Gempa M 7,7 Rusak Rumah Warga, Sekolah dan Gereja di Kampung Matutuang

Redaksi
Bangunan gereja di Matutuang rusak akibat Gempa M 7,7. (Foto: Ist)
Bangunan gereja di Matutuang rusak akibat Gempa M 7,7. (Foto: Ist)
A-AA+A++

Selusurnews.com – Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara pada Senin (8/6/2026) mengakibatkan kerusakan pada sejumlah bangunan di Kampung Matutuang, Kecamatan Kepulauan Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Kampung yang berada di wilayah perbatasan Indonesia-Filipina tersebut dilaporkan mengalami kerusakan pada rumah-rumah warga, bangunan sekolah, serta rumah ibadah akibat guncangan gempa yang terasa kuat hingga ke pulau terluar Indonesia itu.

Sekretaris Kampung Matutuang, Reksan Salur, mengatakan bahwa pemerintah kampung masih melakukan pendataan terhadap dampak gempa yang terjadi. Namun berdasarkan laporan sementara, sejumlah bangunan mengalami kerusakan dengan tingkat yang bervariasi.

“Beberapa rumah warga mengalami kerusakan. Selain itu, bangunan sekolah dan gereja juga terdampak akibat gempa,” ujar Salur.

Menurutnya, warga sempat panik dan mengungsi ke tempat yang lebih aman setelah gempa terjadi dan peringatan dini tsunami dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Meski peringatan dini tsunami kini telah resmi dicabut, masyarakat masih tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Kerusakan pada rumah warga menimbulkan kekhawatiran karena sebagian bangunan mengalami retakan pada dinding dan bagian struktur lainnya. Sementara itu, bangunan sekolah dan gereja yang menjadi fasilitas penting bagi masyarakat juga mengalami kerusakan akibat kuatnya guncangan.

Pemerintah kampung bersama instansi terkait saat ini terus melakukan pendataan dan inventarisasi kerusakan untuk dilaporkan kepada Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe guna mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa dari Kampung Matutuang. Namun warga diimbau untuk tetap mengikuti arahan pemerintah dan memantau informasi resmi dari BMKG terkait perkembangan aktivitas kegempaan di wilayah Sulawesi Utara.

(Rensa)