Selusurnews.com – Dari Perang Falklands hingga “Hand of God”, kini sejarah memanggil lagi di semifinal Piala Dunia 2026.
Ada pertandingan besar, ada pertandingan klasik, dan ada pertandingan yang menjadi bagian dari sejarah dunia. Pertemuan Inggris melawan Argentina termasuk kategori terakhir.
Ketika kedua negara bertemu di semifinal Piala Dunia 2026, dunia tidak hanya menyaksikan duel dua kekuatan sepak bola. Dunia akan kembali membuka lembaran sejarah yang telah ditulis selama lebih dari enam dekade—tentang perang, dendam olahraga, kontroversi, hingga momen-momen yang mengubah sejarah Piala Dunia. Pertandingan ini menjadi salah satu semifinal paling dinanti karena mempertemukan dua negara yang memiliki rivalitas paling kompleks dalam sepak bola internasional.
Rivalitas yang lahir jauh sebelum Maradona
Inggris dan Argentina pertama kali bertemu pada 1951. Namun rivalitas mereka baru benar-benar memanas pada era 1960-an.
Pada Piala Dunia 1966 di Inggris, kedua negara bertemu di perempat final. Inggris menang 1-0 melalui gol Geoff Hurst, tetapi pertandingan dikenang karena pengusiran kapten Argentina Antonio Rattín oleh wasit asal Jerman, Rudolf Kreitlein.
Rattín menolak meninggalkan lapangan karena merasa tidak memahami alasan pengusiran tersebut. Insiden itu membuat hubungan sepak bola kedua negara memburuk. Pelatih Inggris saat itu, Alf Ramsey, bahkan melarang para pemainnya bertukar kostum dengan Argentina setelah pertandingan.
Empat tahun kemudian, Inggris menjadi juara dunia untuk pertama dan hingga kini satu-satunya kali.
Tahun 1982 menjadi titik balik rivalitas tersebut.
Inggris dan Argentina berperang memperebutkan Kepulauan Falkland—atau Islas Malvinas menurut Argentina. Konflik selama sekitar 74 hari menewaskan lebih dari 900 orang dan meninggalkan luka mendalam di kedua negara.
Empat tahun kemudian, kedua negara dipertemukan di perempat final Piala Dunia 1986.
Sejak saat itulah pertandingan Inggris melawan Argentina tidak pernah lagi dipandang sebagai sekadar pertandingan sepak bola.
1986: 10 menit yang mengubah sejarah sepak bola
Sulit menemukan pertandingan yang memiliki dampak sebesar Argentina melawan Inggris pada Piala Dunia 1986.
Dalam waktu hanya empat menit, Diego Maradona mencetak dua gol yang bertolak belakang.
Gol pertama lahir melalui sentuhan tangan yang kemudian dikenang sebagai “Hand of God”, salah satu gol paling kontroversial sepanjang sejarah sepak bola.
Empat menit kemudian, Maradona menggiring bola melewati lima pemain Inggris sebelum menaklukkan Peter Shilton. FIFA kemudian menjuluki gol itu sebagai “Goal of the Century”.
Satu pertandingan menghasilkan dua gol paling terkenal dalam sejarah sepak bola.
Argentina menang 2-1 dan melanjutkan perjalanan hingga menjadi juara dunia.
1998: Beckham menjadi musuh publik
Dua belas tahun berselang, drama kembali terjadi.
Pada babak 16 besar Piala Dunia 1998, David Beckham mendapat kartu merah setelah bereaksi terhadap pelanggaran Diego Simeone.
Dengan sepuluh pemain, Inggris mampu bertahan hingga adu penalti, tetapi akhirnya kalah.
Selama bertahun-tahun Beckham menjadi sasaran kritik keras media dan suporter Inggris. Kekalahan itu menjadi salah satu luka terbesar generasi sepak bola Inggris.
2002: Saat Inggris membalas
Empat tahun kemudian Inggris akhirnya memperoleh “balas dendam”.
Gol penalti David Beckham membawa Inggris menang 1-0 atas Argentina pada fase grup Piala Dunia 2002.
Kemenangan itu bukan sekadar tiga poin, tetapi menjadi penebusan bagi Beckham sekaligus mengakhiri rentetan hasil buruk Inggris melawan Argentina di Piala Dunia.
Statistik berbicara: Inggris unggul, tetapi Argentina menang pada momen terbesar
Secara keseluruhan, Inggris memiliki catatan lebih baik dalam pertemuan resmi.
Rekor resmi kedua tim
Pertandingan: 13–14 kali (tergantung klasifikasi pertandingan yang dihitung)
- Inggris menang: 6
- Argentina menang: 2
- Imbang: 5
Khusus di Piala Dunia
- 1962: Inggris 3-1 Argentina
- 1966: Inggris 1-0 Argentina
- 1986: Argentina 2-1 Inggris
- 1998: 2-2 (Argentina menang adu penalti)
- 2002: Inggris 1-0 Argentina
Jika hanya menghitung kemenangan dalam 90 menit, Inggris unggul 3-1. Namun jika menghitung siapa yang lolos dari fase gugur, keduanya sama-sama pernah saling menyingkirkan dalam perjalanan menuju gelar juara dunia—Inggris pada 1966 dan Argentina pada 1986.
Semifinal 2026: Generasi baru, sejarah lama
Menariknya, pelatih Argentina Lionel Scaloni berusaha meredam nuansa sejarah tersebut.
Ia menegaskan bahwa laga melawan Inggris hanyalah pertandingan sepak bola dan meminta publik tidak lagi mengaitkannya dengan konflik politik masa lalu. Namun, sulit menghapus memori kolektif yang telah terbentuk selama puluhan tahun.
Di lapangan nanti, duel akan mempertemukan dua generasi berbeda.
Inggris datang dengan talenta muda seperti Jude Bellingham yang sedang berada dalam performa terbaik, sementara Argentina masih dipimpin Lionel Messi, ditemani Julián Álvarez, Lautaro Martínez, dan Alexis Mac Allister. Kedua tim mencapai semifinal setelah melewati laga perempat final yang sama-sama berlangsung hingga babak tambahan waktu.
Semifinal ini menawarkan lebih dari sekadar kesempatan menuju final Piala Dunia.
Bagi Inggris, kemenangan akan menjadi langkah untuk menghapus bayang-bayang Maradona yang masih menghantui sejarah sepak bola mereka.
Bagi Argentina, kemenangan akan memperkuat narasi bahwa mereka selalu mampu mengatasi rival yang paling emosional dalam sejarahnya.
Tidak banyak pertandingan yang membawa beban sejarah sebesar ini. Ketika peluit pertama dibunyikan di Atlanta, yang dipertaruhkan bukan hanya satu tempat di final Piala Dunia, tetapi juga bab berikutnya dari salah satu rivalitas terbesar yang pernah dimiliki sepak bola.(*)
(Editor: Lekra’s)








Tidak ada Respon