Selusurnews.com — Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe menggandeng sejumlah pihak untuk menjalankan Program Bank Sampah Berbasis Sekolah. Program ini menjadi langkah awal pemerintah daerah membangun budaya peduli lingkungan melalui satuan pendidikan.
Program tersebut dibahas dalam kegiatan yang digelar di Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kepulauan Sangihe, Selasa, (8/9/2026). Kolaborasi melibatkan Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah, satuan pendidikan SMP, SMA dan SMK di wilayah Tahuna, serta pemerhati lingkungan hidup Celline Army Sandil.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Jew W. Adriaan, mengatakan program itu tidak hanya diarahkan untuk mengelola sampah, tetapi juga menjadi bagian dari pendidikan karakter peserta didik.
“Kami ingin membangun budaya bersih bukan hanya melalui imbauan, tetapi melalui pendidikan dan keteladanan di sekolah,” kata Jew.
Menurut dia, program tersebut akan diawali pada jenjang SMP, SMA dan SMK di wilayah Tahuna. Sekolah akan menjadi pusat pembelajaran dan gerakan pengelolaan sampah, sedangkan peserta didik didorong menjadi agen perubahan.
Para siswa, kata Jew, akan dibiasakan memilah sampah, mengurangi sampah, memanfaatkan kembali sampah yang masih memiliki nilai serta menjaga kebersihan lingkungan.
“Bank sampah tidak hanya menjadi tempat mengumpulkan sampah. Lebih dari itu, ini adalah gerakan pendidikan, gerakan karakter, sekaligus gerakan kepedulian lingkungan,” ujarnya.
Jew berharap budaya pengelolaan sampah yang dibangun di sekolah nantinya berkembang ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Tahuna dipilih sebagai titik awal sebelum program diperluas ke satuan pendidikan lainnya di Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kepulauan Sangihe, Christine Makagansa, mengatakan program bank sampah berbasis sekolah merupakan langkah konkret pemerintah daerah untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia sekolah.
“Sekolah kita jadikan sebagai pusat pembelajaran sekaligus contoh nyata bagaimana sampah dapat dikelola dengan baik, mulai dari memilah, mengumpulkan, mengolah hingga memberikan nilai ekonomi,” kata Christine.
Ia mengajak kepala sekolah, guru, peserta didik, komite sekolah dan orang tua terlibat dalam program tersebut. Menurut dia, kebersihan sekolah bukan semata-mata tanggung jawab petugas kebersihan, melainkan seluruh warga sekolah.
Christine berharap sekolah-sekolah di Tahuna dapat menjadi pelopor gerakan pengelolaan sampah sebelum program dikembangkan ke seluruh satuan pendidikan di Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Sementara itu, pemerhati lingkungan hidup Celline Army Sandil menekankan pentingnya kolaborasi agar program tersebut berjalan secara berkelanjutan.
“Kita ingin sekolah-sekolah bisa menyukseskan program bank sampah berbasis sekolah agar bisa terlaksana dengan baik. Kita harus berkolaborasi untuk tujuan bersama,” kata Celline.
Program tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pengumpulan sampah, tetapi membentuk kebiasaan baru di lingkungan sekolah sekaligus mendorong sampah memiliki nilai ekonomi.
“Sekolah bersih, sampah bernilai, Sangihe lestari,” ujar Christine.
(Editor: Rendy Saselah)







Tidak ada Respon