Sangihe – Nama Johanis Pilat mendadak menjadi perbincangan di lingkungan birokrasi Kabupaten Kepulauan Sangihe setelah resmi dilantik sebagai Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda), Selasa, (2/6/2026). Namun yang menarik, pelantikan itu bukan sekadar pengisian jabatan administratif. Bupati Kabupaten Kepulauan Sangihe Michael Thungari secara terbuka mengungkap alasan mengapa kepercayaan itu jatuh kepada Pilat.
Di hadapan jajaran pejabat daerah yang hadir di Ruang Serbaguna Rumah Jabatan Bupati, Michael mengisahkan perjalanan panjang karier Johanis Pilat yang dimulai dari posisi paling bawah dalam birokrasi pemerintahan.
“Keyakinan ini bukan tanpa dasar, tetapi berangkat dari perjalanan pengabdian yang ditempuh dalam memulai karier dari tahap yang sederhana sebagai tenaga honorer, dan sopir camat di Kantor Camat Tabukan Tengah,” kata Michael dalam sambutannya.
Pernyataan itu menjadi bagian paling menarik dari prosesi pelantikan. Di tengah budaya birokrasi yang sering menempatkan jabatan sebagai simbol status, Michael justru menyoroti proses panjang, kerja keras, dan loyalitas sebagai alasan utama memilih Pilat.
Menurut dia, pengalaman memulai karier dari bawah telah membentuk karakter kepemimpinan yang kuat dalam diri Johanis Pilat. Nilai-nilai disiplin, ketekunan, dan loyalitas yang terbangun selama bertahun-tahun dinilai menjadi modal penting untuk memimpin birokrasi Sangihe.
“Pada titik itulah terbentuk nilai-nilai kerja keras, disiplin dan loyalitas dalam melayani. Perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa kepercayaan dan tanggung jawab besar tidak hadir secara instan, melainkan dibangun melalui proses panjang dan ketekunan menjaga integritas,” ujarnya.
Michael menegaskan, jabatan Sekretaris Daerah bukan sekadar posisi administratif. Sekda merupakan jabatan tertinggi dalam karier aparatur sipil negara di daerah sekaligus motor penggerak birokrasi yang menentukan arah koordinasi pemerintahan.
“Seorang sekretaris daerah tidak hanya dituntut menjadi administrator yang baik, tetapi juga pemimpin birokrasi yang mampu membangun koordinasi, menjaga harmonisasi, dan memastikan roda pemerintahan berjalan efektif, efisien, serta akuntabel,” kata dia.
Karena itu, pelantikan Johanis Pilat dinilai bukan sekadar promosi jabatan, melainkan penghargaan atas perjalanan pengabdian yang panjang.
Michael bahkan mengajak seluruh kepala perangkat daerah untuk memberikan ruang dan dukungan kepada pejabat baru tersebut.
“Jangan melihat kekurangan seseorang. Percayalah setiap orang memiliki kesempatan untuk menunjukkan kapasitas dan kemampuan dirinya,” ujarnya.
Misi Membangun “Super Tim”
Usai dilantik, Johanis Pilat langsung membeberkan fokus utama yang akan dikerjakannya sebagai Pj Sekda. Baginya, tantangan terbesar birokrasi saat ini bukan sekadar menyelesaikan program, melainkan membangun soliditas aparatur sipil negara.
“Kita harus mampu membangun tim work. Bahkan lebih dari itu, membentuk super tim. Prestasi tidak boleh menjadi milik individu, tetapi menjadi prestasi bersama,” kata Pilat.
Ia menilai kompleksitas persoalan pemerintahan saat ini hanya bisa dijawab melalui kolaborasi dan penguatan manajemen talenta di lingkungan ASN.
Menurut Pilat, setiap aparatur harus diberikan ruang untuk berperan dan mengaktualisasikan kapasitasnya demi menghasilkan kinerja organisasi yang optimal.
“Saya melihat setiap pribadi dalam struktur birokrasi harus mendapatkan ruang peran. Mereka harus diberi kesempatan mengonstruksikan perannya untuk menjadi kekuatan bersama,” ujarnya.
Pejabat yang dijuluki “eksekutor” oleh mantan Kepala Biro Hukum Sumber Daya Manusia, Organisasi dan Tata Laksana pada Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) RI yang sempat menjadi Penjabat bupati Kepulauan sangihe 2024-2025, Albert Huppy Wounde itu menyoroti pentingnya membangun kepercayaan antarpegawai. Tanpa kepercayaan, kata dia, sulit menghadirkan pelayanan publik yang berkualitas.
Karena itu, ia mengajak seluruh jajaran birokrasi bekerja lebih keras dibanding sebelumnya.
“Sekarang kita tidak ada pilihan lain. Kita harus bekerja lebih dari yang biasa. Harus kerja cepat, tepat, dan terlebih harus tuntas,” katanya.
Menurut Pilat, ketidakmampuan pemerintah menuntaskan sebuah persoalan akan melahirkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap birokrasi.
“Apapun itu, sekecil apa pun persoalannya, harus diselesaikan secara cerdas, cepat, tepat dan tuntas,” ujarnya.
Pelantikan Johanis Pilat menjadi salah satu kisah langka dalam birokrasi daerah. Dari seorang sopir honorer di kantor kecamatan hingga dipercaya menduduki kursi tertinggi ASN di Kabupaten Kepulauan Sangihe, perjalanan kariernya menjadi bukti bahwa loyalitas, kerja keras, dan integritas masih menjadi mata uang penting dalam pemerintahan.
Kini, tantangan berikutnya menanti: membuktikan bahwa kepercayaan yang diberikan Bupati Michael Thungari dapat diterjemahkan menjadi birokrasi yang lebih solid, cepat, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat Sangihe. (*)
(Red)







Tidak ada Respon