Film Anak Indonesia Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua Raih Penghargaan Global, Siap Tayang di Eropa

Redaksi
Film anak Indonesia Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua meraih penghargaan internasional dan bersiap menyapa penonton Eropa melalui festival film di Belgia dan Luksemburg. (Foto: Ist)
Film anak Indonesia Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua meraih penghargaan internasional dan bersiap menyapa penonton Eropa melalui festival film di Belgia dan Luksemburg. (Foto: Ist)

Selusurnews.com — Film anak Indonesia Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua meraih penghargaan Global Peace and Friendship dalam Universal Kids Film Festival 2026. Setelah penghargaan tersebut diumumkan pada 12 Oktober 2026, film garapan sutradara Anggi Frisca itu bersiap melanjutkan perjalanannya ke sejumlah lokasi pemutaran di Belgia dan Luksemburg pada 2–7 November 2026.

Diproduksi PT Aksa Bumi Langit, film ini mengangkat persahabatan anak-anak Papua sekaligus hubungan masyarakat adat dengan hutan sebagai ruang hidup, sumber pengetahuan, identitas budaya, dan penopang keberlanjutan generasi mendatang.

Di Eropa, film ini dijadwalkan menjalani pemutaran perdana (Europe Premiere) melalui Filem’On International Film Festival for Young Audiences. Film tersebut juga terseleksi dalam kategori CIFEJ Award untuk film panjang (feature film).

Penghargaan dan rangkaian pemutaran internasional itu menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kisah anak-anak Papua kepada penonton lintas negara. Film ini sekaligus membuka ruang percakapan mengenai perdamaian, pelestarian lingkungan, penghormatan terhadap masyarakat adat, dan hak anak untuk menyuarakan masa depan mereka.

Hutan dan masa depan anak-anak Papua

Melalui persahabatan Tegar dan Maira, film ini menempatkan hutan Papua bukan sekadar lanskap dengan kekayaan hayati, melainkan ruang hidup yang berkaitan erat dengan penghidupan, pengetahuan lokal, dan identitas masyarakat yang tumbuh bersamanya.

Bagi masyarakat yang hidup bersama hutan, hubungan dengan alam tidak hanya menyangkut pemanfaatan sumber daya, tetapi juga tanggung jawab menjaga keberlanjutan kehidupan. Perspektif tersebut menjadi salah satu pesan yang disampaikan melalui pengalaman tokoh-tokoh anak dalam film.

Sutradara Anggi Frisca mengatakan, persoalan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat yang bergantung pada sekaligus merawat ruang hidupnya. Kerusakan hutan, menurut dia, turut mengancam pengetahuan, kehidupan, dan masa depan anak-anak yang tumbuh di lingkungan tersebut.

“‘Hutan adalah Ibu’ menjadi napas penting dalam film ini. Ada hubungan merawat dan dirawat di sana. Ketika hutan rusak, yang terancam juga kehidupan, pengetahuan dan masa depan anak-anak yang tumbuh bersamanya,” kata Anggi.

Melalui cerita yang dekat dengan dunia anak, film ini mengajak penonton memahami bahwa menjaga alam juga berarti menghormati masyarakat yang hidup bersamanya, termasuk hak mereka untuk menentukan masa depan ruang hidupnya sendiri.

Mengangkat pengetahuan lokal dan suara anak Papua

Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua turut menyoroti kearifan lokal sebagai pengetahuan yang terbentuk melalui pengalaman masyarakat dalam berinteraksi dengan alam. Pengetahuan tersebut mencakup cara memanfaatkan sumber daya, memahami batas pemanfaatannya, dan menjaga keseimbangan agar kehidupan dapat berlanjut.

Melalui karakter Maira, film ini memperlihatkan bahwa proses belajar tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Keluarga, lingkungan, dan pengalaman sehari-hari turut membentuk cara anak memahami alam serta hubungannya dengan kehidupan di sekitarnya.

Anggi menekankan bahwa kearifan lokal tidak dapat disamaratakan karena setiap komunitas memiliki pengalaman dan pengetahuan yang berbeda. Menghormati pengetahuan masyarakat adat, menurut dia, berarti bersedia mendengarkan mereka sebagai pemilik pengetahuan sekaligus menghormati pilihan mereka dalam menghadapi perubahan.

