Cuaca ekstrem melanda Kampung Matutuang, Kecamatan Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe, wilayah perbatasan Indonesia–Filipina, pada Jumat (3/1/2026) dini hari. Hujan berintensitas tinggi yang disertai petir, angin kencang, serta gelombang air pasang tidak hanya merusak pemukiman warga, tetapi juga menimbun sumber air bersih utama yang selama ini menjadi tumpuan kebutuhan masyarakat.
Sekretaris Kampung Matutuang, Reksan Salur, mengatakan longsor paling berdampak terjadi di wilayah Saresuge, lokasi sumber mata air minum utama warga. Longsoran tanah menutup seluruh mata air beserta bak penampungan, sehingga akses air bersih warga terputus.
“Seluruh sumber mata air dan bak penampungan air tertimbun tanah. Ini sangat mengancam ketersediaan air minum warga Kampung Matutuang,” ujar Reksan.
Menurutnya, peristiwa cuaca ekstrem terjadi sejak sekitar pukul 01.00 WITA hingga pagi hari. Selain longsor di sumber air bersih, bencana juga menyebabkan banjir dan genangan air di Lindungan 1 dan Lindungan 2 yang merupakan pusat perkampungan. Sebanyak 15 rumah warga serta Puskesmas Pembantu Kampung Matutuang terendam air, mengakibatkan kerusakan pada sejumlah peralatan elektronik milik warga.
Tanah longsor juga menimpa rumah milik Bhuyet Mamuno. Material longsoran menimbun bagian dapur rumah dan menyebabkan kerugian materiil, antara lain satu unit freezer, tiga lemari pakaian, sekitar 140 kilogram beras yang basah, serta satu ember besar berisi sirip ikan hiu kering.
Selain itu, angin kencang mengakibatkan pohon kelapa tumbang dan menimpa perahu pambut milik warga atas nama Minta Doa Kiramis. Genangan air hujan juga dilaporkan terjadi di jalan arah Bangka, Lindungan 1, yang berdampak pada tujuh rumah warga di sekitarnya.
Secara keseluruhan, sedikitnya 22 rumah warga dan satu fasilitas kesehatan terdampak akibat rangkaian bencana tersebut. Meski demikian, Reksan memastikan tidak ada korban jiwa.
“Syukur kejadiannya berlangsung pada malam hari dan tidak menelan korban jiwa,” katanya.
Kondisi tersebut membutuhkan penanganan serius dan cepat dari instansi terkait. Terlebih, Kampung Matutuang berada di wilayah perbatasan negara yang memiliki keterbatasan akses dan infrastruktur.*

