Selusurnews.com — Pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) menargetkan cakupan imunisasi dasar lengkap mencapai minimal 95 persen pada tahun 2026. Komitmen ini ditegaskan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Sitaro, Heronimus Makainas, saat membuka kegiatan Pelatihan Pengelola Imunisasi Puskesmas se-Kabupaten Kepulauan Sitaro di Hotel Aryaduta Manado, Senin (14/09/2026) pagi.
“Imunisasi merupakan salah satu pilar utama dalam upaya pencegahan penyakit dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Keberhasilan program ini dinilai sangat krusial, khususnya bagi masyarakat yang bermukim di wilayah kepulauan seperti Kabupaten Sitaro yang memiliki karakteristik geografis unik,” jelas Makainas dalam sambutannya.
Merujuk pada data Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Kesehatan dan Badan Pusat Statistik (BPS), tulang punggung pelayanan medis di Kabupaten Sitaro saat ini ditopang oleh ketersediaan 636 tenaga kesehatan dari berbagai kualifikasi. Ratusan tenaga medis ini memikul tanggung jawab besar untuk melayani populasi yang berjumlah sekitar 74.448 jiwa penduduk Sitaro.
Berkaca pada angka kependudukan tersebut, para petugas kesehatan dihadapkan pada tantangan geografis kepulauan yang mengharuskan mereka melakukan mobilitas laut ekstra demi kelancaran pemerataan program kesehatan primer, terutama memastikan vaksinasi menjangkau anak-anak di pulau terluar tanpa hambatan.
Sementara dari sisi infrastruktur sarana primer, pelayanan tingkat pertama di Sitaro bertumpu pada jaringan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), di mana tercatat setidaknya 10 unit telah berstatus sebagai Puskesmas rawat inap.
Jaringan Puskesmas yang tersebar di gugusan kepulauan inilah yang menjadi instrumen utama dalam mengeksekusi strategi agresif ‘jemput bola’ yang diinstruksikan Plt Bupati. Melalui kolaborasi ratusan tenaga kesehatan dan ketersediaan sarana Puskesmas tersebut, upaya pencapaian target imunisasi dasar lengkap 95 persen pada tahun 2026 menjadi hal yang sangat terukur dan realistis, selama keandalan rantai dingin vaksin terjaga hingga ke tingkat desa.
“Tantangan kita lebih besar. Akses rantai dingin dan jangkauan pelayanan ke berbagai pelosok harus kita pastikan, agar tidak ada anak yang terlewati imunisasi,” ujar Heronimus di hadapan para peserta pelatihan yang terdiri dari tenaga kesehatan perwakilan seluruh Puskesmas di Sitaro.
Ia memaparkan, data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengimplikasikan cakupan imunisasi dasar lengkap adalah indikator paling penting dan efektif dalam menekan angka kematian bayi dan balita. Pemerintah daerah berkomitmen keras agar tidak ada satupun anak-anak Sitaro yang jatuh sakit atau meninggal dunia akibat penyakit menular yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi.
Lewat indikator makro kesehatan BPS Sitaro, optimalisasi layanan kesehatan dasar seperti kelengkapan imunisasi berbanding lurus dengan tren peningkatan Angka Harapan Hidup (AHH) masyarakat kepulauan. Oleh karena itu, investasi pada pencegahan penyakit menular anak bukan sekadar kewajiban medis, melainkan prioritas mutlak pembangunan sumber daya manusia daerah dalam jangka panjang.
Mengingat beratnya medan pelayanan, Heronimus menilai peran para pengelola imunisasi di tingkat Puskesmas sangat strategis dan vital dalam ekosistem kesehatan daerah.
“Bapak dan Ibu adalah yang terdepan. Dari tangan Bapak dan Ibu penentuan apakah vaksin sampai dengan aman, tercatat dengan baik, dan diberikan tepat waktu kepada masyarakat,” tegasnya.
Dia menitikberatkan pada tiga arahan utama, pertama adalah peningkatan kompetensi teknis petugas. Para pengelola imunisasi diwajibkan untuk terus memperbarui pemahaman terkait jenis vaksin, jadwal imunisasi, manajemen rantai dingin, hingga kepatuhan pencatatan dan pelaporan melalui aplikasi kesehatan digital yang berlaku.
Arahan kedua adalah krusialnya upaya penyelamatan kualitas logistik vaksin di tengah keterbatasan infrastruktur.
“Di wilayah kepulauan, listrik dan transportasi adalah tantangan. Jaga kualitas vaksin dari gudang sampai ke ujung pelayanan,” pesan Heronimus mengingatkan pentingnya disiplin manajemen rantai dingin (cold chain) agar efektivitas vaksin tidak rusak saat tiba di pulau tujuan.
Arahan ketiga menyangkut penguatan kerja sama lintas sektor di tingkat akar rumput. Heronimus menginstruksikan para tenaga kesehatan untuk menggandeng kapitalau (kepala desa), pemerintah kampung, kader posyandu, hingga tokoh masyarakat dan tokoh agama guna mengampanyekan pentingnya imunisasi sekaligus mengedukasi warga untuk menghilangkan hoaks serta keraguan terhadap vaksin.
Guna merealisasikan target cakupan imunisasi dasar lengkap 95 persen di tahun 2026, Plt Bupati menginstruksikan perubahan taktik pelayanan di lapangan. Ia secara khusus meminta agar setiap Puskesmas tidak pasif, melainkan segera menyusun strategi ‘jemput bola’ yang agresif langsung ke desa-desa dan pulau-pulau terpencil.
Strategi proaktif ini dinilai sejalan dengan potret analisis BPS, di mana hambatan biaya transportasi seringkali menjadi alasan keluarga di pulau terluar menunda kunjungan ke Puskesmas. Dengan metode jemput bola, fasilitas kesehatan diharapkan mampu menjangkau titik-titik buta pelayanan dan memastikan rasio balita yang diimunisasi sesuai dengan data sasaran riil di lapangan.
“Saya sangat berharap teman-teman sekalian akan menjadi teman saya yang akrab untuk mengurus rakyat, agar rakyat kita dapat terlayani dan menikmati apa yang seharusnya menjadi bagian mereka. Kita sebagai yang dipercayakan oleh Tuhan untuk mengabdi adalah orang-orang yang akan mengurus rakyat,” pungkas Heronimus. (**)
Editor:
Ady Putong







Tidak ada Respon