Selusurnews.com – Nusa Utara atau Kepulauan Sangihe Talaud pada 1937 tergolong maju dalam pelayanan medis. Berdasarkan laporan Scherrer dkk, wilayah ini telah memiliki satu rumah sakit dan belasan poliklinik. Rumah sakit tersebut kemudian dikenal sebagai Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Liun Kendage, Tahuna.
Kemajuan pelayanan medis di Nusa Utara tidak terlepas dari peran misi Protestan yang dijalankan Sangi-en Talaud Comite (STC), penerus De Commissie Zendeling-Werkman. Selain pendidikan formal, kebudayaan modern, dan kekristenan, dunia medis menjadi salah satu pengaruh penting pada masa penjajahan Belanda.
Menurut catatan Brilman (1938), pelayanan medis Protestan di Nusa Utara dirintis oleh Zuster H.J. Huvers pada 1930. Sementara RSUD Liun Kendage Tahuna berdiri berkat upaya Dokter G. Cseszko pada 1931. Keduanya merupakan utusan STC.
Tenaga Medis dan Paramedis
Dalam laporan Scherrer dkk disebutkan, pada April 1937 Dokter G. Cseszko beserta keluarganya menjalani cuti (verlof).
Tugasnya digantikan oleh Dokter S.G. Oey yang datang dari Jawa pada akhir Februari 1937. Meski telah berkeluarga, Dokter Oey datang sendiri ke Sangihe karena anak-anaknya bersekolah di Jawa.
Seluruh pekerjaan medis di RS Tahuna dan di tiap poliklinik tetap dijalankan oleh dokter pengganti.
Perubahan terjadi di wilayah Talaud yang dinilai terlalu jauh dari Sangihe dan menghambat pekerjaan dokter karena perjalanan yang intens.
Pemerintah kemudian menugaskan seorang Indisch arts, Dokter Tulaar, untuk melayani Kepulauan Talaud. Dokter Tulaar tinggal di Lirung dan mengunjungi pulau-pulau serta poliklinik dari Lirung.

Pelayanan di tiap poliklinik pada 1937 dilakukan oleh para diakoon. Di antaranya Diakoon J. Joao di Lirung yang sesekali bertugas di Nanusa. Saat tidak berada di Lirung, ia digantikan Serina Medellu. Poliklinik lainnya didirikan di Damau, Beo, dan Essang.
Pelayanan di RS Tahuna dikerjakan oleh Dokter G. Cseszko dan kemudian Dokter S.G. Oey, dengan bantuan Nona K. Bertsche yang mengatur huishouding.
Turut bekerja Diakoon H. Izaak, Bidan Th. Matiho, serta perawat E. Lungkang, bersama beberapa leerling dari Sangihe, Siau, dan Taghulandang.
12 Poliklinik di Sangihe
Laporan Scherrer dkk juga mencatat, pada 1937 terdapat 12 poliklinik di Sangihe Besar, Siau, dan Taghulandang. Poliklinik—yang lazim disebut Balai Pengobatan—berdiri di 12 kampung dan masing-masing dikelola seorang diakoon.
Ke-12 kampung tersebut adalah Manganitu, Tamako, Kaluwatu, Pintareng, Manalu, Bungalawang, Enemawira, Ulu, Ondong, Sawang, Kiawang, dan Taghulandang. Para diakoon yang bertugas yakni H. Barahama (Manganitu), Z. Ennampato (Tamako), J. Kroma (Kaluwatu), H. Hetari (Pintareng), T. Bambung (Manalu), Corn. Mocodompis (Bungalawang), D. Matiune (Enemawira), T. Tolosang (Ulu), D. Liwoso (Ondong), L. Makainas (Sawang), F. Damima (Kiawang), dan J. Sadondang (Taghulandang).
Bidan Siau dan Taghulandang
Pada masa yang sama, terdapat dua bidan, yakni M. Damisi sebagai Bidan Siau dan M. Karimang sebagai Bidan Taghulandang.
Jumlah Pasien
Laporan Scherrer dkk tidak memuat data jumlah pasien RSUD Liun Kendage Tahuna hingga 1937.
Data yang tersedia adalah jumlah pasien di sembilan poliklinik pada periode yang sama.
Dari sembilan poliklinik tersebut, jumlah pasien terbanyak tercatat di Poliklinik Manganitu dengan 76.758 pasien. Urutan kedua adalah Poliklinik Ulu dengan 14.216 pasien.*
Penulis: Sovian Lawendatu
Editor: Rendy Saselah

