Iverdixon Tinungki: Empat Dekade Menjaga Ingatan dari Utara

Redaksi
Penyair Iverdixon Tinungki. (Foto: Ist)
Penyair Iverdixon Tinungki. (Foto: Ist)

Sebelum namanya dikenal sebagai penyair yang berkali-kali mendapat pengakuan dalam sayembara buku puisi nasional, Iverdixon Tinungki lebih dahulu berkenalan dengan sastra melalui deklamasi. Sajak-sajak yang dibacanya sejak sekolah dasar kelak membawanya menulis puisi, menggeluti teater, dan menelusuri ingatan kebudayaan masyarakat di kepulauan utara Sulawesi.

Empat dekade kemudian, perjalanan itu memperoleh pengakuan baru. Pada 28 Juni 2026, Iverdixon menerima penghargaan atas 40 tahun kiprahnya di bidang kesastraan. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, di Manado, didampingi Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara, Januar Pribadi.

Namun, perjalanan Iverdixon tidak cukup dibaca melalui penghargaan. Ada jejak yang lebih panjang dalam karya-karyanya: laut, pulau-pulau, tradisi tutur, dan kehidupan masyarakat Nusa Utara yang berusaha ia bawa ke dalam bahasa sastra.

Bagi penyair kelahiran Manado, 10 Januari 1963, puisi bukan semata-mata urusan merangkai kata. Ia juga menjadi cara membaca kenyataan dan menyimpan sesuatu yang berisiko hilang ketika ingatan sebuah masyarakat tidak lagi diwariskan.

Dari deklamasi ke panggung teater

Ketertarikan Iverdixon terhadap sastra tumbuh sejak masa sekolah. Sajak Tuhanku karya Chairil Anwar termasuk puisi awal yang dikenalnya melalui kegiatan deklamasi. Ketika duduk di sekolah menengah pertama, ia mulai menulis sajak dan mengirimkannya ke surat kabar. Dari sana, puisi tidak lagi hanya menjadi sesuatu yang dibacakan. Ia mulai menjadi ruang untuk menguji gagasan, mengolah pengalaman, dan memahami kehidupan di sekitarnya.

Iverdixon kemudian bergabung dengan Sanggar Alit Muara, kelompok teater yang dibentuk oleh penyair/akademisi Kamajaya Al Katuuk. Ia juga menyerap pengaruh dari sejumlah pelaku seni dan penulis, di antaranya Nano Riantiarno, Beni Matindas, Eric M.F. Dajoh, Reiner Emyot Ointoe, Richard Rhemrev, dan Wempie Lontoh.

Pengalaman berteater turut memperluas wilayah kreatifnya. Ia menulis naskah drama, mengarahkan pementasan, serta menulis cerpen, esai, dan novel. Dalam perjalanan itu, Iverdixon tidak menempatkan dirinya semata-mata sebagai penyair yang bekerja sendirian di depan kertas.

Pada 1982–1983, ia tercatat pernah berkeliling Sulawesi Utara untuk melatih teater rakyat. Pada pertengahan 1980-an hingga awal 1990-an, ia juga pernah membacakan puisi di sejumlah tempat hiburan di Manado. Dua pengalaman itu memperlihatkan perjumpaannya dengan seni di luar ruang penerbitan dan forum sastra formal.

Puisi, baginya, tumbuh bersama pergaulan dengan masyarakat dan panggung.

Masuk ke Mimbar Penyair Abad 21

Nama Iverdixon tercatat dalam Mimbar Penyair Abad 21, antologi yang diterbitkan Balai Pustaka pada 1996. Kehadiran dalam buku tersebut menjadi salah satu penanda perjalanan kepenyairannya di tengah perkembangan puisi Indonesia.

Antologi itu memuat sejumlah puisinya, antara lain “Sayap Kebebasan Burung-burung”, “Puisi Buat Agnes Conxha di Surga”, “Perjalanan Ziarah ke Jakarta”, “J.J.3”, dan “Halaman TIM”. Ia pernah diundang Dewan Kesenian Jakarta untuk membacakan puisi di tempat itu, termasuk pada 1996 dan 2003.

Bagi penyair yang berkarier dari Sulawesi Utara, perjalanan menuju panggung sastra nasional bukan sekadar perpindahan geografis. Ia juga membuka kemungkinan agar pengalaman dari daerah yang jauh dari pusat penerbitan dan pertemuan sastra diperhitungkan dalam percakapan kebudayaan yang lebih luas.

Iverdixon kemudian menerbitkan sejumlah kumpulan puisi tunggal. Di antaranya Sakral (1987), Surat-surat Sunyi (1997), Di Tangan Angin (2001), dan Sajak Terindah (2004). Karya-karyanya menunjukkan bahwa perjalanan kepenyairan itu tidak berlangsung dalam satu buku atau satu momentum penghargaan. Ia dibangun melalui penerbitan, pementasan, pertemuan dengan pembaca, dan keterlibatan dalam kehidupan kesenian.

Laut, ingatan, dan kebudayaan Nusa Utara

Pada 2014, saya menelaah genetik kepenyairan Iverdixon Tinungki. Salah satu hal yang menonjol dalam proses kreatifnya ialah keterikatan pada alam dan kebudayaan Nusa Utara, terutama lanskap laut, manusia, serta sistem nilai yang tumbuh di dalamnya.

