Di hamparan lautan yang mengelilingi pulau Kahakitang dan klaster empat pulau di Tatoareng, terdapat sebuah tradisi yang telah mengakar dalam kehidupan sosial masyarakatnya yakni “Mengoto”.
“Mengoto”, Tak jauh berbeda dengan tradisi “picah toples” yang hidup di kalangan masyarakat Sulawesi Utara, yang esensinya adalah sebuah perayaan kebersamaan dalam bentuk kunjungan silang antar rumah tangga.
Mungkin yang membedakannya hanya nama yang digunakan dalam bahasa lokal, namun makna mendalam yang terkandung di dalamnya adalah satu: rasa kebersamaan yang tak terpisahkan.
Momen Khusus di Awal Tahun Tambaru
Setiap memasuki bulan Januari, saat tahun baru (Tambaru) tiba saat langkah kaki masyarakat mulai beralih dari tahun yang telah berlalu menuju tahun yang baru datang seluruh masyarakat bergoyang dalam irama musik, entah itu menggunakan musik orkes atau sejenis lagu dari tape.
Mereka berdatangan dari berbagai penjuru, saling bersalaman hangat sambil melangkah ke rumah-rumah tetangga dan saudara. Di setiap rumah yang dikunjungi, hidangan manis beragam kue menyambut mereka, serta minuman yang menyegarkan—baik itu soda yang menyegarkan atau minuman khas yang memiliki nilai budaya tersendiri.
Tradisi ini bukanlah sebuah ritual yang kaku dan simetris. Ia tumbuh dengan fleksibel, menyesuaikan diri dengan karakter tempat dan masyarakat yang merayakannya.
Di tanah Kahakitang sendiri, “Mengoto” adalah ungkapan sederhana namun dalam: berkunjung, berbincang, menikmati hidangan bersama, dan merenung serta merayakan awal babak baru bersama seluruh komunitas.
Dinamis dan Hidup Mengikuti Waktu
Yang membuat “Mengoto” begitu istimewa adalah sifatnya yang selalu berkembang. Tidak pernah terjebak sebagai rutinitas tahunan yang monoton. Ia berubah seiring berjalannya waktu, menyambut setiap perubahan dengan lapang dada, meskipun pada intinya, makna kebersamaannya tetap tak tergoyahkan. Ini bukan tentang analisis struktur sosial atau perubahan budaya yang mendalam, melainkan tentang rangkaian aktivitas yang hidup dan bernapas bersama masyarakatnya.
Makna yang Lebih Dalam dari Sebuah Tradisi
Mengoto bukan sekadar acara tahunan. Ia adalah simbol yang kuat bagi kebersamaan, kerukunan, kebahagiaan, dan kekuatan kolektif masyarakat dalam berinteraksi sosial.
Saat tahun 2025 beralih ke 2026, atau pada setiap pergantian tahun yang datang, tradisi ini menjadi wadah bagi seluruh masyarakat untuk melepaskan beban dan kenangan tahun sebelumnya, serta meresapi harapan baru dengan hati yang bersatu.
Ekspresi kebersamaan ini tumbuh secara alami, seperti akar pohon yang meresap dalam tanah membentuk identitas sosial yang khas bagi masyarakat Kahakitang dan sekitarnya.
Prinsip Memaklumi yang Mengikat
Jangan salah mengartikan; tradisi ini bukan tentang kesenangan yang berlebihan atau mabuk-mabukan. Ia adalah sebuah anomali yang menyatu dalam kehidupan sosial masyarakat pulau ini, di mana, keramaian menjadi dorongan utama, sebuah momen kehangatan sebelum mereka kembali menyongsong aktivitas sehari-hari, bekerja keras untuk menafkahi keluarga dan membangun masa depan bersama di tahun baru.
Di balik seluruh rangkaian aktivitas “Mengoto”, terdapat prinsip hukum yang mutlak: tradisi yang tumbuh dan berkembang dari dalam masyarakat sendiri memiliki kekuatan normatif yang tak tergoyahkan. Ia mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan individu, dengan fokus pada aspek sosial dan budaya yang unik serta fleksibel.
Sebagai bentuk identitas yang hidup, Mengoto menunjukkan bagaimana setiap masyarakat dapat beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa harus meninggalkan akar dan nilai-nilai luhur yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari diri mereka.
Penulis: Arifin Manumpil*
*Penulis ada seorang guru, penulis dan pembelajar budaya di Kabupaten Kepulauan Sangihe.

