SELUSURNEWS.COM—Ancaman krisis komunikasi membayangi tiga wilayah kepulauan di ujung utara Sulawesi. Jaringan serat optik bawah laut Palapa Ring Tengah pada segmen Melonguane–Morotai dilaporkan mengalami kerusakan parah, memicu kekhawatiran akan terjadinya gangguan layanan telekomunikasi yang masif di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sangihe, dan Talaud.
Kerusakan infrastruktur vital telekomunikasi ini tak lepas dari kondisi lingkungan alam di wilayah tersebut. Secara geografis, Kepulauan Sitaro dan sekitarnya bertengger di atas jalur Cincin Api Pasifik dengan aktivitas tektonik dan vulkanik yang sangat tinggi.
Pergerakan lempeng tektonik bawah laut yang memicu gempa bumi berulang kali telah merusak ekosistem dasar laut sekaligus menjadi penyebab utama putusnya sebagian serat optik tulang punggung internet tersebut.
Merespons potensi darurat komunikasi ini, Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bergegas turun tangan. Bertempat di Swiss-Belhotel Maleosan Manado pada Selasa (28/07/2026), sebuah rapat koordinasi strategis digelar di bawah komando Plt. Direktur Layanan Telekomunikasi dan Informasi Masyarakat dan Pemerintah BAKTI, Sudarmanto, bersama jajaran pemerintah daerah terdampak.
Rapat koordinasi ini menjadi wadah krusial untuk memetakan langkah percepatan penanganan restorasi jaringan. Maklum saja, di era digital saat ini, ketergantungan masyarakat kepulauan terhadap akses komunikasi bukan lagi sekadar urusan bertukar kabar, melainkan telah menjadi urat nadi pergerakan ekonomi lokal, administrasi pemerintahan, hingga sistem peringatan dini mitigasi bencana di daerah rawan.
Di tengah pembahasan teknis perbaikan tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kepulauan Sitaro, Heronimus Makainas, memunculkan gagasan taktis yang visioner. Menyadari kerentanan bentang alam bawah laut daerahnya, ia mendesak perlunya percepatan pembangunan dan perbaikan segmen Manado–Ondong Siau sebagai jalur alternatif konektivitas.
Desain jaringan di daerah rawan bencana, menurut Makainas, mutlak membutuhkan skema pelapis agar tidak terjadi kelumpuhan total.
“Keberadaan jalur tersebut akan menjadi solusi strategis apabila terjadi gangguan atau putusnya jaringan pada segmen lain, sehingga layanan telekomunikasi di wilayah kepulauan, khususnya Kabupaten Kepulauan Sitaro, Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Talaud, tetap dapat berjalan tanpa mengalami gangguan yang signifikan,” tegas Heronimus Makainas.
Pemikiran taktis dari pucuk pimpinan Sitaro ini langsung mendapat resonansi positif dan dukungan penuh dari para kepala daerah tetangga. Bupati Kepulauan Sangihe dan Bupati Kepulauan Talaud yang turut hadir menyatakan kesepakatan mereka untuk menggalang kekuatan bersama dalam memperjuangkan rute alternatif pelapis tersebut.
Sebagai langkah konkret, trio pemimpin daerah di gugusan Nusa Utara ini sepakat untuk merapatkan barisan menyurati Gubernur Sulawesi Utara. Konsolidasi ini bertujuan meminta sokongan penuh Pemprov Sulut guna melobi Pemerintah Pusat agar segera merealisasikan penguatan jaringan Palapa Ring segmen Manado–Ondong Siau demi keandalan komunikasi wilayah perbatasan.
Lewat momentum koordinasi ini, BAKTI Komdigi menegaskan komitmennya untuk meminimalisasi dampak blank spot dan memastikan masyarakat tak terisolasi selama masa pekerjaan restorasi laut berlangsung. Sementara itu, Pemkab Sitaro menaruh asa besar agar pemerintah pusat merespons usulan jalur alternatif ini, demi mewujudkan kemerdekaan sinyal yang adaptif terhadap kondisi alam geografis dan berkelanjutan bagi warga kepulauan. (**)
Editor: Ady Putong








Tidak ada Respon