Laut bukan sekadar latar geografis dalam kepenyairannya, melainkan ruang yang turut membentuk kesadaran ideologisnya. Dari laut, ia membaca kehidupan; dari manusia dan kebudayaannya, ia merumuskan pandangan tentang identitas, ingatan, dan keberadaan masyarakat kepulauan.

Kecenderungan itu terlihat dalam Klikitong, kumpulan puisi yang memuat 134 puisi dan masuk nominasi sayembara buku puisi Indonesia pada Pekan Hari Puisi Indonesia 2013. Setahun kemudian, Makatara, terbitan Teras Budaya Jakarta, menerima penghargaan puisi dalam peringatan Hari Puisi Indonesia 2014.

Pada 2019, buku Orang Gila dari Edgar kembali membawa namanya ke panggung sastra nasional. Buku tersebut masuk dalam 14 Buku Puisi Terpuji Anugerah Hari Puisi Indonesia 2019, setelah sebelumnya menjadi salah satu dari 20 buku nomine dalam sayembara yang diikuti lebih dari 400 buku puisi.

Pengakuan tersebut penting bukan hanya karena jumlah penghargaan yang diterima. Ia menunjukkan keberlanjutan proses kreatif seorang penyair yang terus menerbitkan karya dalam rentang waktu panjang.

Perhatian Iverdixon terhadap kebudayaan lokal bergerak melampaui puisi cetak. Ia menelusuri tradisi lisan masyarakat Sangihe dan Talaud, termasuk Sasambo, bentuk syair tradisional yang berhubungan dengan pemujaan, pengajaran, dan kehidupan komunal, serta diiringi alat musik tagonggong.

Ia terus berupaya mengaktualisasikan tradisi tersebut melalui pertunjukan musikalisasi puisi mantra dan penyimpanan rekaman dalam bentuk digital.

Di sini, kerja sastra bertemu dengan kerja kebudayaan. Tradisi lisan tidak hanya ditempatkan sebagai peninggalan masa lampau, tetapi juga sebagai bahan yang dapat dibaca, dipentaskan, dan diperkenalkan kembali kepada generasi baru.

Upaya tersebut mempunyai arti tersendiri bagi wilayah kepulauan. Pengetahuan lokal kerap hidup dalam tuturan, kebiasaan, dan ingatan para penuturnya. Ketika ruang pewarisan menyempit, ia menjadikan dokumentasi digital salah satu cara mempertahankan jejaknya..

Penyair di ruang redaksi

Iverdixon juga menempuh perjalanan panjang di dunia jurnalistik. Ia pernah bekerja di sejumlah media, antara lain Majalah Kepolisian Sarwa Bhrata Eka, Harian Wibawa, Majalah Maesaan, Harian Suluh Merdeka, Tabloid Kabar, dan Tabloid Tagonggong. Ia juga menjadi penulis lepas di Harian Manado Post dan Komentar.  Ia kemudian mendirikan portal berita Barta1.com dan menjabat sebagai editor senior media tersebut.

Dua bidang tersebut—jurnalistik dan sastra—memiliki cara kerja yang berbeda. Jurnalistik menuntut ketepatan informasi dan keterikatan pada fakta, sedangkan puisi membuka ruang bagi simbol, metafora, dan penafsiran.

Meski demikian, keduanya dapat bertemu pada perhatian terhadap kenyataan. Pengalaman jurnalistik memberi ruang bagi penelusuran sejarah dan kehidupan masyarakat, sementara sastra memungkinkan pengalaman itu dibaca melalui bahasa yang tidak selalu dapat ditampung oleh laporan faktual.

Keterlibatannya dalam kelembagaan kesenian juga tercatat ia pernah memimpin Dewan Kesenian Sulawesi Utara.

Penghargaan setelah 40 Tahun

Penghargaan yang diterima Iverdixon pada Juni 2026 menandai perjalanan 40 tahun kiprahnya di dunia kesusastraan. Penghargaan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, itu menjadi pengakuan atas perjalanan panjangnya sebagai penyair.

Namun, empat dekade berkarya bukan berarti perjalanan seorang penyair telah selesai. Rentang waktu tersebut justru membuka ruang untuk membaca kembali karya-karyanya: bagaimana gagasan dan gaya kepenyairannya berkembang, apa yang tetap ia pertahankan, serta sejauh mana puisi-puisinya merekam perubahan masyarakat yang menjadi sumber inspirasinya.

Bagi Iverdixon, persoalan itu juga berkaitan dengan masa depan kebudayaan Nusa Utara. Tradisi lisan yang ia telusuri dan dokumentasikan membutuhkan lebih dari sekadar pertunjukan. Ia memerlukan pembaca, peneliti, penerus, serta ruang bagi pengetahuan lokal untuk terus dipelajari tanpa kehilangan konteks sejarah dan kebudayaan yang melahirkannya.

Penghargaan dapat menandai perjalanan seorang penyair dalam sejarah kesusastraan. Namun, karya-karyanya akan terus berhadapan dengan waktu, dibaca kembali, ditafsirkan, dan dinilai oleh generasi yang berbeda.

Empat dekade setelah perjalanan kepenyairannya bermula, Iverdixon Tinungki telah meninggalkan jejak melalui buku-buku, aktivitas kesenian, dan upayanya merawat tradisi lokal. Dari Sulawesi Utara, ia membawa pengalaman masyarakat kepulauan ke dalam percakapan sastra Indonesia, sekaligus menunjukkan bagaimana puisi dapat menjadi medium untuk merekam dan menjaga ingatan kebudayaan.

(Rendy Saselah)