Teras Sampiri, Taman Baca di Ujung Utara Indonesia yang Menyalakan Harapan Literasi

Redaksi
Aktivitas anak-anak remaja membaca buku di Taman Baca Masyarakat Teras Sampiri. (Foto: Fernando Loronusa)
Aktivitas anak-anak remaja membaca buku di Taman Baca Masyarakat Teras Sampiri. (Foto: Fernando Loronusa)
A-AA+A++

Talaud – Di wilayah perbatasan Indonesia–Filipina, tepatnya di Desa Dapalan, Kepulauan Talaud, ujung utara Pulau Sulawesi. Sebuah taman baca sederhana tumbuh dari inisiatif warga. Taman Baca Masyarakat (TBM) Teras Sampiri hadir sebagai ruang literasi yang membuka akses bacaan bagi masyarakat di kawasan terluar negeri.

TBM ini menjadi satu-satunya taman baca di Kepulauan Talaud. Gagasan ini lahir dari Dodi Maarial, pegiat literasi lokal yang dikenal dengan nama Teras Sampiri. Berangkat dari kecintaannya terhadap buku, ia memulai taman baca tersebut dengan koleksi pribadi sekitar 200 buku.

Nama “Sampiri” yang disematkan pada taman baca ini bukan tanpa alasan. Sampiri merupakan satwa endemik khas Kepulauan Talaud, yang menjadi simbol kedekatan inisiatif ini dengan identitas lokal.

“TBM ini didirikan dengan tujuan menyediakan akses bacaan yang mudah, gratis, dan dekat dengan masyarakat,” kata Dodi.

Sejak mulai beroperasi pada 2024, TBM Teras Sampiri berkembang menjadi ruang belajar alternatif yang nyaman, khususnya bagi anak-anak di desa. Berbagai aktivitas seperti membaca bersama dan belajar sambil bermain rutin dilakukan untuk menumbuhkan minat baca sejak dini.

Tak hanya anak-anak remaja, para orang tua juga menyempatkan diri membaca buku di taman baca ini. (Foto: Fernando Loronusa)

Perkembangan signifikan terjadi pada 2025, ketika TBM ini memperoleh dukungan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Kepulauan Talaud berupa 1.000 buku bacaan anak dan lemari buku dari Perpustakaan Nasional. Selain itu, bantuan juga datang dari berbagai pihak, seperti Donasi Buku Kita Indramayu, NGO Pusat Informasi Sampiri, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara Resort Karakelang Utara, serta sumbangan masyarakat.

Pengelolaan taman baca ini dilakukan secara mandiri oleh relawan, yang sebagian besar merupakan pemuda desa. Sistem administrasi pun telah diterapkan, mulai dari kartu anggota, pencatatan sirkulasi buku, hingga pemberlakuan denda keterlambatan pengembalian.

Kehadiran TBM Teras Sampiri memberi dampak positif bagi masyarakat. Minat baca anak-anak mulai tumbuh, dan taman baca ini menjadi ruang berkumpul yang produktif bagi generasi muda di wilayah perbatasan.

“Saya memulai dari koleksi pribadi sekitar 200 buku, didorong oleh kecintaan terhadap buku dan dunia literasi,” ujar Dodi.

Salah satu pengunjung, Artis Menalang, mengaku merasakan langsung manfaat keberadaan taman baca tersebut. “Dulu saya jarang membaca karena sulit mendapatkan buku. Sekarang saya jadi lebih sering datang untuk membaca dan belajar hal-hal baru,” ujarnya, Selasa, (7/4/2026).

Meski membawa dampak positif, TBM Teras Sampiri masih menghadapi sejumlah tantangan. Keterbatasan koleksi buku, minimnya dana operasional, fasilitas yang belum memadai, serta kurangnya relawan tetap menjadi kendala utama. Selain itu, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya literasi juga masih perlu ditingkatkan.

Ke depan, pengelola berharap dukungan dari pemerintah dan berbagai pihak dapat terus menguatkan keberlanjutan taman baca ini. Dengan tambahan koleksi, fasilitas yang lebih baik, serta program literasi yang beragam, TBM Teras Sampiri diharapkan menjadi pusat edukasi dan kreativitas bagi masyarakat di beranda utara Indonesia.

(Fernando Loronusa)