1000215516

Selain Marore, Kampung Simueng Laporkan 39 Rumah Rusak Akibat Gempa M7,7

Redaksi
Salah satu rumah warga di Kampung Simueng yang rusak akibat gempa M7,7. (Foto: Ist)
Salah satu rumah warga di Kampung Simueng yang rusak akibat gempa M7,7. (Foto: Ist)

Selusurnews.com – Kerusakan akibat gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Kabupaten Kepulauan Sangihe pada Senin (8/6/2026) ternyata tidak hanya terjadi di wilayah perbatasan Marore. Di Kampung Simueng, Kecamatan Tabukan Selatan, puluhan rumah warga juga dilaporkan mengalami kerusakan, sementara ratusan penduduk terpaksa mengungsi.

Laporan Pemerintah Kampung Simueng yang disampaikan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Sangihe mengungkapkan sedikitnya 39 rumah mengalami kerusakan akibat guncangan gempa yang terjadi pada pukul 07.37 Wita.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 35 rumah mengalami rusak berat dan empat rumah lainnya rusak ringan. Selain rumah warga, satu fasilitas ibadah turut terdampak.

Sebanyak 39 kepala keluarga atau sekitar 140 jiwa tercatat terdampak bencana ini. Seluruhnya dilaporkan mengungsi demi menghindari risiko bangunan roboh maupun kemungkinan gempa susulan.

Gempa yang berpusat di laut sekitar 236 kilometer barat laut Tahuna itu sempat memicu peringatan dini tsunami dan dirasakan di berbagai wilayah Sulawesi Utara. Laporan dari Simueng menunjukkan dampak gempa tidak hanya terkonsentrasi di kawasan yang selama ini menjadi perhatian publik, seperti Marore, tetapi juga menjangkau wilayah lain di Kepulauan Sangihe.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun korban luka, kerusakan bangunan yang cukup signifikan membuat Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe menetapkan status tanggap darurat bencana.

Status tanggap darurat tersebut berlaku selama 14 hari sejak Selasa (9/6/2026) dan diumumkan langsung oleh Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, usai memimpin rapat koordinasi bersama Forkopimda, instansi vertikal, serta jajaran pemerintah daerah.

“Kita menetapkan status darurat bencana selama 14 hari ke depan,” kata Michael Thungari.

Saat ini, Bupati bersama unsur Forkopimda masih melakukan kunjungan ke wilayah terdampak, yakni Kampung Matutuang, Kawio, dan Marore, sambil menyalurkan bantuan kebutuhan pokok bagi warga. Rombongan dijadwalkan kembali ke daratan Kepulauan Sangihe pada Jumat (12/6/2026).

Sementara itu, Pemerintah Kampung Simueng dalam laporan tertanggal 10 Juni 2026 menyebutkan warga terdampak masih membutuhkan perhatian dan penanganan lanjutan, terutama terkait kondisi rumah yang mengalami kerusakan berat dan tidak lagi layak ditempati.

Seiring bertambahnya laporan dari berbagai kampung, gambaran dampak gempa M7,7 di Kepulauan Sangihe pun semakin meluas. Simueng menjadi salah satu wilayah yang menunjukkan bahwa bencana tersebut meninggalkan kerusakan signifikan di luar kawasan yang selama ini menjadi sorotan utama.

(Editor: Lekra’s)