Terbentuknya Pulau Batunderang

Makalaherang—demikian tutur para tetua menyebutnya sejak dahulu kala. Sebuah ungkapan yang berarti “sangat mengherankan”. Dan memang, kisah tentang Batunderang lahir dari rasa heran itu sendiri.

Wilayah yang kini berada di bagian selatan Kecamatan Manganitu, dahulu dikenal dengan nama Punguwatu. Nama tersebut merujuk pada kondisi tanahnya yang didominasi bebatuan berukuran besar. Ada batu sebesar bukit yang tampak seperti satu bongkahan utuh. Bahkan, beberapa rumah penduduk berdiri di atas permukaan batu datar yang menjadi alas alami bangunan mereka.

Namun, bukan hanya ukuran batu-batu itu yang mengundang takjub. Pada pesisir tanjung, bebatuan tampak terang benderang ketika malam tiba. Pantulan cahaya bintang dan bulan, serta sinar matahari di siang hari, memercikkan kilau beragam warna jika dilihat dari laut saat para nelayan mencari ikan. Kilau inilah yang melahirkan keheranan—sekaligus menjadi cikal bakal nama Batunderang.

Terlepas dari sudut pandang mistisisme kuno maupun modern, secara ilmiah kilau tersebut dapat dijelaskan. Bebatuan di kawasan itu diduga mengandung kristal, kalsedon, bahkan mungkin emas dan berlian. Tak heran, pada beberapa periode kepemimpinan daerah, sejumlah titik di wilayah ini pernah menjadi lokasi penambangan emas, meskipun sebagian besar dilakukan secara tradisional.

Pada masa kejayaan Kerajaan Maobungang—yang kini dikenal sebagai Kecamatan Manganitu—tutur lisan generasi terdahulu mengisahkan sebuah peristiwa luar biasa. Konon, dalam satu malam, masyarakat bergotong royong memisahkan sebuah tanjung. Tanahnya digali dan dipindahkan ke sisi lain, sehingga keesokan harinya bagian yang terpotong itu tampak seperti sebuah pulau kecil di dekat wilayah Sowaeng. Padahal sebelumnya, ia masih menyatu dengan Batunderang.

Bagian yang “diangkat” itu dikenal dengan sebutan Batungang, yang berarti diangkat menggunakan tuas, tali, dan katrol kayu keras, lalu dipindahkan ke daratan sebelahnya. Kisah ini menjadi bagian penting dalam ingatan kolektif masyarakat setempat.

Di sela cerita geologis dan legenda kerja gotong royong itu, terselip kisah heroik dari Raja Liungtolosang, penguasa Kerajaan Maobungang. Ia berupaya menyelesaikan perseteruan dua keturunan Raja Rimpulaeng: David Pandialang dan Markus Dalero dari wilayah yang kini dikenal sebagai Tabukan.

Alih-alih membiarkan pertumpahan darah, Liungtolosang mengusulkan perlombaan perahu kora-kora—karya warisan Raja Araro, arsitek perahu yang dikenal pula dengan sebutan Konteng. Perahu jenis ini, serupa perahu naga, mampu memuat 40 hingga 60 orang, dilengkapi penabuh tagonggong (gendang) serta pelantun sastra yang disebut Tahasambo.

Perlombaan mengelilingi Pulau Sangihe Besar itu berlangsung sengit. Namun, terdapat intrik terselubung. Di wilayah Manganitu Selatan, dibuat jalur baru—konon dikerjakan semalam sebelum lomba—sebagai jalan pintas yang menguntungkan salah satu pihak. Hasilnya, Markus Dalero keluar sebagai pemenang. Ia kemudian diakui sebagai raja di wilayah utara Tabukan, yang kelak dikenal dengan nama Bengketang atau Enemawira—ditandai dengan bendera putih sebagai simbol kemenangan.

Sementara itu, perahu David Pandialang bertanda bendera merah sebagai simbol kekalahan. Ia kemudian menjabat sebagai Hugu’ atau asisten raja di wilayah selatan Tabukan.

Hingga kini, kisah itu tetap hidup dalam toponimi setempat. Sebuah dusun di Batunderang bernama Tolosang/Dolosang, diambil dari nama Raja Liungtolosang. Sementara nama Bengketang diyakini berasal dari ucapan sang raja:

“I sai mahumpa humotong ute taku Bengketang datu,” yang berarti, “Siapa yang tiba lebih dahulu akan aku dukung dan lantik menjadi raja.”

Demikianlah kisah tentang terbentuknya Batunderang—perpaduan antara gejala alam, kerja kolektif, strategi politik, dan legenda yang diwariskan dari generasi ke generasi. Jika terdapat data atau versi lain dari cerita ini, kiranya dapat menjadi pelengkap demi memperkaya dan menghidupkan kembali sejarah lokal yang berharga ini.

Penulis: Vander Katinusa

Bagikan Artikel ini:

Artikel Terkait

Terpopuler Minggu Ini

#
Sangirees

Rona Senja dan Mustika di Ujung Utara Sulawesi

#

Posyandu Kampung Utaurano Gelar Pemberian Vitamin A dan Obat Cacing, Masyarakat...

#

Lumiu Dilantik Kadis Kominfo Sangihe, Perkuat Reformasi Birokrasi Lewat SPBE dan...

#

Upacara Adat atau/dan Ibadah Syukur

#

Profil Inspiratif: Mayske Angelica Takasihaeng, Perempuan Muda yang Berdikari dan Pantang...

Artikel Terbaru