Selusurnews.com — Pembangunan kampung kerap diukur melalui sesuatu yang kasatmata: jalan yang dibangun, fasilitas umum yang tersedia, atau bantuan yang tersalurkan. Namun, bagi masyarakat, pembangunan juga berarti hal-hal yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: anak-anak yang dapat mengakses pendidikan usia dini, warga yang memperoleh pelayanan kesehatan, serta keluarga yang memiliki akses terhadap air bersih dan sanitasi.
Di Kampung Kuma 1, Kecamatan Tabukan Tengah, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, sejumlah program pelayanan dasar tersebut menjadi bagian dari catatan pemerintahan Christian Tapadongko selama menjabat kapitalaung atau kepala kampung pada periode 2018–2026.
Kini, Christian kembali mencalonkan diri dalam pemilihan kapitalaung. Ia membawa pengalaman delapan tahun pemerintahan sekaligus rencana pembangunan yang bertumpu pada digitalisasi, penguatan ekonomi masyarakat, dan pemerataan pelayanan publik.
Bagi Christian, tantangan pembangunan berikutnya bukan semata-mata melanjutkan program yang sudah berjalan. Ia juga perlu memastikan agar pelayanan dasar tetap berkelanjutan dan potensi ekonomi kampung dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Pelayanan dasar sebagai pijakan
Dalam daftar capaiannya, pendidikan dan kesehatan menjadi dua bidang yang mendapat perhatian. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kampung Kuma 1 telah berjalan. Pemerintah kampung juga turut menyelenggarakan kursus komputer dan bahasa Inggris bagi warga.
Program kursus tersebut membuka ruang bagi masyarakat untuk mempelajari keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan komunikasi. Namun, keberlanjutan program peningkatan kapasitas semacam ini tetap memerlukan dukungan tenaga pengajar, pembiayaan, dan pemetaan kebutuhan warga.
Di bidang kesehatan, pemerintah kampung mendukung sarana dan prasarana Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), termasuk gedung dan obat-obatan gratis. Pelayanan yang berjalan itu mencakup balita, remaja, lanjut usia, serta Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu).
Sementara itu, penyediaan air bersih gratis, pembangunan jamban telah mencapai 100 persen, dan penyelesaian pembangunan jalan kampung merupakan realitas yang tak terbantahkan.
Pemerintah kampung juga menyediakan akses internet gratis di balai kampung. Fasilitas ini menjadi salah satu modal untuk memperluas akses informasi sekaligus membuka kemungkinan pemanfaatan teknologi dalam pelayanan administrasi.
Berbagai program tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan kampung mencakup lebih dari pekerjaan fisik. Pelayanan pendidikan, kesehatan, sanitasi, dan konektivitas juga menentukan kualitas hidup masyarakat.
Dari desa mandiri menuju tata kelola digital
Di tangan Christian, Kampung Kuma 1 tercatat menyandang status desa mandiri sejak 2021. Kampung itu juga pernah mengikuti kegiatan Desa Antikorupsi hingga tingkat provinsi dan berpartisipasi dalam program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) pada 2025.
Status desa mandiri dan partisipasi dalam program tata kelola tersebut menjadi bagian dari konteks pembangunan Kuma 1. Namun, keduanya memiliki ukuran dan tujuan berbeda. Status kemandirian perlu dibaca bersama kondisi sosial-ekonomi masyarakat, sedangkan program antikorupsi dan statistik berkaitan dengan tata kelola serta pemanfaatan data.
Dalam visi pencalonannya, Christian ingin membangun pemerintahan kampung yang melayani, transparan, akuntabel, dan bebas pilih kasih. Ia merencanakan peningkatan kapasitas perangkat kampung dalam administrasi digital, pelayanan publik, dan pengelolaan keuangan.
Ia juga mengusulkan penyediaan internet gratis bagi seluruh masyarakat, bukan hanya di balai kampung. Dengan demikian, digitalisasi diharapkan tidak berhenti sebagai fasilitas koneksi, tetapi menjadi bagian dari sistem pelayanan pemerintahan dan kegiatan ekonomi.
Rencana tersebut membawa tantangan tersendiri. Pemerintahan berbasis digital membutuhkan jaringan yang memadai, perangkat yang berfungsi, aparatur yang terampil, dan mekanisme perlindungan data. Tanpa unsur-unsur itu, digitalisasi berisiko menjadi fasilitas yang tersedia tetapi belum dimanfaatkan secara optimal.
Christian juga memasukkan kepastian pembayaran tunjangan perangkat kampung dan penguatan kemampuan penyusunan anggaran dalam agenda tata kelolanya. Pelayanan administrasi yang cepat, mudah, dan tepat waktu menjadi salah satu sasaran yang ingin dicapai.
Potensi lokal dan ekonomi kerakyatan
Di luar pelayanan publik, agenda pembangunan Christian diarahkan pada penguatan ekonomi kerakyatan. Ia menyebut perikanan, pertanian, perkebunan, pertukangan, serta usaha mikro, kecil, dan menengah sebagai sektor yang perlu dikembangkan.
