(Catatan Budaya Sovian Lawendatu)*
Dewa “El” di Kanaan Purba “masuk agama Yahudi” atau lebih tepat “masuk agama Ibrani”.
Dewa “Opo Wananatas” atau Empung Wailan” di Minahasa “masuk Kristen”.
Di Sangihe (Nusa Utara), mahadewa Duata atau Genggona juga “masuk Kristen”. Artinya kedua nama ini telah dijadikan nama lokal Allah di dalam Yesus Kristus.
Semua itu terjadi akibat proses inkulturasi yang berlangsung dalam bingkai teologi lokal (theology in loco).
Dalam telisikan saya, mahadewa Duata/Ruata “masuk Kristen” sejak tengahan kedua abad ke-19. Ini dibuktikan dengan penggunaan nama Duata/Ruata dalam konteks penerjemahan sejumlah teks agama Kristen (Alkitab dan Katekismus) ke dalam bahasa Sangir oleh Zendeling-tukang E. T. Steller, Zendeling-tukang F. Kelling, dan Nona Clara W. J. Steller. Dalam konteks ini, nama Duata/Ruata digunakan sebagai nama lokal Allah di dalam Yesus Kristus.
Bagaimana dengan Genggona?
Genggona yang lengkapnya disebut “Genggona L᷊angị” (Yang Mahatinggi) dipahami sebagai nama sasahara (samaran) dari Duata. Pemahaman ini bertolak dari perspektif linguistik struktural dalam studi ilmu sastra.
Dari perspektif ini, kata-kata Sangir jenis sasahara merupakan sinonim dari kata-kata Sangir jenis non-sasahara atau kata-kata Sangir biasa (gewone taal — istilah N. Adriani, 1893). Kalau pun sasahara dianggap sebagai kata-kata Sangir yang bernilai mitis-magis (berfungsi sebagai sarana penipuan roh-roh dan setan-setan), itu karena perspektif sosiolinguistik-fenomenologis.
Sementara itu, dalam sastra Sangir yang berbentuk sasal᷊amatẹ̆, nama Duata “dan” nama Genggona digunakan dalam rangka penggunaan majas paralelisme. Buktinya antara lain:
Rumal᷊eng su ral᷊eng bineasẹ̆
su tempamgeng nital᷊uahẹ̆
Dal᷊eng nital᷊uahẹ̆ u Mawu
Nital᷊uahẹ̆ u Ruata
Dal᷊eng tạ sombange apa
U i Amang Tipolu mananighe hombang
Kụ katanạ e su wakudẹ̆ nanging
Kellung mẹ̆kẹ̆kahaghiang
piạ tendạ e rendipahẹ̆
Palawạ tinting u langị
I Genggona manganggung bihingang.
Sasal᷊amatẹ̆ sebagai prosa-liris atau bahasa-berirama (rhytmical-verse) memang dicirikan oleh penggunaan majas paralelisme (Ny. R. Aling-Sentinuwo, tesis, 1977). Sementara itu, majas paralelisme merupakan “kemiripan antara dua kesatuan teks yang berurutan (kalimat, bait, dsb) (Hartoko dan Rahmanto, 1986).
Dengan kesamaan eksistensial antara Duata dan Genggona/ Genggona L᷊angị tersebut, maka penginkulturasian/transkonseptualisasi nama Duata/Ruata ke dalam iman Kristen secara otomatis harus juga berlaku bagi nama Genggona atau Genggona Langi.
Namun, faktanya, nama Genggona/ Genggona L᷊angị tidak digunakan sebagai nama lokal Allah dalam teks-teks agama Kristen terjemahan para misionaris Eropah tadi. Penyebabnya, barangkali karena pertimbangan, bahwa pada masa itu nama Genggona/Genggona L᷊angị masih kental dengan nuansa mitis-magis.
Nama Genggona L᷊angị digunakan sebagai nama lokal Allah nanti pada abad ke-20. Ini terdeteksi dalam syair-syair lagu Masamper jenis sastra rohani. Contohnya:
I Genggona L᷊angị Duatang sarul᷊uang
Lụlahiwạ lambung manireda bihingang
Sematang i Sie pengangumbal᷊erang
kakendagE tạ mawelang
Bọe mahunĕdingang mahi mesenggetang
mẹ̆dol᷊ong buntuang nusang tul᷊umang
Yesus pinẹ̆dingang tạmenanentang.
Inkulturasi nama Duata/Ruata dan nama Genggona/Genggona L᷊angị niscaya telah memperkaya wahana ekspresi keagamaan universal secara lokal. Pada saat yang sama, inkulturasi itu menghidupkan tradisi kultural leluhur menurut relevansinya dengan konteks kekinian masyarakat Sangihe.
Tentang Penulis: Sovian Lawendatu adalah kritikus sastra asal Kepulauan Sangihe yang saat ini menetap di Kota Bitung.






Tidak ada Respon