Festival Kehati Sangihe Dorong Kesadaran Pelestarian Alam dari Kehidupan Sehari-hari

Chres Limpong
Antusiasme anak-anak mengikuti Festival Keanekaragaman Hayati Sangihe 2026. (Foto: Ist)
Antusiasme anak-anak mengikuti Festival Keanekaragaman Hayati Sangihe 2026. (Foto: Ist)

Selusurnews.com – Burung Indonesia Sangihe menggelar Festival Keanekaragaman Hayati (Kehati) pada Kamis hingga Sabtu, 29–31 Oktober 2026. Berlokasi di Taman Kota Tahuna, kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2026.

Festival tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati, termasuk sumber pangan yang dikonsumsi sehari-hari.

Community Participation Officer (CPO) Burung Indonesia Sangihe sekaligus penanggung jawab kegiatan, Marvio Pantas, mengatakan festival ini menjadi ruang kolaborasi untuk memperkenalkan kekayaan flora dan fauna di Kepulauan Sangihe.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi agenda tahunan dan mendapat dukungan pemerintah daerah.

“Tentu harapannya ini bisa jadi program tahunan dan juga bisa diinisiasi oleh pemerintah daerah (Pemda), sehingga tidak sekadar menjadi acara seremonial,” ujar Marvio saat ditemui di sela-sela persiapan kegiatan.

Menurutnya, keanekaragaman hayati tidak hanya berkaitan dengan perlindungan satwa liar, seperti burung endemik. Namun, juga mencakup berbagai sumber pangan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

“Kalau kita bahas satwa burung, itu terkadang terkesan kejauhan. Padahal, keragaman hayati juga berbicara tentang apa yang ada di piring meja makan kita hari ini, seperti nasi, sagu, dan ubi yang menjadi bagian dari penopang hidup manusia,” katanya.

Marvio menjelaskan, pemahaman tersebut penting agar masyarakat melihat pelestarian lingkungan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menjaga ketersediaan pangan dan sumber daya alam.

Festival ini mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe, jejaring Sekolah Lingkungan Cerdas (SLC), Excellcy English School (LKP Sangihe Learning Center), serta sejumlah sekolah tingkat SMP dan SMA. Masyarakat dari berbagai desa juga turut ambil bagian.

Selain edukasi dan pameran lingkungan, kegiatan ini menghadirkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mempromosikan berbagai produk lokal.

Penyelenggara berharap Festival Kehati dapat masuk dalam agenda rutin pemerintah daerah. Dengan demikian, edukasi tentang pelestarian keanekaragaman hayati dapat dilakukan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak masyarakat.

(Rendy/Chres L)