Sangihe – Pemerintah Kampung Utaurano bersama masyarakat bergerak cepat merespons kerusakan parah jalan poros kabupaten ruas kampung Utaurano yang selama ini dikeluhkan warga. Tanpa menunggu terlalu lama, perbaikan darurat dilakukan melalui kegiatan pengecoran jalan secara swadaya.
Kegiatan ini difokuskan di wilayah Lendongon 1 dan Lendongon 2, yang menjadi titik terparah kerusakan. Material yang digunakan berupa campuran semen dan pasir, dengan pengerjaan melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat.
Kapitalaung Utaurano, Herdyanto Takapulungang, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap kondisi infrastruktur yang sudah sangat memprihatinkan.
“Kami tidak ingin hanya menunggu. Jalan ini adalah urat nadi aktivitas masyarakat. Kalau bukan kita yang bergerak, lalu siapa lagi? Ini bukan sekadar pengecoran, tapi wujud kebersamaan dan tanggung jawab untuk masa depan kampung,” ujar Herdyanto.
Ia menambahkan, kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah kampung dan masyarakat mampu menghadirkan solusi nyata, meski dengan keterbatasan anggaran.
Perbaikan jalan tersebut didanai melalui Pendapatan Asli Desa (PADes) yang bersumber dari hasil usaha Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Ke depan, penanganan serupa juga direncanakan akan dilanjutkan di wilayah Lendongon 5.
Hingga tahun 2026, tercatat ada tiga ruas jalan kabupaten yang melintasi Kampung Utaurano. Dua di antaranya, yakni ruas Utaurano–Kedang, yang telah ditangani sejak 2019, serta ruas Raku–Tolendano–Mangehese–Lenganeng, kini dalam kondisi baik dan telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Sementara itu, ruas dalam Kampung Utaurano masih menjadi satu-satunya jalur yang mengalami kerusakan berat dan membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah.
Pemerintah kampung melalui Kapitalaung juga terus melakukan koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) serta mengajukan proposal kepada pemerintah kabupaten Sangihe untuk penanganan lebih lanjut.
“Harapan kami jelas, jalan ini tidak hanya diperbaiki sementara, tapi bisa ditingkatkan menjadi jalan hotmix agar benar-benar layak dan tahan lama. Kami sudah berupaya, sekarang kami berharap ada dukungan nyata dari pemerintah Tanah Tampungang Lawo,” tegas Herdyanto.
Langkah gotong royong ini menjadi contoh bahwa inisiatif dari tingkat kampung mampu menjadi pemantik perubahan, sekaligus pengingat bahwa pembangunan infrastruktur adalah tanggung jawab bersama
(Ryansengala)







Tidak ada Respon