Selusurnews.com – Anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Sangihe dari Komisi II Fraksi Golkar, Tony Mandak, menanggapi keluhan warga Kecamatan Kepulauan Marore yang menyebut tidak ada anggota DPRD yang datang mengunjungi mereka setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang wilayah perbatasan tersebut.
Tony mengakui dirinya secara pribadi belum sempat mengunjungi Marore yang merupakan bagian dari daerah pemilihannya. Namun, ia menegaskan bahwa DPRD tidak tinggal diam dan sejak awal telah melakukan berbagai langkah koordinasi untuk mendukung penanganan bencana.
“Untuk kunjungan bersama pemerintah daerah memang belum bisa dilakukan karena pada saat yang sama Komisi II DPRD sedang berada di Manado untuk berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Sulawesi Utara terkait penanganan bencana, termasuk kondisi masyarakat di Kepulauan Marore,” kata Tony.
Menurutnya, koordinasi dengan pemerintah dan instansi terkait menjadi langkah awal yang ditempuh guna memastikan bantuan dan penanganan pascagempa dapat berjalan cepat dan tepat sasaran.
Selain itu, Tony mengatakan dirinya juga bergerak melalui jalur sosial kemasyarakatan. Ia berkoordinasi dengan Ketua Jemaat GMIST Sion Sawang Jauh untuk menggerakkan pemuda gereja dan Karang Taruna dalam menggalang bantuan bagi warga terdampak.
“Hari ini kami bersama pemuda turun langsung ke Pasar Sawang Jauh untuk melakukan penggalangan dana. Bantuan yang terkumpul nantinya akan disalurkan kepada masyarakat yang terdampak gempa,” ujarnya, Rabu (17/6/2026)
Sebelumnya, sejumlah warga di Pulau Matutuang, Kecamatan Kepulauan Marore, mengeluhkan minimnya kehadiran wakil rakyat di tengah masa tanggap darurat bencana. Keluhan itu muncul setelah ratusan rumah dan sejumlah fasilitas umum mengalami kerusakan akibat gempa besar yang mengguncang wilayah perbatasan Indonesia-Filipina.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 terjadi pada Senin, 8 Juni 2026, pukul 07.37 WITA. Episenter gempa berada di laut, sekitar 244 kilometer barat laut Pulau Karatung, Kabupaten Kepulauan Sangihe, dengan kedalaman 47 kilometer.
Gempa tektonik tersebut dipicu aktivitas subduksi lempeng di Laut Sulawesi, pesisir selatan Mindanao, Filipina. Dampaknya, ratusan bangunan mengalami kerusakan, termasuk rumah warga, gereja, sekolah, dan sejumlah fasilitas umum lainnya. (*)
(Editor: Lekra’s)







Tidak ada Respon