1000215516

Di Usia Senja, Veteran Samaran Ngolo Masih Menitipkan Harapan untuk Indonesia

Redaksi
Veteran Samaran Ngolo mengenang perjuangan sambil menitipkan harapan bagi Indonesia di usia senja. (Foto: SNews)
Veteran Samaran Ngolo mengenang perjuangan sambil menitipkan harapan bagi Indonesia di usia senja. (Foto: SNews)

Selusurnews.com — Usai mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Rumah Jabatan Bupati Kepulauan Sangihe, Senin, 17 Agustus 2026, Samaran Ngolo tidak menunggu rombongan. 

Dengan bertumpu pada tongkat, ia berjalan tertatih meninggalkan lokasi upacara seorang diri.

Di tengah peserta yang mulai beranjak pulang, sosok lelaki lanjut usia itu melangkah perlahan. Tak banyak yang menyadari, di balik langkahnya tersimpan kisah panjang tentang pengabdian kepada negara.

Samaran pernah menjadi prajurit TNI dan menjalankan tugas dalam operasi pembebasan Irian Barat serta operasi di Timor-Timor pada dekade 1960-an hingga 1970-an.

Kini, medan operasi itu tinggal kenangan. Samaran menghabiskan masa senjanya di Kepulauan Sangihe, daerah yang menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya sejak ia ditugaskan pada 1963.

Dari seorang prajurit yang pernah menjalankan tugas negara di medan operasi, kehidupannya kini jauh dari hiruk-pikuk dunia militer. Ia menjalani hari-hari dengan sederhana di tanah yang kemudian menjadi tempatnya menetap dan membangun keluarga.

Samaran berasal dari Sulawesi Selatan. Ia kemudian ditugaskan ke Sangihe pada 1963. Di daerah kepulauan itu, ia menetap dan menikah hingga akhirnya menjadikan Sangihe sebagai bagian dari hidupnya.

“Saya dari Sulawesi Selatan,” kata Samaran saat ditemui seusai upacara.

Sebelum tiba di Sangihe, ia telah menjalani tugas sebagai anggota TNI. Sekitar 1960 hingga 1970, ia mengaku menjadi bagian dari pasukan yang diterjunkan dalam operasi pembebasan Irian Barat dan penugasan di Timor-Timor.

Kenangan tentang masa itu masih tersimpan dalam ingatannya. Ia mengingat bagaimana para prajurit ketika itu dituntut mengutamakan tugas negara, bahkan harus mengesampingkan kerinduan kepada keluarga.

“Jangan ingat ibu bapakmu sebelum Irian Barat kembali ke RI,” ujar Samaran, mengingat pesan Presiden Soekarno yang masih melekat dalam ingatannya.

Bagi Samaran, tugas negara ketika itu bukan sesuatu yang bisa ditolak.

“Harus,” katanya ketika ditanya apakah ia memang harus turun ke Irian Barat.

Pangkat terakhirnya sebagai prajurit adalah Sersan Satu atau Sertu. Setelah mengakhiri pengabdiannya di militer, kehidupannya kemudian berjalan jauh dari medan tugas.

Sejak 1993, Samaran mengatakan menerima santunan veteran dari negara setiap bulan.

Namun, ketika ditanya tentang masa depan, ia tidak banyak berbicara mengenai besaran santunan ataupun kehidupannya sendiri.

Ia justru berbicara tentang Indonesia.

Harapannya sederhana: Indonesia tetap baik-baik saja.

“Yang penting Indonesia semoga baik-baik saja,” katanya.

Ia juga berharap generasi muda tidak melupakan perjuangan orang-orang yang hidup pada masa sebelumnya. Menurut Samaran, generasi saat ini adalah penerus yang akan menentukan perjalanan Indonesia ke depan.

“Baik-baik dengan serupa kami berjuang. Ini adik-adik kami di sini,” ujarnya.

Senin itu, setelah upacara kemerdekaan selesai, Samaran kembali menjalani kesehariannya.

Ia pulang seorang diri.

Tidak ada lagi barisan pasukan yang harus diikuti. Tidak ada perintah untuk bergerak menuju medan operasi. Tidak ada perlengkapan tempur yang harus dibawa.

Yang tersisa hanyalah langkah seorang veteran menuju rumah di Sangihe, tempat ia menghabiskan sebagian besar hidupnya setelah meninggalkan masa mudanya sebagai prajurit.

Lebih dari enam dekade telah berlalu sejak ia menjalankan tugas di Irian Barat. Waktu mengubah medan perjuangan menjadi kenangan. Namun bagi Samaran, kemerdekaan bukan sekadar upacara yang diperingati setiap tahun. Kemerdekaan adalah bagian dari hidup yang pernah dipertaruhkan oleh generasinya.

Kini, di usia senja, ia tidak lagi membawa senjata atau menerima perintah untuk menuju medan operasi. Ia hanya menitipkan satu harapan sederhana kepada generasi setelahnya: agar Indonesia tetap baik-baik saja.

Dari halaman Rumah Jabatan Bupati Kepulauan Sangihe, pada hari kemerdekaan, seorang veteran berjalan pulang dalam sunyi.

Langkahnya mungkin perlahan, tetapi pesan yang dibawanya tetap panjang: perjuangan boleh menjadi sejarah, tetapi harapan untuk Indonesia tidak boleh berhenti.

(Editor: Lekra’s)