Rencana itu mencakup pelatihan keterampilan, pengembangan usaha rumah tangga, sertifikasi produk lokal, dan pembentukan Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam). Ia juga mengusulkan peningkatan jalan, jembatan, dan akses produksi untuk mendukung kegiatan ekonomi warga.
Pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal menuntut lebih dari pembentukan lembaga usaha. Produk yang dihasilkan masyarakat membutuhkan kepastian pasokan, kualitas yang konsisten, akses pasar, serta perhitungan biaya dan keuntungan yang realistis.
Karena itu, BUMKam yang direncanakan perlu memiliki bidang usaha yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi Kuma 1. Pengelolaannya juga perlu profesional agar dana dan aset kampung menghasilkan manfaat ekonomi, bukan sekadar menjadi struktur kelembagaan.
Christian turut merencanakan pemberdayaan ekonomi yang menjangkau masyarakat tanpa diskriminasi. Gagasan ini menempatkan akses terhadap pelatihan dan kesempatan usaha sebagai bagian dari pemerataan pembangunan.
Kelompok rentan dan masa depan generasi muda
Agenda pembangunan yang ditawarkan Christian juga mencakup peningkatan akses rumah layak huni bagi masyarakat rentan. Ia merencanakan pendataan rumah tidak layak huni dan memprioritaskan lansia, janda, duda, keluarga kurang mampu, serta kelompok lain yang membutuhkan dukungan.
Pelaksanaannya direncanakan melalui sinergi program pemerintah kampung dengan pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat. Gotong royong masyarakat juga ingin diperkuat dalam pembangunan maupun rehabilitasi rumah.
Perbaikan lingkungan permukiman yang sehat dan aman turut dikaitkan dengan upaya pencegahan dan penanganan stunting. Agenda ini membutuhkan kerja bersama berbagai pihak, sebab kondisi kesehatan anak tidak hanya dipengaruhi lingkungan tempat tinggal, tetapi juga asupan gizi, sanitasi, dan akses pelayanan kesehatan.
Di sisi lain, Christian merencanakan penguatan pembinaan generasi muda melalui olahraga, seni budaya, kegiatan kerohanian, dan aktivitas kepemudaan. Ia ingin anak muda dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pembangunan kampung.
Pelibatan tersebut penting agar generasi muda memiliki ruang untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sosialnya. Kolaborasi antara pemerintah kampung, gereja, dan masyarakat juga menjadi bagian dari rencana untuk menjaga keharmonisan kehidupan sosial dan budaya.
Melanjutkan pembangunan, menjawab tantangan
Selama masa kepemimpinannya, penyaluran bantuan langsung tunai berjalan lancar dan bantuan ketahanan pangan telah disalurkan sejak 2019. Pemerintah kampung juga memberikan bantuan kepada tempat-tempat ibadah serta melakukan pembinaan generasi muda.
Program-program tersebut menjadi bagian dari rekam jejak yang ia bawa ketika kembali mencalonkan diri. Adapun visi yang ditawarkan menempatkan kemandirian, digitalisasi, dan ekonomi kerakyatan sebagai arah pembangunan selanjutnya.
Namun, kesinambungan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh jumlah program yang telah dilaksanakan. Ukurannya juga terletak pada dampak yang dirasakan masyarakat, pemerataan manfaat, transparansi penggunaan anggaran, dan kemampuan menjaga layanan setelah program berjalan.
Hal itu menjadi relevan ketika pembangunan kampung memasuki tahap yang menuntut penguatan kualitas, bukan sekadar penambahan fasilitas. Jalan yang telah dibangun perlu dipelihara; pelayanan kesehatan membutuhkan dukungan berkelanjutan; sementara akses internet perlu disertai kemampuan masyarakat untuk memanfaatkannya.
Begitu pula dengan rencana penguatan ekonomi. Pelatihan, sertifikasi produk, dan pembentukan BUMKam membutuhkan tindak lanjut yang terukur agar dapat membuka kesempatan usaha dan meningkatkan pendapatan warga.
Bagi Christian Tapadongko, pencalonan kembali menjadi kesempatan untuk menawarkan kelanjutan dari program yang telah dijalankan sekaligus menjawab kebutuhan yang masih tersisa. Bagi masyarakat Kuma 1, rekam jejak tersebut dan rencana pembangunan berikutnya menjadi dua hal yang dapat dipertimbangkan dalam menentukan arah kepemimpinan kampung.
Pada akhirnya, bagi Christian, kemandirian sebuah kampung bukan hanya soal status administratif. Kemandirian juga berkaitan dengan kemampuan pemerintah melayani warganya, kemampuan masyarakat mengembangkan potensi ekonomi, serta kesempatan yang setara bagi setiap keluarga untuk menikmati hasil pembangunan.
(Red)







Tidak ada Respon