeksi diketahui, semakin besar peluang pasien menjalani hidup sehat melalui terapi yang tersedia saat ini.

Peningkatan jumlah ODHA yang terdata pada awal 2026 pun menjadi gambaran bahwa upaya deteksi dini mulai menjangkau lebih banyak masyarakat. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap kasus yang ditemukan dapat segera memperoleh pengobatan dan pendampingan sehingga rantai penularan HIV di Kabupaten Kepulauan Sangihe dapat ditekan.

(Editor: Lekra’s)