Selusurnews.com — SPX Cabang Tahuna menjelaskan keterlambatan pengiriman barang yang dikeluhkan masyarakat di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Perubahan jalur distribusi, dengan pemisahan pengiriman paket standar melalui udara dan paket ekonomi melalui laut, disebut menjadi salah satu penyebab keterlambatan.
Manager SPX Cabang Tahuna, Subhi Pampang, mengatakan kebijakan tersebut merupakan bagian dari program yang dijalankan tim Jakarta. Kebijakan itu mulai diberlakukan pada 5 Oktober 2026.
“Paket standar itu melalui udara, sedangkan paket-paket ekonomi melalui kapal laut atau sea freight,” kata Subhi saat memberikan penjelasan terkait keluhan keterlambatan pengiriman barang, Selasa, (27/10/2026).
Menurut Subhi, sebelum perubahan tersebut, barang umumnya dapat tiba di Tahuna dalam waktu sekitar empat hingga lima hari. Namun, sejak pengiriman paket ekonomi dialihkan melalui jalur laut, sejumlah barang yang diperkirakan tiba pada pertengahan Oktober belum diterima hingga wawancara berlangsung.
Ia mengatakan pihaknya belum dapat memastikan waktu kedatangan barang karena bergantung pada proses pengiriman dan penerimaan paket di Tahuna.
Subhi menjelaskan, penggunaan jalur laut berkaitan dengan kendala pengiriman melalui pesawat. Sejumlah paket mengalami penolakan di bandara karena masuk kategori Dangerous Goods (DG) atau barang berbahaya, antara lain aki mobil, aki motor, telepon genggam, dan power bank.
Menurut dia, pengiriman melalui laut diterapkan agar paket-paket dalam kategori tersebut dapat dikirim. Namun, perubahan jalur itu memiliki konsekuensi terhadap waktu pengiriman.
“Paket-paket yang dilalui melalui pesawat atau udara itu banyak tolakan-tolakan. Karena itu, digunakan jasa pengiriman melalui laut agar paket-paket kategori DG ini bisa diloloskan, tetapi risikonya keterlambatan,” ujarnya.
Subhi menambahkan, kebijakan tersebut juga berdampak pada wilayah kepulauan lainnya, termasuk Sitaro dan Talaud. Ia menyebut keluhan serupa terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Beo dan Melonguane di Kabupaten Kepulauan Talaud.
Pihak SPX Tahuna, kata dia, telah berkoordinasi dengan kantor pusat untuk membahas persoalan tersebut. Ia juga berencana menggelar pertemuan teknis dengan tim Jakarta dan atasannya di Manado guna mengevaluasi program pengiriman yang sedang berjalan.
Subhi berharap jalur pengiriman dapat dikembalikan seperti sebelumnya sehingga waktu pengiriman kembali sekitar lima hari. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa perubahan kebijakan tersebut berpotensi membuat paket-paket yang sebelumnya ditolak melalui jalur udara kembali menghadapi kendala pengiriman.
“Ke depan, mungkin saya akan melakukan technical meeting dengan teman-teman Jakarta dan atasan saya yang di Manado terkait program ini,” katanya.
(Chres L)







Tidak ada Respon