Film ini juga berupaya menghadirkan Papua melalui pengalaman manusia yang hidup di dalamnya, bukan semata-mata melalui keindahan lanskap. Maira digambarkan sebagai anak yang memiliki rumah, hubungan sosial, pengetahuan, keinginan, dan keberaniannya sendiri.

“Ukurannya bagi saya adalah apakah setelah menonton, orang juga mengingat suara dan perjuangan Maira, selain mengingat pemandangannya,” ujar Anggi.

Ia mengatakan, film merupakan salah satu pintu untuk mengenal Papua, bukan representasi keseluruhan keragaman masyarakat dan pengalaman di wilayah tersebut. Karena itu, mendengarkan masyarakat yang kisah dan ruang hidupnya diangkat menjadi bagian penting dari tanggung jawab pembuat film.

Film anak sebagai ruang percakapan tentang lingkungan

Menurut Anggi, film anak dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan persoalan lingkungan dan kehidupan masyarakat adat melalui pengalaman emosional yang dekat dengan penonton muda, seperti persahabatan, kehilangan, rasa takut, dan keinginan melindungi sesuatu yang disayangi.

Pendekatan tersebut diharapkan mendorong anak-anak mengajukan pertanyaan yang lebih luas tentang kehidupan masyarakat di suatu wilayah, perubahan yang terjadi terhadap ruang hidup mereka, serta pentingnya melibatkan suara anak dalam pembicaraan mengenai masa depan.

“Film tentu tidak dapat menjelaskan seluruh sejarah dan tekanan yang dihadapi masyarakat adat. Tetapi film bisa menumbuhkan empati dan pertanyaan: siapa yang tinggal di sana, apa yang terjadi pada mereka, dan apakah suara mereka didengar?” kata Anggi.

Ia berharap film tersebut dapat membuka ruang diskusi di sekolah, keluarga, dan komunitas. Dengan demikian, pengalaman menonton tidak berhenti pada hiburan, tetapi berkembang menjadi kesempatan untuk belajar mengenai lingkungan, penghormatan lintas budaya, dan tanggung jawab terhadap sesama.

Dijadwalkan tayang di Belgia dan Luksemburg

Setelah meraih penghargaan Global Peace and Friendship di Universal Kids Film Festival 2026, Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua dijadwalkan mengikuti rangkaian pemutaran di Belgia dan Luksemburg pada November 2026.

Pada 2 November, film Teman Tegar dijadwalkan diputar di Cinema Flagey, Brussel, melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).

Sementara itu, Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua dijadwalkan menjalani pemutaran perdana di Eropa melalui Filem’On International Film Festival for Young Audiences pada 3 November. Film tersebut juga terseleksi dalam kategori CIFEJ Award untuk film panjang, dengan agenda pemutaran di Ghent dan Bozar, Brussel.

Rangkaian pemutaran itu berlanjut ke Utopia Cinema, Luksemburg, pada 7 November.

Kehadiran film ini di sejumlah agenda internasional diharapkan mempertemukan kisah anak-anak Papua dengan penonton muda di luar Indonesia sekaligus membuka percakapan mengenai persahabatan, hubungan manusia dengan alam, dan penghormatan terhadap keragaman budaya.

Bagi Anggi, apresiasi terhadap film ini diharapkan tidak berhenti pada penghargaan. Ia ingin semakin banyak ruang terbuka bagi anak-anak Papua untuk menyampaikan cerita, pengalaman, dan cita-cita mereka sendiri.

“Masa depan mereka perlu dibicarakan bersama mereka,” katanya.

Melalui kisah Tegar dan Maira, film ini mengajak penonton melihat hutan tidak hanya dari nilai ekologisnya, tetapi juga dari kaitannya dengan kehidupan, pengetahuan, dan masa depan masyarakat yang tumbuh bersamanya.

Tentang Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua

Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua merupakan film anak garapan sutradara Anggi Frisca dan diproduksi PT Aksa Bumi Langit. Film ini mengangkat persahabatan, kehidupan anak-anak, serta hubungan manusia dengan alam di Papua.

Film tersebut meraih penghargaan Global Peace and Friendship dalam Universal Kids Film Festival 2026, yang diumumkan pada 12 Oktober 2026.

(Editor: Rendy)