(Catatan Budaya Tulude dalam Perspektif Perkembangannya)
Tidak ada Tulude (yang sungguh-sungguh) asli pada saat ini. Jika mau melihat Tulude (yang sungguh-sungguh) asli, kita mesti memutar arah jalan sejarah menuju ke abad ke-17, era permulaan budaya Tulude sebagaimana diperkirakan dalam sebuah dokumen resmi milik pemerintah Kabupaten Sangihe Talaud (1994).
Malahan — untuk ikhwal itu —, kita mesti juga melongok fakta sejarah yang terjadi pada era pra-Islam dan pra-Kristen di Nusa Utara, yakni tengahan pertama abad ke-16. Pasalnya, pada masa itulah mulai dilaksanakan tradisi Memotong Tamo, komponen utama dalam struktur ritus Tulude. Itu pun sejauh saya mengacu pada informasi yang tercatat dalam dokumen resmi tadi.
Bahwasanya, pada masa kini, Tulude telah mengalami perkembangan (transformasi). Selebihnya mungkin involusi atau deformasi. Buktinya, dalam konteks Tulude dewasa ini tidak ada lagi acara “makan bersama arwah”. Juga tidak ada lagi upacara menolak perahu berisi “Lapasi” ataupun “Lahu” sebagai “perkakas setang” atau “Sakaeng u sahinda”. Bukti lainnya, dalam konteks Tulude dewasa ini tidak ada lagi Sasalamate dan tembang Kakalanto untuk menghadirkan arwah leluhur bangsawan ke tempat pelaksanaan Tulude (ritus memotong tamo), sehingga Kakumbaede — kalau pun ditembangkan dalam Tulude dewasa ini — kehilangan alur peristiwa mitis-magisnya.
Perkembangan Tulude pada masa kini setidaknya ditandai dengan sejumlah hal berikut.
* Pembuat kue tamo tidak mutlak lagi wanita perawan.
* Pemotong kue tamo tidak mutlak lagi tetua adat.
* Kata-kata yang mengawali proses pemotongan tamo tidak mutlak lagi berbentuk Sasalamate; sering bahkan sebagai doa syukur dengan bahasa campur aduk model interferensi dan alih kode.
Bila diabstrakkan, perkembangan budaya Tulude ditandai dengan kehadiran dua versi Tulude. Kedua versi ini praktisnya disebut “Upacara Adat Tulude” dan “Ibadah Syukur Tulude”.
Tulude versi pertama dilakoni oleh pemerintah dan masyarakat umum. Tulude versi yang kedua dilakoni oleh lembaga Gereja.
Sebetulnya dapat juga dicatat eksistensi Tulude versi ketiga. Maksud saya adalah “Tulude Politik”. Tapi versi ketiga ini cenderung hadir sebagai “daging manumpang” dalam pelaksanaan Tulude sebagai Upacara Adat. Misalnya dan biasanya Penganugerahan gelar-gelaran yang diklaim sebagai “Gelar Adat”. Oleh sebab itu, versi ketiga Tulude ini saya masukkan ke dalam eksistensi Tulude versi pertama.
Kedua versi Tulude tersebut — Upacara Adat dan Ibadah Syukur — memiliki hak hidup yang sama. Keduanya pun punya andil yang sama bagi “pelestarian” budaya Tulude.
Untuk strategi kebudayaan daerah yang menyasar target legitimasi nasional lagi internasional (UNESCO), pilihan rasional -nya adalah Tulude sebagai Upacara Adat.
Sementara untuk strategi misiologi yang sadar inkulturasi atau teologi lokal (theologi in loco), pilihan rasionalnya ialah Tulude sebagai Ibadah Syukur.
Penulis: Sovian Lawendatu
(Budayawan sekaligus Kritikus Sastra asal Kepulauan Sangihe yang saat ini menetap di Kota Bitung)

