Rona Senja dan Mustika di Ujung Utara Sulawesi

Jika takut diterjang badai, jangan berdiri di tepi pantai. Kalimat ini kerap terdengar dalam kehidupan masyarakat modern saat ini. Mungkin ungkapan tersebut terinspirasi dari filosofi tanjung dalam tradisi masyarakat Sangihe, yang dikenal sebagai masyarakat kepulauan dengan sebagian besar mata pencaharian bergantung pada hasil laut. Karena itu, simbol-simbol tentang ketegaran dalam menjalani kehidupan sejak dulu disakralkan pada setiap tanjung di kawasan pesisir.

Namun, bukan berarti tanjung dianggap sebagai Tuhan. Dalam ungkapan doa, baik di laut maupun di darat, Tuhan tetap disebut dengan nama “Genggonalangi”. Bagi masyarakat Sangihe, tanjung lebih dimaknai sebagai pengingat tentang nilai perjuangan hidup—seperti tanjung yang tetap berdiri, tak pernah lari dari kenyataan dan tantangan.

Kini, makna tersebut sering disalahartikan. Di banyak tanjung dibangun patung salib, bahkan di daratan pun berdiri patung yang oleh sebagian orang disebut sebagai patung Tuhan Yesus. Padahal, dalam kisah hidup-Nya, Yesus lebih sering mengajar di atas bukit yang rindang dan di pesisir laut yang juga menampilkan bentang tanjung.

Para leluhur pun sangat menyakralkan pohon-pohon yang memberi kesejukan serta buah sebagai sumber makanan. Sama halnya dengan laut, dari prinsip inilah tanjung dijadikan simbol semangat bertahan hidup. Pemenuhan kebutuhan pangan pun merujuk pada filosofi berbagai jenis tumbuhan, contohnya pohon kelapa yang sejak dahulu menyediakan makanan dan minuman, dan akan terus bermanfaat selama tetap lestari dalam tradisi serta ingatan kolektif generasi kini.

Selain kelapa, ada satu komoditas penting yang menjadi tumpuan hidup masyarakat, yakni pala. Dalam wawasan komoditas, sebagian masyarakat modern mungkin jarang memahami secara detail tentang tanaman pala. Hal ini dipengaruhi oleh kenyataan bahwa pala tidak tumbuh di seluruh wilayah Nusantara. Berbeda dengan kelapa yang mendominasi hampir semua daerah, dari pesisir pantai hingga dataran tinggi.

Berdasarkan catatan sejarah, tanaman pala hanya tumbuh di wilayah tertentu dengan iklim dan nutrisi tanah yang sesuai, khususnya di Indonesia bagian timur. Asal penyebarannya dikenal dari Pulau Banda Neira, yang pada masa lalu menjadi pusat perebutan kekuasaan bangsa-bangsa asing seperti Portugis, Spanyol, Inggris, hingga Belanda sejak abad ke-15 sampai ke-19.

Kini, pala telah dibudidayakan juga di kawasan Indonesia bagian barat dan tengah, meski hanya dapat tumbuh optimal di wilayah-wilayah tertentu.

Sejak dulu hingga sekarang, masyarakat Eropa memanfaatkan pala sebagai bumbu masakan dan bahan obat-obatan. Dalam kuliner mereka, tanpa campuran pala, rasa makanan dianggap kurang lengkap. Karena nilai itulah, bangsa-bangsa asing berusaha keras menguasai rempah ini melalui organisasi dagang seperti VOC, yang kemudian berujung pada perampasan dan penjajahan.

Penyebaran pala di Kepulauan Sangihe dan Talaud pun tidak lepas dari peran raja-raja masa lalu. Tersebutlah nama-nama seperti Lokongbanua, Ratu Lohoraung, Tompoliu, Wuntuang, Batahi, Kansil, Raramenusa, Monasehiwu, David, Mokodompis, Araro’, Kahimbutu, Pontoh, Sarapil, Sariotamawiwi, dan lainnya yang menjalin hubungan dengan penduduk Banda Neira.

“Mutiara cokelat” adalah julukan pala di kalangan masyarakat saat ini. Pala dari wilayah Siau, Tagulandang, dan Biaro (SITARO) bahkan disebut-sebut pernah menempati peringkat kualitas terbaik kedua di dunia setelah Guatemala.

Masyarakat Kepulauan Sangihe dan Talaud kini turut menikmati hasil pala dengan harga yang cukup fantastis, sekitar Rp45 ribu per kilogram untuk pala mentah, bahkan pernah mencapai Rp78 ribu per kilogram. Dari segi kuantitas dan kualitas, hasil pala di tiap wilayah berbeda-beda, tergantung kondisi tanah dan iklim. Namun, sejak lama wilayah Siau, Tagulandang, dan Biaro dikenal memiliki keunggulan tersendiri.

Penulis: Vander Katinusa (Pemerhati budaya Sangihe)

Bagikan Artikel ini:

Artikel Terkait

Terpopuler Minggu Ini

#
Berita

Posyandu Kampung Utaurano Gelar Pemberian Vitamin A dan Obat Cacing, Masyarakat...

#

Profil Inspiratif: Mayske Angelica Takasihaeng, Perempuan Muda yang Berdikari dan Pantang...

#

Bupati Thungari Perjuangkan Keringanan Kredit, Suku Bunga ASN Sangihe Resmi Diturunkan

#

Upacara Adat atau/dan Ibadah Syukur

#

Bupati Thungari Sentil Tambang Rakyat: Demi Kesejahteraan, Pemda Wajib Hadir dan...

Artikel Terbaru