1000215516

Gempa M 7,7 Guncang Barat Laut Tahuna, Warga Kepulauan Sangihe Mengungsi Usai Peringatan Tsunami

Redaksi
Warga Tahuna mengungsi di dataran tinggi, pasca gempa M 7,7. (Foto: Snews)
Warga Tahuna mengungsi di dataran tinggi, pasca gempa M 7,7. (Foto: Snews)

Selusurnews.com – Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah barat laut Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Senin pagi, 8 Juni 2026. Guncangan kuat yang terjadi pukul 06.37 WIB itu memicu peringatan dini tsunami dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk sejumlah wilayah di Indonesia bagian timur.

BMKG mencatat pusat gempa berada sekitar 236 kilometer barat laut Tahuna. Selain Sulawesi Utara, peringatan dini tsunami juga dikeluarkan untuk wilayah Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Kalimantan Timur. Informasi tersebut segera menyebar ke masyarakat dan memicu proses evakuasi di sejumlah kawasan pesisir.

Suasana kepanikan sempat mewarnai proses evakuasi. Warga terlihat berbondong-bondong meninggalkan rumah mereka menuju lokasi yang dianggap lebih aman setelah mendengar adanya peringatan dini tsunami. Mereka menggunakan kendaraan pribadi maupun berjalan kaki sambil membawa berbagai kebutuhan penting seperti pakaian, makanan, dokumen berharga, hingga perlengkapan tidur.

Sejumlah wilayah di Kepulauan Sangihe menjadi titik pengungsian warga. Di antaranya kawasan sepanjang Jalur Tahuna–Tabukan Utara, wilayah Eneratu, Kaluhaghi, hingga ruas Tahuna–Manganitu yang berada di dataran lebih tinggi. Kawasan-kawasan tersebut dipadati warga yang memilih mengungsi sembari menunggu perkembangan informasi resmi dari BMKG dan pemerintah daerah.

“Begitu mendengar ada peringatan tsunami, kami langsung mengajak keluarga keluar dari rumah dan menuju tempat yang lebih tinggi,” kata seorang warga yang ditemui di lokasi pengungsian.

Arus lalu lintas menuju kawasan perbukitan dan daerah tinggi mengalami peningkatan signifikan dalam waktu singkat. Meski demikian, proses evakuasi berlangsung relatif tertib dengan pengawasan aparat keamanan serta dukungan pemerintah daerah yang terus menyampaikan informasi dan arahan kepada masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe bersama unsur TNI, Polri, BPBD, dan instansi terkait terus memantau perkembangan situasi pascagempa. Masyarakat diimbau tetap tenang, tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, serta mengikuti arahan resmi dari BMKG terkait potensi tsunami dan kondisi terkini di lapangan.

Hingga siang hari, sebagian besar warga masih bertahan di titik-titik pengungsian. Mereka menunggu kepastian kondisi keamanan wilayah serta perkembangan terbaru terkait potensi tsunami setelah gempa kuat yang mengguncang kawasan Kepulauan Sangihe tersebut.

(Rensa)