SMA Petra Sawang Jauh, Kecamatan Kendahe, menerima pengimbasan program Pembelajaran Mendalam melalui skema peer to peer, Kamis, (12/2/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari program yang telah berjalan sejak Januari 2026 di wilayah Cabang Dinas Pendidikan Sangihe.
Tiga guru pengampu mata pelajaran Ekonomi, Bahasa Inggris, dan Matematika mengikuti sesi tersebut. Meski berstatus sekolah non-sasaran, SMA Petra kini memperoleh akses yang sama dalam penguatan kapasitas pembelajaran.
Kegiatan difasilitasi tiga guru model, pengawas pembina, serta didampingi langsung Kepala SMA Petra Sawang Jauh, Aristol Lawendatu. Proses pengimbasan berlangsung di lingkungan sekolah dan diikuti dengan observasi serta diskusi praktik pembelajaran.
Lawendatu menyebut program ini sebagai langkah positif yang membuka ruang pemerataan mutu pendidikan. “Saya mengucapkan terima kasih atas terobosan program pembelajaran mendalam yang saat ini diimplementasikan ke semua sekolah, terlebih khusus ke SMA Petra Sawang Jauh,” kata Lawendatu saat ditemui di ruang kerjanya.
Menurut dia, sebelumnya program penguatan pembelajaran lebih banyak menyasar sekolah penerima Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Afirmasi. Sekolah di luar kategori tersebut, kata dia, kerap hanya menjadi penonton.
“Adanya kebijakan peer to peer telah membuka akses lebih luas. Ini mencerminkan asas keadilan. Nilai positifnya patut menjadi contoh bagi seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Utara,” ujarnya.
Ia menilai, tanpa pendekatan inklusif, implementasi program kementerian berpotensi menciptakan kesenjangan mutu antar sekolah. Fokus yang hanya pada sekolah tertentu, kata dia, dapat memperlebar jarak kualitas pendidikan di daerah.
Lawendatu mendorong agar konsep peer to peer tidak berhenti pada pembelajaran mendalam semata. Skema ini, menurut dia, dapat diperluas untuk peningkatan kompetensi guru lintas mata pelajaran dengan memanfaatkan potensi guru model di masing-masing bidang.
Pasca-pengimbasan, pihak sekolah berkomitmen memantau penerapan metode tersebut di seluruh kelas.
Lawendatu mengakui, berdasarkan observasi awal, sebagian guru masih berorientasi pada pencapaian indikator dalam modul atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), tanpa memberi perhatian memadai pada proses belajar.
“Pembelajaran mendalam bukan sekadar menuntaskan materi, melainkan bagaimana proses itu mendorong penalaran kritis. Guru perlu membangun pertanyaan yang memantik, dan siswa didorong aktif menyampaikan pendapat,” ujarnya.
Ia berharap, melalui skema berbagi praktik antar guru ini, kualitas pembelajaran di sekolahnya dapat meningkat secara merata.
(Artman)

