Mengapa Kebakaran Gunung Awu Tak Dipadamkan dengan Helikopter Waterbombing?

Redaksi
Kebakaran Gunung Awu di Kepulauan Sangihe. (Foto: Ist)
Kebakaran Gunung Awu di Kepulauan Sangihe. (Foto: Ist)

Selusurnews.com —Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe menjelaskan alasan belum digunakannya helikopter untuk memadamkan kebakaran di kawasan Gunung Awu. Salah satu kendalanya adalah ketersediaan helikopter khusus waterbombing di Sulawesi Utara.

Kebakaran Gunung Awu memasuki hari kelima pada Rabu, (9/9/2026). Pemerintah daerah sebelumnya telah melakukan peninjauan langsung ke kawasan kebakaran dan menemukan sedikitnya lima titik api yang berada di medan sulit dijangkau.

Pertanyaan mengenai penggunaan helikopter untuk menjatuhkan air dari udara kemudian muncul di tengah upaya pemadaman.

Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari menjelaskan Sulawesi Utara saat ini tidak memiliki helikopter waterbombing yang dapat digunakan untuk operasi pemadaman dari udara.

Menurut dia, helikopter biasa tidak dapat begitu saja digunakan untuk menjatuhkan air dalam jumlah besar ke titik kebakaran. Pesawat atau helikopter untuk operasi tersebut membutuhkan kemampuan dan perlengkapan khusus.

“Di Sulawesi Utara tidak ada helikopter waterbombing. Helikopter biasa tidak bisa difungsikan untuk menyiram kebakaran,” kata Michael.

Keterbatasan juga terjadi pada tingkat nasional. Menurut Michael, jumlah helikopter waterbombing di Indonesia masih sangat terbatas. Armada yang tersedia diprioritaskan untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah, terutama Sumatera dan Kalimantan.

“Di Indonesia saja jumlahnya sangat sedikit dan sekarang prioritas penggunaannya untuk karhutla di Kalimantan dan Sumatra,” ujarnya.

Michael mengatakan penggunaan helikopter waterbombing juga bukan metode yang selama ini diterapkan dalam penanganan kebakaran kawasan gunung di Sulawesi Utara.

Ia mencontohkan kebakaran yang pernah terjadi di Gunung Soputan. Saat itu, penanganan kebakaran tidak menggunakan metode pemadaman dari udara dengan helikopter waterbombing.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah daerah mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk menangani kebakaran Gunung Awu.

Pemkab Sangihe kini meningkatkan pemantauan menggunakan drone untuk mengetahui pergerakan titik api. Pemantauan dilakukan setiap sore dan hasilnya akan digunakan untuk memetakan wilayah yang berpotensi terdampak.

Pemerintah juga menutup sementara aktivitas pendakian Gunung Awu hingga musim kemarau berakhir. Relawan masih diperbolehkan membantu pemadaman dengan memperhatikan keselamatan di lapangan.

Michael meminta masyarakat tidak panik dan mengikuti perkembangan kebakaran melalui informasi resmi pemerintah daerah.

“Semoga Tuhan memberkati setiap upaya dan doa kita bersama. Sangihe kuat kalau kita kompak,” katanya.

Dengan kondisi medan yang sulit dan keterbatasan akses menuju sejumlah titik api, pemerintah daerah memilih memperkuat pemantauan dari udara, pemetaan potensi dampak, serta koordinasi lintas sektor sebagai bagian dari penanganan kebakaran Gunung Awu.

(Chres Limpong)