Selusurnews.com – Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari menegaskan bantuan bagi warga terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, tidak boleh dikaitkan dengan kepentingan politik. Pemerintah memastikan seluruh warga yang terdampak akan menerima bantuan tanpa melihat pilihan politik mereka.
“Dalam minggu ini hampir 500 kepala keluarga akan mendapatkan bantuan. Ini bukan bantuan politik. Jangan menghubungkan ini dengan politik. Memilih maupun tidak memilih kami, masyarakat yang rumahnya rusak tetap harus mendapatkan bantuan,” kata Michael Thungari saat meninjau lokasi terdampak gempa di daratan Sangihe, Kampung Utaurano dan Kampung Simueng, Senin (15/6/2026).
Menurut Michael, pemerintah daerah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) saat ini terus melakukan pendataan terhadap rumah dan fasilitas umum yang mengalami kerusakan.
Bantuan darurat yang mulai disalurkan meliputi terpal, matras, tikar, dan bahan kebutuhan pokok. Warga yang rumahnya mengalami kerusakan sedang juga mendapatkan perlengkapan kebutuhan dasar sambil menunggu proses verifikasi bantuan lanjutan.
Ia menjelaskan, rumah dengan kategori rusak sedang dan rusak berat akan diperiksa oleh tim teknis BPBD sebelum diusulkan memperoleh bantuan dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
“Hasil pendataan akan menjadi dasar pengajuan bantuan. Prosesnya membutuhkan waktu sekitar satu sampai dua bulan karena harus melalui tahapan verifikasi,” ujarnya.
Michael juga meminta para Kapitalaung memanfaatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Kampung (APBKam) untuk membantu penanganan sementara rumah-rumah yang mengalami kerusakan ringan.
Menurut dia, bantuan rehabilitasi yang nantinya diberikan pemerintah lebih difokuskan pada pemulihan fungsi hunian agar dapat digunakan kembali oleh masyarakat dalam kondisi darurat.
“Bantuan ini bukan untuk membangun rumah permanen secara utuh seperti sebelumnya, tetapi agar rumah warga bisa kembali ditempati dengan aman. Biasanya berupa material bangunan seperti seng, baja ringan, kayu, GRC, atau tripleks,” katanya.
Berdasarkan data sementara, dua kampung di daratan Sangihe yang terdampak gempa bumi Magnitudo 7,7 SR yang terjadi pada Senin (8/6/2026) adalah Kampung Simueng di Kecamatan Tabukan Selatan dan Kampung Utaurano di Kecamatan Tabukan Utara.
Di Kampung Simueng tercatat 35 rumah rusak berat, empat rumah rusak ringan, dan satu rumah ibadah terdampak. Sebanyak 39 kepala keluarga atau sekitar 140 jiwa terdampak dengan estimasi kerugian mencapai Rp 720 juta.
Sementara di Kampung Utaurano, sebanyak 42 bangunan terdampak gempa, terdiri dari 38 rumah warga dan empat bangunan umum. Dari jumlah tersebut, dua rumah mengalami kerusakan berat, 35 rumah rusak sedang, dan lima rumah rusak ringan. Selain itu, dua sekolah dan dua rumah ibadah juga mengalami kerusakan sedang.
Pemerintah daerah bersama BNPB saat ini masih melakukan asesmen lanjutan untuk menentukan kebutuhan penanganan dan bantuan bagi warga terdampak di seluruh wilayah yang terkena dampak gempa.
(Editor: Lekra’s)







Tidak ada Respon